murniramli

Calon Guru dan Sekolahnya

In Manajemen Sekolah, Pendidikan Biologi, Pendidikan Tinggi on April 10, 2013 at 8:14 pm

Dalam salah satu perbincangan dengan seorang rekan dosen senior, terbersit sebuah ide yang menurut saya sangat brilian, sekalipun pelaksanaannya barangkali sulit. Hari itu, di sela-sela mengawasi seorang mahasiswa yang sedang melakukan mikroteaching, kami mengobrol tentang bagaimana agar calon guru menjadi lebih profesional saat menjadi guru nantinya.

Semua profesi tentunya memiliki tempat kerjanya sendiri-sendiri, dan tempat kerja guru adalah sekolah. Apabila semua orang yang sedang menempuh pendidikan sudah mengetahui di mana kelak dia akan bekerja, maka sudah seharusnya mereka harus lebih dekat dan lebih mengenali tempat kerjanya.

Seorang pemuda yang hendak bekerja di peternakan, maka sudah seharusnya dia sejak awal mulai rutin mengunjungi peternakan, yang bercita-cita menjadi pelayan restoran bahkan pemilik restoran, sudah seharusnya membiasakan diri mendatangi restoran. Jadi, kalau begitu, seorang calon guru harus sering-sering mengunjungi sekolah sebagai tempatnya bekerja kelak.

Nah, kalau dihitung-hitung, mahasiswa S1, calon guru ternyata hanya mengunjungi sekolah pada saat mereka PPL atau ketika riset tugas akhir, yang lamanya maksimal 3 bulan. Selebihnya mereka mempelajari sekolah dari buku dan ceramah dosen di bangku kuliah.

Dosen senior tersebut membandingkan hal ini dengan mahasiswa yang kelak akan menjadi dokter. Mereka sejak semester satu telah diwajibkan mendatangi puskesmas, dan pada akhirnya rumah sakit. Perkerjaan sebagai tenaga medis tentu saja memerlukan keterampilan yang berbeda dengan pekerjaan guru.  Seorang dokter akan bekerja mempertaruhkan nyawa manusia, sehingga resiko skill yang tidak memadai akan berakibat fatal. Berbeda dengan guru. Apabila skill-nya kurang memadai, tidak sampai akan mengakibatkan kematian muridnya. Oleh karena itu, barangkali kunjungannya ke sekolah lebih minim🙂

Ide teman tersebut menurut saya masuk akal. Tetapi untuk bisa mewujudkannya, yaitu memberikan porsi kunjungan ke sekolah lebih banyak lagi kepada para calon guru, maka ini akan berdampak pada cost yang membengkak. Sebab kunjungan ke sekolah kelak tidak bisa digratiskan karena perlu membayar dosen dan guru pembimbing atau malah membayar pihak sekolah.

Bahwasanya calon guru harus lebih banyak mengenal sekolah, memahami orang/pihak, materi, barang, sistem, dan permasalahan yang dihadapi dalam pekerjaannya kelak, saya sangat mendukungnya. Namun, bagaimana penerapannya sehingga tidak memberatkan semua pihak yang terlibat, perlu dipikirkan sistemnya.

Untuk mewujudkan program di atas, yang perlu dilakukan adalah membangun networking yang baik dengan dinas pendidikan setempat, konsorsium sekolah swasta, kanwil departemen agama yang membawahi madrasah, dan tentu saja dengan pejabat sekolah dan guru di sekolah.

Beberapa perguruan tinggi sebenarnya telah membuka kesempatan ini melalui pembentukan sekolah afiliasi atau sekolah percobaan, tetapi inipun tidak sebanding dengan jumlah calon guru yang akan magang di sekolah tersebut. Oleh karena itu, mau tidak mau, universitas perlu menjalin kerjasama dengan pihak luar.

Lalu, jika mahasiswa calon guru dibebankan magang  ke sekolah setiap minggu atau ekstrimnya setiap hari, apa yang harus mereka kerjakan di sana agar benar-benar bisa belajar? Tentu saja, proses yang berlangsung di sekolah harus direkam oleh mahasiswa melalui lembar observasi atau log book. Jika memungkinkan mahasiswa menjadi asisten pengajar (yang ini dapat dilakukan setelah beberapa kali kunjungan, dan mahasiswa sudah mulai familiar dengan kondisi dan atmosfer sekolah. Keputusan tentang hal ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan dosen pembimbing dan guru pembimbing). Atau guru pembimbing dapat menugaskan mahasiswa membantu menangani kasus keterlambatan belajar sejumlah siswa.

Di beberapa sekolah yang kekurangan guru, program seperti ini tentu akan sangat membantu keberlangsungan proses belajar mengajar, dan pada kondisi demikian, tentu saja mahasiswa akan lebih sibuk, daripada mahasiswa yang magang di sekolah yang sudah mapan dan modern.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kurikulum yang harus disiapkan untuk mendukung program tersebut.Setidaknya kurikulum tersebut harus diawali dengan mata kuliah umum dasar tentang manajemen sekolah, keterampilan mengajar, perkembangan peserta didik, dan berbagai atribut keilmuan yang terkait.

Banyak yang perlu dipersiapkan memang, tetapi jika tujuannya benar-benar untuk mencetak tenaga pendidik yang profesional, maka pihak pencetak guru (LPTK) perlu memikirkan, dan selanjutnya mewacanakan terobosan ini.

  1. Guru dan dokter ada jasanya masing-masing dan semua penting. Tapi mari kita renungkan, mana yang lebih mengerikan, matinya tubuh atau matinya jiwa? Rusaknya tubuh atau rusaknya mental, karakter, dan akhlaq? Mana yang lebih mengerikan, serangan wabah penyakit fisik atau serangan terhadap peradaban? Sakitnya badan hanya dirasakan di dunia sedangkan sakitnya jiwa bisa dibawa hingga ke neraka. Na’udzubillah min dzalik.

    Tentang besarnya biaya dan siapa yang akan menanggung sebenarnya perkara yang mudah jika negara cukup “waras” untuk menganggap bahwa pendidikan adalah investasi yang paling penting untuk kemajuan sebuah bangsa. Bahkan bisa menentukan hidup matinya bangsa itu. Jika demikian, negara akan ringan mengeluarkan biaya itu, berapa pun besarnya karena SERIUS dan PENTING.

    Sayangnya kapitalisme dan neoliberalisme telah mengambil alih kendali negeri ini sehingga walau sebenarnya kaya raya tapi mati kelaparan. Seorang ulama mengungkapkan kondisi seperti ini dengan syairnya:
    Seperti unta yang mati kehausan
    Sementara ia membawa air di punggungnya.

    Maka satu-satunya jalan adalah dengan menyingkirkan kapitalisme dan neoliberalisme lalu menggantinya dengan sistem yang digali dari ajaran Allah, Pencipta manusia semua yang Maha Adil. Itulah syariah yang diterapkan dalam bingkai Khilafah Islamiyah.

    Maaf jika terlalu jauh, tapi memang itulah solusi yang tuntas yang tidak terjebak dalam lingkaran setan.

  2. Saya sendiri adalah Mahasiswi IKIP. selama saya berkuliah di IKIP, saya merasa kurang banyak tahu tentang sekolah dan segala tetek bengeknya. Akibatnya, Banyak calon guru yang gagap saat akan terjun ke sekolah. Terhitung, saya terjun ke sekolah hanya pada saat PPL ( Praktek lapangan),dan jelang Tugas akhir untuk keperluan penelitian, itu pun pada akhir-akhir semester. Saya setuju kalau mahasiswi IKIP harus lebih awal terjun ke sekolah agar lebih paham tentang dunia pendidikan. Semoga ada orang-orang yang mau mengubah sistem pengajaran di Perguruan Kependidikan lebih baik lagi. Terimakasih, tulisan bagus!! very inspiring.^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: