murniramli

Berbisnis dengan Si Miskin

In Berislam, Ramadhan, Renungan on September 5, 2012 at 7:20 pm

Seandainya Anda memiliki sejumlah uang dan hendak menginvestasikannya dalam sebuah usaha/bisnis, dengan siapakah Anda akan berkongsi menjalankan bisnis itu?

Saya mengira-ngira bahwa sebagian besar orang akan menjawab, “dengan orang yang dapat dipercaya”. Lalu, kalau saya sederhanakan pertanyaannya menjadi, “Mana yang Anda pilih berbisnis dengan Si Miskin atau Si Kaya?” Maka jawabannya akan bervariasi tergantung kondisi si penjawab. Orang yang sudah terbiasa dalam dunia bisnis, dan memiliki banyak ragam usaha, tentulah akan memilih Si Kaya. Demikian pula orang yang baru saja terjun ke dunia bisnis, dan hanya punya harta seadanya saja, maka untuk kehati-hatian, tentulah dia akan mengajak Si Kaya yang lebih punya pengalaman, dan tidaklah akan hilang uangnya sebab kemungkinan dapat terganti kerugiannya oleh harta Si Kaya.

Lalu siapakah yang hendak berbisnis dengan Si Miskin?

Entahlah.

Berbisnis dengan Si Miskin adalah usaha yang harus dipenuhi dengan keikhlasan dan kerelaan.Keikhlasan tatkala mereka suatu saat kelak tak mampu memberikan keuntungan sebagaimana yang diharapkan. Kerelaan tatkala dia memerlukan uluran tangan untuk membantu kehidupannya yang papa. Bahkan senyum yang masih tersungging tatkala bisnis dengannya mengalami kebangkrutan.

Namun, di antara hamba-hambaNya yang senantiasa bekerja keras, ada sekelompok orang yang kuat iman dan malu hatinya meminta-minta, sekalipun dia adalah si faqir harta. Mereka mengharapkan penghidupan yang lebih baik melalui usaha dan kerja keras tangannya. Merekalah yang selayaknya diajak berbisnis. Merekalah yang seharusnya diberi modal untuk membangun usaha.

Pandangan manusia terhadap hartanya pastilah berbeda-beda. Ada yang menganggap harta yang dimilikinya adalah hasil banting tulangnya yang tiada terperi, sehingga dipegangilah harta itu, seakan tak akan dia lepaskan. Stress dan barangkali penderitaan lahir batin akan menimpanya, andaikan harta itu lenyap. Tetapi adapula yang memperoleh harta dengan mudahnya, sehingga bertumpuk harta itu, sangat pelit dalam mengeluarkan atau kehilangan sebagian hartanya. Dia hanya akan mengeluarkan hartanya dalam jumlah yang wah, tatkala itu diminta oleh pejabat ataupun ketika disiarkan oleh mas wartawan.

Sangat sedikit orang yang masih tersenyum ketika kehilangan hartanya karena menganggapnya, itu sejatinya bukan miliknya, tetapi milikNya. Kelompok yang demikian ini, tetulah ikhlas pula untuk berbisnis dengan Si Miskin. Karena berbisnis dengan mereka bukanlah keuntungan dunia yang diharapkan, tetapi keuntungan akhirat yang melimpah.

Negeri ini berisikan orang miskin yang lebih banyak jumlahnya daripada orang kaya. Mereka tidak pernah akan bangkit dari kemiskinannya jika tak dibantu oleh orang berpunya, baik harta maupun kekuasaan. Di antara mereka ada yang benar-benar pekerja keras, orang-orang yang bersih hati dan pikirannya, kuat iman dan keyakinannya kepada Sang Khalik Yang Maha Mengatur Rezeki.

Sudah saatnya kita berpihak kepada mereka ketika Allah memberikan kelebihan rezeki. Berilah mereka kail, dan jangan ikannya, demikian pesan Rasulullah SAW. Karena banyak juga orang miskin yang tak malu meminta-minta di jalan atau mendatangi rumah-rumah pada hari-hari tertentu. Mereka adalah orang yang diberi Allah kekuatan untuk bekerja, tetapi tak mensyukurinya. Mereka lebih suka menengadahkan tangan daripada memberi. Orang miskin seperti itu tak patut diajak berbisnis, tetapi mereka perlu dibimbing menjadi orang-orang yang beriman dan mau bekerja.

Renungan ketigapuluh

 

 

 

  1. Menarik sekali pembahasannya. Terima kasih banyak bu atas inspirasinya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: