murniramli

Sekolah dan Masyarakatnya

In Manajemen Pendidikan, Manajemen Sekolah, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Penelitian Pendidikan, SMA on September 29, 2012 at 12:42 pm

Dalam konsep Manajemen Berbasis Sekolah dan dalam era desentralisasi daerah, maka sekolah harus dikembangkan berdasarkan potensi masyarakat. Potensi dalam tanda kutip dipahami atau diarahkan sebagai “uang”-nya masyarakat. Lalu, siapakah masyarakat itu? Inipun disimpulkan sebagai orang tua dari siswa-siswa di sekolah itu. Definisiya sedikit berkembang pada pengusaha di kota tersebut. Tetapi bukankah lagi-lagi yang dimaksud adalah “si pemilik uang”?

Saya pikir, pemaknaan “potensi” dan “masyarakat” dalam konsep MBS di negara kita barangkali telah salah persepsi, dan perlu diluruskan. Me-link-kan sekolah dan masyarakat sebenarnya bukan hal baru. Dewey sudah mengangkatnya pada awal abad ke-20, dalam bukunya The School and Society. Tetapi konsep Dewey agak berbeda, karena Dewey lebih menyoroti relevansi pembelajaran di sekolah dengan kondisi masyarakat, sementara SBM memfokuskan pada pengelolaan sekolah berbasis potensi (dukungan finansial) masyarakat.

Apabila “masyarakat” dimaknai sebagai sumber finansial semata bagi sekolah, maka tentulah ada “Sekolah Tanpa Masyarakat”, artinya sekolah yang tidak mendapatkan pendanaan dari masyarakatnya karena notabene siswanya adalah siswa dari golongan ekonomi lemah.

Oleh karena itu “masyarakat” dalam proses pendidikan di sekolah seharusnya diluruskan pemaknaannya sebagai lingkungan (orang, makhluk hidup, alam, aktivitas) yang ada di sekeliling sekolah dalam radius tertentu. Masing-masing komponen tersebut harus difungsikan dalam proses pendidikan di sekolah.

Karena kebanyakan anak yang bersekolah tinggal jauh dari lingkungan sekolah, maka orang tua si anak tidak bisa mengontrol ketika anaknya sudah berangkat dari rumah. Yang lebih memungkinkan memberikan kontribusi dalam proses pendidikan adalah warga yang ada di sekitar sekolah. Itulah masyarakat sekolah yang sesungguhnya.

Lalu, bagaimana memfungsikan masyarakat sekolah yang sesungguhnya? Salah satu fungsinya adalah menjadi pengawas siswa secara tidak formal. Bukan bantuan pendanaan yang terpenting dalam pengembangan sekolah, tetapi uluran tangan mereka untuk membantu bapak ibu guru membina siswa-siswanya.

Masyarakat sekolah dapat dijadikan sumber belajar bagi siswa. Kantor-kantor, bank, toko, bengkel hingga warung-warung yang ada di sekitar sekolah adalah tempat-tempat yang bisa menjadi sarana belajar siswa, asalkan pihak sekolah mengkomunikasikan ini terlebih dahulu kepada warga tersebut. Warung dan restoran menjadi tempat siswa belajar tentang jual beli, perbankan menjadi tempat belajar peredaran uang, toko sebagai tempat belajar bisnis, dll.

Namun, kenyataannya, kepala sekolah dan guru kebanyakan hanya berkonsentrasi di dalam sekolah, dan melupakan warga sekitar sekolah sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan. Ketika kepala sekolah baru ditunjuk di sebuah sekolah, langkah pertama yang dia lakukan adalah konsolidasi ke dalam, yaitu dengan para guru dan staf sekolah. Setelah itu konsolidasi ke luar. Tetapi konsolidasi ke luar yang dimaksud adalah menyambangi dinas P dan K, mendatangi pengawas sekolah, dll. Konsolidasi kepada warga yang sehari-harinya tinggal dan beraktivitas di sekitar sekolah, hampir tidak pernah dilakukan, padahal siswa-siswa menghabiskan waktunya pada jam istirahat, atau jam pulang sekolah di tempat-tempat tsb.

Masyarakat di sekitar sekolah, merekalah yang sebenarnya lebih mengetahui kehidupan siswa pasca sekolah sebelum dia sampai ke rumahnya.Barangkali mereka juga lebih tahu geng-geng siswa yang sering memicu tawuran.

Karenanya, pihak sekolah (kepala sekolah, guru, staf) hendaknya mulai memikirkan bagaimana merangkul sebanyak orang untuk membantu proses pendidikan siswa-siswanya.

 

  1. konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) baru dicoba rilis kenalkan itu = mengacu balik kembali zaman era lawas (dunia berputar), d/h. disebut kenal lingkungan = pasrawungan = pergaulan. itu budaya lokal ketimuran selama ini begitu lekat dengan tata cara pendidikan pembelajaran ala pesantren, tentu sahaja terasa asing dan di abai singkir kan oleh konsep nilai pembelajaran bernama sekolah (asli) berasal dari warisan penjajah bukan?

    jalan panjang mengubah pola pikir+pandang+rasa+kondisi ditemui sehari-hari dan selama ini telah terpaku di benak para pembelajar, yaitu : sekolah = kehidupan dunia ( membentuk ideal = impian = teori = atmosfer maya = das sollen) terpisah kondisi kan dari dunia alam nyata (fakta = apa adanya = praktek = masyarakat = das sein) mendera dan memenjara benak para guru semenjak dia sekolah s/d kuliah hingga di terima lamaran kerjanya menjadi guru kemudian diharapkan mengajar tularkan konsep baru MBS (manajemen berbasis sekolah), tentu ga’ berbeda jauh dengan ditafsir+persepsi kan selama ini men – cengkeram pola pikir+penglihatan+dirasakan historiografinya . . . “Potensi “uang”-nya masyarakat = orang tua dari siswa-siswa di sekolah itu.

    kecuali mereka benar-2 berani keluar dari penjara “histeria grafisnya & historia grafinya”
    berani membuka batok penutup /hijab berfikirnya alias berkenan belajar kembali, tiada terhenti pada memorabilia emosi “teguh pendirian telah & pernah” mendapatkan & belajar di era masa lalu… belajar selama hayat dikandung badan berkorban waktu+emosi & strata sosial adalah guru sejati, bukannya… sosok pendidik / guru sebatas dan “mereka/relawan” bukan guru itu selayaknya . . .

    yang belajar & mengetahui ilmunya (pedagogi), ogah menjalankan (-) nurani (+)job desk(++) salary ;
    yang menjalankan (++) nurani (- -) job desk, belajar dan tak mengetahui ilmu (pedagogi) nya (-)kuliah.
    dimana kondisi kedua-2-nya sama-sama “bodoh dan dibodohi apa membodohi” ya?

    itu semua kondisi di hulu s/d tengah dan hilir dan akhir dari semuanya akan ber muara pada

    sebenarnya apa to yang kita kehendaki &
    apa yang didapatkan dari sekolah dan kuliah ini?
    menanti kesadaran dan panggilan jiwa pendidik seorang guru begitu mulia dan
    menunggu murid sadar akan niat belajar untuk apa pembelajaran dan khasiatnya bagi diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: