murniramli

Kacang Hijau Lagi !

In Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan Sains, Pendidikan Tinggi, Serba-Serbi Jepang, SMA on November 5, 2012 at 9:28 am

Sewaktu duduk di SD, SMP atau SMA, dalam mata pelajaran Biologi, materi pengaruh cahaya dan air terhadap lingkungan, bagaimana model praktikum yang diberikan kepada Anda?

Praktikum mempelajari pengaruh cahaya dan air terhadap pertumbuhan tanaman adalah materi yang sangat mendasar, dan sangat mudah dilakukan. Saya masih ingat, guru menggunakan biji kacang hijau. Barangkali karena mudah didapat, atau karena secara umum, anak-anak mengenal tauge sebagai bahan sayur yang sering muncul di meja makan. Atau alasan lain, karena seperti itu yang tertera dalam buku pelajaran/buku panduan.

Dalam beberapa perkuliahan yang saya pernah ampu, khususnya yang terkait dengan strategi pembelajaran, penyusunan RPP, atau evaluasi pembelajaran Biologi, lagi-lagi mahasiswa menyusun praktikum yang sama, dengan menggunakan bahan yang sama.

Teknis atau langkah praktikumnya pun sama :
1. Siapkan cawan petri
2. Basahi kapas, letakkan di atas cawan petri
3. Letakkan biji kacang hijau di atas kapas basah
4. Letakkan di tempat yang gelap dan satu lagi di tempat yang terang

Saya sering iseng menanyakan kepada mahasiwa, bagaimana kalau langkahnya saya ubah : air diisikan ke cawan petri, lalu kapas diletakkan di dalam cawan yang berisi air tersebut? Atau bolehkah saya mengganti kapasnya dengan kertas? Atau dengan air saja? Atau saya ganti kacang hijaunya dengan biji yang lain? Kemudian, apakah tempat yang terang bisa saya artikan dengan tempat yang ada cahaya, dan pencahayaannya bisa dari lilin?

Mahasiswa pasti akan terpecah menjadi dua kelompok, yaitu yang mengatakan boleh, dan yang mengatakan tidak boleh. Alasan kedua kelompok pun masuk akal, yaitu boleh karena hasil akhirnya tetap sama, dan tidak boleh karena menyalahi prosedur kerja praktikum. Lalu, kalau saya sambung pertanyaannya, jika ada siswa yang melakukan “keisengan” seperti di atas, berapa skor Keterampilan Proses Sains (KPS) yang akan kalian berikan kepadanya? Tentu ada yang menjawab nol, karena siswa bersangkutan tidak mengikuti prosedur, dan ada pula yang memberinya nilai delapan atau sembilan karena dia sangat kreatif.

Saya teringat dengan pengalaman bekerja part time di sebuah toko donut di Jepang. Pekerjaan saya di dapur adalah mempersiapkan donut, mulai dari memanggang hingga memberi hiasan. Salah satu donut yang harus saya buat adalah sugar cream, dengan prosedur sbb :
1. Donut ditata dalam tray secara vertikal
2. Dibuat satu lubang di tengah pada bagian keliling donut dengan menggunakan alat tusuk kaca
3. Cream yang sudah disiapkan sebelumnya dimasukkan ke dalam plastik segitiga yang biasa dipakai menghiasi kue dengan cream. Ujung plastik sudah dipasangi corong kecil
4. Cream dimasukkan ke lubang yang disiapkan
5. Gula halus ditaburkan ke permukaan donut, setelah semua donut satu tray selesai diisi.

Agar cepat, saya sering iseng dengan mengubah langkah ke-5 menjadi lagkah ke-2, dan langkah ke-2 tidak saya kerjakan, tetapi langsung memasukkan cream dengan membuat lubang dari ujung corong yang ada pada plastik segitiga yang berisikan cream. Hasilnya memang kadang-kadang cream masuk dengan sukses, tetapi lebih sering, cream menggembung di tengah, dan menyebabkan permukaan donut pecah. Atas tindakan iseng tersebut, tentu saja saya mendapatkan ceramah panjang lebar dari manajer, yang mengocehkan rentetan petuah, keharusan mengikuti prosedural kerja yang sudah ditetapkan perusahaan.

Memang benar adanya. Prosedural kerja dalam dunia usaha, terutama yang terkait dengan pembuatan sebuah produk sangat ketat, dan untuk menjamin produk yang non cacat, maka semua harus mengikuti prosedur tersebut dengan patuh dan disiplin.Di Jepang, prosedur kerja yang standar, dan kedisiplinan mematuhinya adalah kunci utama produksi barang bermutu.

Sementara prosedur praktikum dalam kasus tertentu, akan sangat ketat aturan, artinya prosedurnya tidak dapat diubah, namun dalam pengertian menjadikan sains sebagai sebuah pengetahuan menyenangkan dan bisa dilakukan di manapun dengan segala “keisengan” yang beralasan, maka apa yang dilakukan oleh siswa-siswa yang berpikiran “iseng” patut mendapat pujian dan arahan dari guru.

Kebebasan pikir dan daya imajinasi yang dibiarkan lepas untuk memahami sains adalah sebuah kemutlakan untuk mendekatkan dan meningkatkan peminatan siswa terhadap sains. Dalam banyak penelitian, disimpulkan bahwa minat dan kesenangan pada sains akan mendorong prestasi belajar sains yang lebih baik.

Tentu, akan sangat menyenangkan bagi anak-anak apabila mereka diberi kebebasan dalam mengkreasikan eksperimen, dan menjadikan sains sebagai sesuatu yang dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja.

  1. KREATIFITAS MENJADI BARANG LANGKA DI NEGERI INI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: