murniramli

Belajar dari Hidup

In Renungan on Oktober 24, 2012 at 4:07 pm

Kalau dihitung berapa kilo jalan yang saya tempuh dalam seminggu, rasanya sudah ratusan kilo. Bolak-balik Solo, Yogya, Semarang, Madiun adalah tindakan yang kalau dipikirkan akan membuat lelah jiwa dan mengeluh yang banyak. Maka saya tak pernah memikirkannya, apalagi menyesalinya. Barangkali memang saya ditakdirkan Allah  dengan kondisi, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Kalau memikirkan capeknya dan kekayaan materi yang didapat dari proses bolak-balik tersebut, maka dada saya mendadak sakit. Jadi, saya berhenti memikirkannya. Hanya kepadaNya saya bermohon agar manusia berhenti mendzolimi sesamanya.

Beberapa waktu yang lalu, seorang dosen sepuh yang selalu menyambut saya dengan penuh gembira, kesenangan yang tidak dibuat-buat, dan penghormatan yang menurut saya tidak pantas saya terima, bercerita tentang kehidupannya yang mirip dengan apa yang saya alami sekarang. Saya merasa, tidak sendirian menjalani kehidupan yang “aneh” ini (menurut teman). Nasehatnya untuk bersabar dan kisah pengalamannya yang menakjubkan adalah penyulut semangat bahwa ada teman seperjuangan yang lebih berat berjuang.

Jika menyusuri jalan kampus dengan membawa buku-buku, laptop, kertas-kertas tugas dan ujian mahasiswa, rasanya pundak sakit sekali karena beban yang melewati batas. Tetapi saya telah melewati ujian yang lebih berat daripada itu di negeri orang. Maka insya Allah saya akan bisa melewatinya di negeri saya sendiri.

Dua hari lalu, saya merasa dada dan pundak yang sakitnya semakin menjadi, tetapi tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali hanya bisa memohon kasih sayangNya agar rasa sakit itu dihilangkan. Tiba-tiba ada mahasiswa yang tak saya kenal, menawarkan bantuan mengantarkan saya sampai ke tempat menunggu bis. Samar-samar saya mendengar dia menyebut namanya Eng. Alangkah pemurahnya Allah, dan alangkah berkeluhkesahnya saya.Sepanjang perjalanan kami bercakap, dan saya meyakini dia adalah anak yang sangat baik, dan telah dididik oleh orang tuanya untuk menjadi anak yang pemurah. Betapa bahagianya dia dan orang tuanya.

Saya selalu berprinsip bahwa apa yang saya alami adalah pelajaran hidup untuk menjadi lebih bijak dan pemurah. Bahwa karena saya sudah mengalami rasa sakit yang menyiksa dengan membawa barang bawaan dan berjalan cukup jauh, maka saya semestinya harus menolong siapapun yang mengalami hal yang sama.Kalau saya ada motor, maka saya harus menawarinya tumpangan, seperti si anak yang baik tadi, yang menawari saya tumpangan. Kalau saya punya mobil, maka saya akan merelakan kursi kosong di mobil saya untuk membawanya ke tempat tujuannya.Kalau tak ada kendaraan, maka saya akan membawakan barangnya sambil berjalan kaki. Semestinya begitulah bersyukur itu.

Beberapa hari lalu, saya membaca Novel Emak-nya Pak Daud Yusuf. Saya membacanya dengan perasaan yang bergolak, dan mempelajari banyak hal tentang kearifan yang seharusnya dimiliki manusia. Emak, yang tidak menempuh pendidikan apapun, memiliki kepekaan luar biasa pada alam. Setiap kali dia melahirkan, dan anaknya sudah agak besar, maka berangkatlah ia ke hutan untuk menanam pohon kemiri. Prinsip dan cara berpikirnya sangat sederhana. Karena dia telah memakan buah kemiri yang ditanam oleh orang-orang sebelumnya yang tak dikenalnya, maka sebagai ucapan terima kasih dan agar anak cucunya kelak dapat menikmati kemiri-kemiri tersebut, dia selalu menanam kemiri. Apa yang kita ambil dari alam, maka bijaknya kita kembalikan ke pangkuan alam dengan cara yang lebih baik.

Kepekaan demikian sudah sangat jarang dimiliki saat ini. Ketika naik kereta, tak ada yang beringsut memberi tempat duduk kepada wanita hamil. Hanya ibu-ibu yang pernah merasakan beratnya penderitaan orang hamil yang rela menawarkan kursinya. Saya kadang-kadang berpikir, apakah kalau laki-laki diberi kesempatan hamil, mereka akan lebih peduli kepada perempuan hamil ?

Seorang atasan meminta anak buahnya mengerjakan ini itu. Yang sudah dibuat, dimintanya mengulanginya lagi karena kesalahan yang hanya berupa koma. Anak buahnya disuruh ke sana kemari, dan belum pernah sedikit pun bos berpikir bahwa anak buahnya adalah manusia sepertinya, bukan robot. Dia meminta anak buahnya membelikan makanan, sesudah datang anak buahnya tergopoh-gopoh mengantarkan makanan pesanan, yang keluar dari mulut atasan, bukannya ucapan terima kasih yang bisa mengobati rasa capek si anak buah, tetapi kalimat ketidaksenangan pada makanan yang dibeli. Bukan seleranya, katanya! Tetapi, makanan habis juga pada akhirnya. Kadang-kadang saya berpikir, bos harus bertukar tempat menjadi bawahan, agar dapat dia merasakan bagaimana disuruh-suruh oleh orang lain. Yang sering dilakukan adalah menyuruh bawahan tanpa menghitung waktu untuk mengerjakannya. Saya tidak ingin menjadi bos seperti itu, karena saya telah merasakan penatnya badan sebagai bawahan.

Banyak hal dan kesempatan yang telah diberikan Allah SWT kepada kita, dan semestinya kita tidak mengulangi yang dampaknya buruk bagi sesama manusia.

  1. Membaca tulisan bu murni ternyata ada beberapa hal yang sama yang saya alami bu.. kadang ingin sekali mengeluh, tetapi masih ingat bahwa hidup ini akan semakin terasa susah kalau kita hanya mengeluh, tetap sabar dan tawadlu ketika kita di posisi “rendah” di mata manusia akan membuat diri kita menjadi berharga di mata Alloh swt..itu yang menjadi motivasi saya bu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: