murniramli

Kontaminasi Beras : Sebuah Kepedulian di Indonesia dan di Jepang

In Serba-serbi Indonesia, Serba-Serbi Jepang on Januari 7, 2013 at 8:42 am

Akhir-akhir ini, Mamak sering memasak beras merah sebagai ganti beras biasa/putih yang sering kami konsumsi. Rasa beras merah yang dimasak mamak, sangat enak. Tetapi berbeda dengan beras biasa, beras merah yang dibeli kadang-kadang kurang bersih, dan masih bercampur tanah.

Tidak hanya beras merah yang tercampur, tetapi beras jatah yang adik sering dapat dari sekolah pun mesti ditapis terlebih dulu oleh mamak. Untungnya mamak termasuk orang yang masih suka dengan teknik konvensional, yaitu menapis beras dengan menggunakan tapis bundar besar yang kalau tidak salah dibawanya dari Bone, Sulsel.

Menjual beras yang masih kotor atau tercampur dengan tanah, pasir, kerikil, sekam, bahkan benih lain, atau bahkan butiran pupuk, sebenarnya tidak diperbolehkan kalau semua mengikuti standar beras jual yang ditetapkan pemerintah. Tetapi di pasar, sedikit sekali jaminan keamanan yang diberikan kepada konsumen, dan juga sedikit sekali protes yang dilakukan oleh konsumen. Kalau membeli beras curah di pasar, maka kualitas kebersihan beras sangat tergantung pada harga yang ditawarkan.

Yang lebih meresahkan adalah bahwa tidak ada label kemasan beras yang menjelaskan tentang kualitas, tanggal panen, kadaluwarsa, kandungan air, bobot bersih, dan tempat produksi beras yang dijual. Sehingga pembeli kadang-kadang memutuskan beras yang dibeli hanya dengan pertimbangan yang diberikan oleh penjual, dan itu biasanya diputuskan berdasarkan beras yang paling laku dibeli. Paling laku identik dengan beras itu enak. Padahal, boleh jadi penjual beras sejatinya belum pernah mencicipi rasa beras tersebut.

Kontaminasi beras dengan benda-benda non beras sesuai jenis yang dijual, sebenarnya merupakan kerugian bagi konsumen. Namun, penikmat nasi di Indonesia barangkali belum menjadikan kualitas nasi sebagai menu utama. Nasi, sekalipun menjadi makanan pokok, tidak dianggap penting, dan yang lebih penting adalah lauk pauknya.

Jika nasi sudah dianggap penting, dan menjadi penentu kenikmatan makan, maka tentu kita akan merasa terpuaskan dengan makan nasi panas yang hanya ditambahi sambal saja. Atau cukup diberi taburan abon saja. Atau seperti ketika saya masih kecil dulu, Mamak sering menyuguhkan nasi panas yang diberi butiran garam besar (tidak beryodium pula), lalu diberi minyak kelapa asli. Itu adalah lauk yang kami dapatkan kalau kebetulan ikan tak terbeli. Tetapi, entah kenapa menu seperti itu sangat nikmat di lidah🙂 Saya ingat betul, nasi yang disuguhkan adalah nasi terbaik di tanah bone, yang rasanya agak manis di mulut, dan harum baunya. Ase (padi) Anak Dara, namanya. Sekarang tidak ada lagi di pasaran dan bahkan petani tak punya benihnya.

Menganggap nasi sebagai penentu kenikmatan makan juga merupakan prinsip orang Jepang. Makan nasi adalah budaya bagi orang Jepang, dan menu sarapan di Jepang adalah nasi panas, plus ume boshi (buah plum kecut), atau ditaburi furikake (semacam abon ikan), atau ditaburi natto (kedelai fermentasi yang berlendir). Dalam menu makan siang atau malam, nasi kadang-kadang disuguhkan belakangan, dan dimakan tanpa campuran apapun. Jadi, dengan cara makan seperti ini, akan sangat terasa, mana nasi yang enak, dan mana yang tidak.

Karena menganggap beras adalah makanan wajib, maka tak heran perhatian masyarakat terhadap produk beras yang dipasarkan sangat intens, bahkan cenderung kritis.Tahun 2008, ketika saya masih berada di Jepang, ada sebuah kasus kontaminasi beras yang sangat mendunia, karena banyak orang tidak menduga, Jepang yang sangat ketat dalam pengawasan makanan, ternyata juga memiliki kasus kontaminasi beras.

Sekitar bulan September 2oo8, Perusahaan Mikasa Food, penjual beras di Osaka, mengumumkan bahwa berton-ton beras yang mereka pasarkan tercampur dengan pestisida. Kasus ini menjadi berkepanjangan karena Mikasa Food mengumumkan sekitar 370 perusahaan makanan dan minuman membeli beras itu, untuk diolah menjadi aneka penganan, termasuk senbei (cracker beras) yang menjadi kesukaan orang Jepang, dan juga dijadikan sake. Bahkan yang lebih memprihatinkan, beras tersebut juga telah dibeli oleh 100 rumah sakit, panti jompo, dan sekitar 46 sekolah (untuk lunch). Karenanya protes keras datang dari berbagai kalangan.

Mengapa sampai terjadi kontaminasi beras dengan pestisida di Mikasa?

Ceritanya berawal dari Jepang yang menandatangani perjanjian dengan WTO tahun 1995, yang menyebabkan keharusan Jepang membuka kran impor beras. Akhirnya sebanyak 700 ribu ton beras harus diimpor setiap tahun dari US, Cina, Thailand, Vietnam, dan Australia. Tetapi lidah orang Jepang sebenarnya hanya bisa dipuaskan dengan beras Jepang yang mereka tanam di lahan sawah Jepang, akibatnya beras-beras impor tersebut tertimbun di gudang. Pemerintah menemukan bahwa pada tahun 2006 terdapat 2790 ton lebih beras yang telah terkontaminasi oleh pestisida methamidophos, dan sebagian besar telah dijual kepada industri.

Perusahaan Mikasa food sebenarnya mengetahui kondisi ini, tetapi mereka tetap membeli beras tersebut dari pemerintah, karena harganya murah, dan ada masalah kebangkrutan yang mengintai mereka. Setelah Mikasa Food mengakui, maka ada beberapa perusahaan lagi yang diketahui membeli beras yang rusak tersebut. Kementrian Pertanian Jepang pada masa itu bergerak cepat untuk memeriksa perusahaan yang dicurigai dan mengeluarkan pengumuman kepada rakyat untuk tidak mengkonsumsinya lebih lanjut.

Demikianlah, perlindungan dan kepedulian kepada masyarakat terhadap kelayakan asupan pangan mereka sangat tergantung pada kemajuan negara bersangkutan. Dan satu hal yang tidak dapat ditolak, bahwa hal-hal penipuan konsumen pun bisa terjadi di negara maju dan yang dicap berbudaya sekalipun, seperti halnya Jepang.

  1. wah detail dan peduli sekali pemerintah ya dgn pangan (beras), aku suka kalimat in Tetapi lidah orang Jepang sebenarnya hanya bisa dipuaskan dengan beras Jepang yang mereka tanam di lahan sawah Jepang. salam kenal🙂

  2. Reblogged this on suruppencilakan and commented:
    salam kenal

  3. tapi itu bukan berarti kita harus memaklumi apa apa yang tejadi di negara kita kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: