murniramli

Mental Uang

In Islamologi, Ramadhan, Renungan on September 4, 2012 at 1:41 pm

Uang memang menjadi kesenangan dan kenikmatan yang tidak pernah ditolak oleh manusia, bahkan tidak berhenti jiwa-jiwa mencarinya dengan cara bagaimanapun. Tak sedikit pula yang menganggap bahwa kalau ada uang, maka amanlah hidup ini.

Dengan uang yang ada di tangannya, seseorang dapat pergi ke manapun, tak khawatir akan kelaparan, tak hirau dengan tempat tinggal, sebab dengan uang dia dapat menginap di hotel manapun yang dia ingin.

Bahkan lazim sekarang, orang-orang dibeli kemerdekaannya memilih dengan uang. Para kandidat pemilu membagi-bagikan uang kepada rakyat agar kelak memilihnya.Para orang kaya membayar sejumlah uang kepada pejabat agar bisnisnya lancar, bahkan orang yang ingin menjadi pegawai negara, menyogok dengan uang demi kelulusannya.

Anak-anak kecilpun telah menjadi budak uang. Mereka bekerja, bergiat belajar, menjadi anak yang baik bukan agar mendapatkan pahala dari Allah, tetapi agar ayah dan emaknya memberinya uang jajan.

Tetapi uang tidak selamanya membahagiakan. Ada pula persaudaraan yang terputus karena masalah uang. Ada juga persahabatan yang mendadak menjadi renggang karena masalah uang.

Persahabatan memang seharusnya dibangun karena rasa cinta dan kasih sayang, bukan karena alasan uang. Jika dimulai dengan dasar kasih sayang, maka uang tak akan pernah menjadi pemicu konflik. Tetapi jika pada awalnya, persahabatan didasarkan pada derajat harta dan uang yang dipunyai, maka bersiaplah dengan pertengkaran dan permusuhan yang mengekorinya.

Sekalipun tahu bahayanya uang, tak banyak orang yang mencoba menghindarinya. Ketika seorang hamba berhasil mendapatkan uang, maka selanjutnya dia akan terus mencarinya, hingga menumpuk uangnya di dalam bisnis apa saja yang dibangunnya. Dalam kondisi demikian, tidak ada orang yang kapok mencari dan menumpuk uang. Bahkan ada pemahaman bersama, bahwa orang beruang (orang kaya) akan selalu mengayakan diri. Dan sangat jarang terdengar, orang beruang berusaha memiskinkan diri, kecuali yang menyadari betapa bahaya dan berat pertanggungjawaban memiliki uang banyak.

Renungan keduapuluh tujuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: