murniramli

Sistem Pemantauan Siswa di Sekolah

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Penelitian Pendidikan, Serba-Serbi Jepang, SMA on September 27, 2012 at 10:57 am

Ketika jumlah siswa per kelas hanya 10 orang, maka tidaklah sulit bagi guru untuk melakukan pemantauan kemampuan, sikap, dan perilaku satu per satu siswa. Tetapi ketika satu kelas berjumlah lebih dari 20 atau 30, maka hanya guru-guru yang memiliki daya ingat yang kuat yang dapat menghafal satu per satu anak. Oleh karenanya, sistem pemantauan anak tidak bisa dikerjakan oleh satu orang guru, tetapi melibatkan staf sekolah secara keseluruhan.

Lalu, untuk apa mengetahui kemampuan satu per satu anak? Kegunaannya adalah untuk memudahkan mendidik mereka. Untuk dapat melaksanakan pendidikan yang optimal, yang berlaku adil untuk semua siswa, guru-guru di sekolah perlu bekerja keras. Kalau hanya sekedar menyelenggarakan pendidikan yang tidak memperhatikan kebutuhan satu per satu anak didik, maka sistem pemantauan tidak perlu dilakukan, dan cukup mengandalkan hasil rapor saja.

Tetapi, proses yang akan dijalankan selama mendidik siswa di sekolah sama-sama membutuhkan energi dan waktu. Alangkah sayangnya jika proses mendidik tersebut berlangsung biasa saja tanpa ada nilai lebihnya. Ibaratnya dua orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri dengan menggunakan pesawat yang sama. Satu orang selama perjalanan membaca buku, dan satu lagi tidur. Dengan asumsi, kondisi keduanya sama (sama-sama muda dan fit), maka secara mudah kita akan menilai, yang membaca buku akan mendapatkan nilai lebih ketimbang yang tidur, dari segi bertambahnya pengetahuan.

Demikian pula di sekolah. Guru-guru di sekolah manapun pada umumnya menjalankan ritme kerja yang sama. Mengajar, memeriksa PR/tugas, membuat soal, memeriksa hasil ujian, membuat rapor, dan rapat guru. Sesekali ada yang ikut seminar/pelatihan di luar sekolah. Karenanya guru yang sukses, adalah guru yang berhasil memanfaatkan waktu dan potensinya dengan baik.

Sistem pantau siswa yang selama ini dipergunakan adalah rapor semesteran. Salah satu isian yang dituliskan adalah penilaian terhadap sikap dan perilaku siswa, serta tentu saja perkembangan nilai akademiknya.

Tetapi sistem pantau berupa rapor hanya dapat diakses per enam bulanan, dan ini kurang dapat membantu guru dalam membuat model pembelajaran yang berorientasi perkembangan siswa. Oleh karena itu perlu dibuat sistem pantau yang bisa diakses harian. Modelnya bisa saja berupa buku pantau harian yang dapat diakses semua guru pengajar kelas bersangkutan, dapat pula file yang sudah dimasukkan dalam komputer.

Buku pantau tersebut berisi catatan tentang prestasi dan pencapaian harian anak, baik dari aspek kognitif, psikomotorik, maupun afektif-nya.Catatan dalam buku ini hanya boleh diketahui oleh guru-guru yang mengajar dan juga kepala sekolah, tetapi tidak untuk diekspos ke luar. Dengan pencatatan perkembangan anak seperti ini, maka seorang guru akan lebih memahami apabila ada siswa yang mengalami keterlambatan dalam memahami, atau ada anak yang sangat cepat menangkap pelajaran. Pada bagian tertentu dalam buku pantau, catatan yang khas perlu diblok agak mencolok, untuk menjadi perhatian semua pihak.

Sistem Pemantauan Siswa di sekolah juga dapat dipakai sebagai salah satu sistem kendali apa yang marak belakangan ini, yaitu tawuran pelajar.

Tentu saja, sistem pantau kemampuan anak akan menambah beban kerja guru dan staf lainnya, karena selain mengajar, guru juga perlu memberikan perhatian ekstra pada proses belajar yang dilaksanakan oleh siswa-siswa, demikian pula staf yang lain. Dan pekerjaan seperti ini akan semakin sulit jika jumlah siswa melebihi dua puluh orang per kelas, apalagi jika jumlah kelas puluhan per sekolah.

Sistem pemantauan siswa selama ini kurang diterapkan pada pendidikan yang bersifat massal dan lebih mengutamakan tercapainya tujuan kurikulum atau target pembelajaran. Tetapi, dengan permasalahan moral yang semakin memprihatinkan di kalangan siswa, saya kira semua komponen di sekolah perlu bahu membahu dengan keluarga siswa di rumah mengembangkan sistem pemantauan siswa.

Kelak, jika link sekolah dan keluarga telah terbangun, maka sistem pemantauan perlu diperluas dengan melibatkan masyarakat di lingkungan setempat. Kalau sudah mulai bergerak dengan pelibatan masyarakat, maka sasaran pertama adalah pemilik warung yang ada di sekitar sekolah🙂

  1. Sepakat bu. Pemantauan secara intensif dapat membantu guru untuk ‘mengenali’ siswanya. Tapi, seperti yang ibu katakan, sistem pantau akan menambah beban kerja guru dan staf lainnya. Alasan inilah, menurut saya, yang menyebabkan banyak guru meninggalkan kegiatan pantau-memantau ini.

  2. Saya setuju. Tugas guru tidak hanya mengajar, yang terpenting adalah mendidik. jadi pemantauan mutlak diperlukan.

  3. terimakasih atas postingannya,sangat membantu dalam memanajemen siswa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: