murniramli

Merendahlah

In Berislam, Ramadhan, Renungan on September 4, 2012 at 1:23 pm

Saya perlu menasehati diri pribadi agar senantiasa menjadi seperti padi, menunduk dan merendah ketika bulirnya semakin berisi, ke manapun dan di manapun saya ditakdirkan berada.Nasehat itu perlu disampaikan berulang-ulang karena saya adalah makhluk yang selalunya alpa.

Dalam pergaulan saya dengan beberapa orang, ada di antaranya yang ketika mulai berbicara langsung mendahulukan pangkat dan jabatan yang melekat padanya, ada juga yang menyebut-nyebut prestasinya. Ada juga yang membawa-bawa nama-nama si Anu pejabat sebagai kenalan akrabnya atau familinya. Ada juga orang tua yang mungkin tak sengaja membawa-bawa nama anaknya yang sudah menjadi orang.

Tetapi ada pula yang dengan santun menunggu saya memperkenalkan diri, dan pada gilirannya hanya menyebutkan namanya saja, padahal dia adalah orang yang sangat mulia dan terhormat dari segi ilmu dan kefakihannya.

Sifat mengagung-agungkan diri, dan enggan merendah di hadapan lawan bicara, sebenarnya adalah sifat dasar manusia yang tak ingin dikalahkan oleh kehebatan lawan bicara, sehingga apa yang seharusnya kita simpan sebagai pengetahuan internal, sebagai bentuk kerendahan hati, terbongkar karena ketidakmampuannya menahan diri.

Semua orang enggan mendengarkan hinaan dan menerima perendahan martabat, karenanya kadang-kadang dia harus berbohong menyembunyikan statusnya yang sebenarnya.Tetapi kebohongan adalah barang busuk yang pasti tak lama waktunya akan tercium baunya. Karenanya lebih baik meninggalkannya. Berhenti berpura-pura, dan memilih terus terang tentang kondisinya yang sebenarnya adalah lebih mulia, daripada mengharapkan pujian manusia.

Membanggakan diri biasanya dimiliki oleh anak-anak kecil, ketika dia berada di antara teman-temannya. Seorang anak pasti ingin menjadi idola, disukai banyak temannya. Karenanya dia kadang-kadang berbicara berlebihan. Orang dewasa katanya lebih dapat menahan diri. Tetapi, sebenarnya dalam kenyataan sehari-hari, banyak orang dewasa yang lebih kekanak-kanakan, dengan membangga-banggakan harta dan jabatannya.

Ketinggian derajat, kekayaan harta, kebagusan nama, dan kehormatan diri yang tertinggi hanyalah kepunyaan Allah. Apa-apa yang kita miliki sekarang tidaklah datang dengan sendirinya, tetapi dengan kehendakNya, maka itu semua dapat terjadi.Karenanya tidak pantas kita memmbanggakannya di hadapan sesama makhluk Allah, apalagi di hadapanNya kelak.

Renungan keduapuluh enam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: