murniramli

Desa Makmur, Pendidikan Tertinggal

In Administrasi Pendidikan, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Sains, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan on April 12, 2013 at 8:56 pm

Baru-baru ini saya berkesempatan mengunjungi beberapa sekolah di Pulau Lombok, dan bertemu dengan guru dan siswa di sana. Saya sudah sering mendengar keelokan pulau ini, pun membaca berita dan kabar bahwa turis  sekarang mulai beralih ke Lombok ketimbang Bali.

Dalam kunjungan lima hari tersebut, kami (saya berdua dengan teman) boleh dikatakan berhasil berkeliling pulau, dan mendatangi semua kabupaten yang ada. Sebenarnya kunjungan tersebut bisa dikatakan kegiatan sambil menyelam minum air. Sebab, tujuan utamanya adalah monitoring mahasiswa pasca sarjana yang sedang riset, dan kami menambahkan kegiatan sampingan berupa riset dan pengabdian. Kegiatan riset ada dua, yaitu eksplorasi kentang hitam yang merupakan riset yang sedang saya kerjakan dengan seorang rekan dosen lainnya, dan satu lagi riset tentang pengembangan pendidikan sains di daerah tertinggal. Adapun kegiatan pengabdian berupa diskusi pembelajaran sains di Indonesia dan di Jepang, yang kami sampaikan di hadapan guru-guru IPA SMP se-Kab. Lombok Tengah, dan berlangsung di SMP 2 Praya.

Dari semua tempat yang saya kunjungi, saya sangat terkesan dan terenyuh dengan kunjungan ke SD 2-SMP-SMA SATAP Mekarsari yang terletak di Dusun Mekarsari, Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat. Desa Mekarsari sebenarnya tidak jauh dari ibukota Mataram, hanya satu jam perjalanan dengan mobil. Tetapi gap kehidupan dan kualitas pendidikan sangat besar.

SD yang kami kunjungi bisa dicapai dengan mobil melalui satu-satunya jalan kecil yang berbatu dan licin pada saat musim hujan, yang merupakan jalan utama desa. Siswa yang bersekolah di sekolah tsb adalah anak-anak dusun Mekarsari yang tinggal dekat atau sangat jauh dari sekolah. Yang memiriskan adalah kebanyakan anak hanya memiliki satu seragam, satu atau dua buku tulis yang dimasukkan dalam tas kresek atau plastik agar tak basah ketika hujan turun. Ada yang bersepatu adapula yang  bersandal saja. Menurut guru yang kami wawancarai, SPP, seragam, buku, dan tas digratiskan untuk mereka.

Menurut penjelasan mahasiswa yang mengantar kami, tak sempurna kalau kami berkunjung ke Mekarsari jika tak berkunjung ke Ketua komite sekolah yang sekaligus adalah kepala dusun. Maka bergeraklah mobil kami ke jalan menanjak menuju rumah Pak Kadus. Waktu menunjukkan hampir pukul 12.00, dan di sepanjang jalan, kami menyaksikan anak-anak kecil mandi di sungai tepian jalan yang bersih. Ya, mereka adalah siswa-siswa SD yang pulang sekolah. Sebelum sampai di rumahnya yang jauh yang harus ditempuh dengan berjalan kaki, mereka mampir menyegarkan diri dulu di sungai jernih tersebut.

Jalan menuju rumah Pak Kadus tidak bisa ditempuh dengan kendaraan, sehingga terpaksa kami turun dan berjalan kaki. Jalan menanjak lagi, dan hanya berupa jalan setapak. Kira-kira 15 menit berjalan kaki, sampai juga kami di sebuah rumah permanen dan disambut dengan ramah oleh Pak Mahlin. Dialah kepala dusun yang dianggap sangat berjasa dalam membangun pendidikan di desanya.

Sambil menikmati kopi khas Lombok, dan air kelapa yang mendadak dipetik dari pohonnya, Pak Mahlin bercerita tentang perjuangannya. Ternyata sebelum SD 2 dibangun, Pak Mahlin sudah mengkoordinir masyarakat membangun SD 3 dan 4 Mekarsari yang letaknya ada di puncak gunung. Rencananya, rombongan kami akan menengok SD tersebut, tetapi cuaca kurang memungkinkan, sehingga perjalanan ke sana tidak dilanjutkan. Jadi, kisah tentang kedua SD tersebut hanya kami dapatkan dari pendirinya, Pak Mahlin.

Satu hal yang menggelitik adalah apa alasan Pak Mahlin membujuk masyarakat agar mau menyumbangkan tenaga dan materi untuk membangun kedua SD tersebut? Pak Mahlin ternyata tidak pernah lulus SD. Masa kecilnya sangat memprihatinkan, berangkat sekolah sambil memanggul kayu bakar, mampir ke pasar untuk menitipkan kayu bakarnya kepada penjual, lalu melenggang ke sekolah. Pulangnya, kadang-kadang dia membawa belanjaan dari pasar titipan ibunya. Jarak jauh yang harus ditempuhnya pada masa bersekolah, mendorongnya untuk mengajak masyarakat bersatu membangun sekolah dasar untuk anak-anak mereka. Maka berdirilah SD 3, selanjutnya SD 4 , yang kemudian ditetapkan sebagai sekolah negeri. Pada mulanya, anak-anak di dusun tersebut menggunakan rumah Ust.Bahrum, salah seoang tokoh masyarakat setempat dan sekaligus guru- sebagai tempat belajar, sebelum gedung sekolah mereka yang sederhana berhasil dibangun. Pertambahan jumlah peserta didik mendorong mereka akhirnya membat juga SD 2, yang kemudian dijadikan sekolah satu atap dengan SMP dan SMA yang baru-baru ini didirikan.

Saya terkagum-kagum pada semangat Pak Mahlin. Atas keuletannya, beberapa kali beliau mendapatkan kesempatan mewakili Lombok untuk mengikuti pelatihan di Jawa, bahkan keberaniannya mendorongnya untuk menemui langsung pejabat daerah, dan “memaksa” mereka untuk mengunjungi sekolahnya.

Dari cerita mereka, kami pun mengetahui bahwa mayoritas penduduk adalah petani aren, yang mengolah arennya menjadi gula merah. Saya yang penggemar gula merah sempat dioleh-olehi gula merah harum lagi bersih, tidak seperti gula merah yang banyak dijual di Jawa. Di jalan kami sempat melihat, tanaman padi gogo rancah, jagung, kacang, ubi jalar, dan juga kentang hitam atau kentang sabrang. Kesemuanya belum dimanfaatkan secara lebih modern atau diolah menjadi produk yang bernilai ekonomis.

Penghasilan warga dari panenan aren lumayan, dan memang terlihat rumah-rumah permanen penduduk yang lumayan bagus, menandakan ekonomi yang cukup baik. Namun, sayangnya kesadaran warga terhadap perlunya pendidikan masih tergolong rendah.

Ibu guru yang kami wawancarai mengatakan bahwa setiap habis lebaran, siswanya bisa berkurang tujuh orang, yang meninggalkan sekolah karena harus menikah muda. Masyarakat setempat belum melihat manfaat pendidikan, dan berpikir bahwa anak gadis harus segera dinikahkan, dan anak lelaki harus sesegera mungkin membantu mereka memanen aren. Pandangan ini sulit berubah sekalipun sekolah sudah digratiskan dari jenjang SD hingga SMA.

Saya kira masyarakat sebenarnya dapat diubah mindset-nya, asalkan ada upaya dari banyak pihak. Dari pemerintah perlu mengeluarkan aturan hukum tentang kewajiban menyekolahkan anak minimal pendidikan dasar. Sebagaimana yang pernah saya amati di Jepang, negara memberlakukan hukuman yang keras kepada orang tua yang tidak mengirim anaknya ke sekolah. Sebenarnya Pak Mahlin pernah menerapkan hukuman, yaitu wajib membayar denda bagi orang tua yang menikahkan anaknya sementara anak masih bersekolah. Namun aturan ini banyak dilanggar. Upaya lain yang bisa dilakukan adalah sebanyak mungkin melibatkan orang tua dalam aktivitas di sekolah, sehingga mereka tidak merasa asing, dan mengetahui manfaat anak-anak belajar, dan menjadi terdidik.

Terkait dengan pendidikan sains di SD, SMP dan SMA SATAP, tampaknya masih jauh tertinggal. Laboratorium sekolah beru saja selesai dibangun, dan hanya ada 3 mikroskop, yang ketigany rusak. Peralatan lain tidak memadai, dan beberapa topik praktikum tidak bisa diselenggarakan karena bahan kimia yang dibutuhkan tak terbeli atau untuk mendapatkannya perlu ke kota. Pembelajaran  sains masih didominasi oleh guru dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi.

Sebenarnya guru dapat mengembangkan bahan ajar dan media belajar dengan memanfaatkan alam sekitar, tetapi sebagaimana di daerah tertinggal di Indonesia, guru-guru masih sangat membutuhkan pelatihan tentang hal ini. Dari penuturan guru, diketahui bahwa kegiatan MGMP yang selama ini dia ikuti selalu  digiring untuk memperbaiki Silabus dan RPP saja, sementara mereka sangat memerlukan pelatihan tentang metode dan strategi pembelajaran serta pengadaan bahan dan media belajar.

Kecenderungan umum yang sering tampak di sekolah-sekolah seperti ini adalah kebekuan kreativitas guru. Dan ini tidak bisa disalahkan karena bisa saja terjadi sebagai akibat kondisi ekonomi si guru, suasana batin yang tidak nyaman, atau keputusasaan menghadapi sikap dan perilaku masyarakat. Apalagi jika guru sangat lambat beradaptasi dengan kondisi sekitarnya dan pola pikir masyarakat setempat.

Di desa-desa yang secara ekonomi makmur, namun secara edukasi tertinggal, penduduk memandang pendidikan tidak perlu didanai dari pundi-pundi mereka. Tetapi penghormatan penduduk terhadap status guru, masih sangat tinggi. Sehingga tak jarang mereka mengekspresikan itu dalam bentuk pemberian hasil panen mereka. Mereka masih berpikiran dalam ketradisionalannya, atau pengalaman masa lalunya, yang menganggap guru adalah orang berilmu yang tidak perlu digaji. Panenan yang dihantarkannya ke rumah guru bukanlah gaji, tetapi sebagai ucapan terima kasih atas jasa baiknya mengajari anaknya.

Orang-orang di desa yang demikian juga tidak peduli dengan jenjang pendidikan yang harus dilewati anaknya, dan menganggap bahwa bersekolah lama-lama akan semakin mengurangi harta di dalam keluarga, dan menunda kematangan skill bekerja si anak. Pikiran mereka sangat sederhana, dan itu tidak bisa disalahkan, sebab mereka belum banyak berinteraksi dengan orang-orang terdidik, dan atau dampak pendidikan lainnya.

Tidak saja di Lombok barat, dalam kunjungan ke Desa Selo di Boyolali, yang juga tak jauh dari pusat pemerintahan, saya juga mendapati kondisi desa makmur dengan pendidikan yang masih tertinggal, yang semata terjadi karena pola pikir orang tua yang tidak peduli dengan pendidikan, dan perhatian pemerintah yang tidak maksimal.

Kondisi itu bisa berubah, jika semakin banyak agent of change yang masuk ke sana, salah satunya dari kalangan perguruan tinggi.

  1. Mengutip, “kegiatan MGMP yang selama ini dia ikuti selalu digiring untuk memperbaiki Silabus dan RPP saja, sementara mereka sangat memerlukan pelatihan tentang metode dan strategi pembelajaran serta pengadaan bahan dan media belajar.”

    In hampir sama dengan kasus anak-anak didik ketika digiring menghafal TENSES yang jumlahnya 16 itu tetapi tidak diiringi dengan penggunaan dalam berkomunikasi. Teman saya dari Filipina sama sekali tidak mengetahui tenses tapi bahasa Inggrisnya lancar jaya.

  2. Kondisi itu bisa berubah, jika semakin banyak agent of change yang masuk ke sana, salah satunya dari kalangan perguruan tinggi.
    …. masak iya . . . . benarkahhhh demikian??? maaf mbak Murni, kucinge perpus khoq meragukannya . . . yang benar malah menambah masalah lebih baru lagi uiyyaaa.

    dialogue 2 orang desa & seorang kebetulan mendengar+mengamati :

    – Pak Halidam,”Knapa anakmu tidak sekolah? kan kasihan!”
    – Pak Hamindalid,”Lho, apa sekolah bisa memberikan bekal hidup sukses?”
    – Pak Badrun,”Iya-ya…. Untuk apa anak harus sekolah ??

    dialogue ada di sampul buku :
    Menggagas Pendidikan Bermakna – Integrasi Life Skill – KBK – CTL – MBS

    Setelah menjawab pertanyaan saya tentang berbagai hal, tampaknya para nelayan ingin tahu apa pekerjaan saya dan apa maksudnya menanyakan berbagai hal tentang kehidupan nelayan. Nah, setelah tahu bahwa saya seorang pendidik (dosen) salah seorang di antara mereka mengajukan keluhan tentang anaknya.
    “Anak saya dua orang. Satu orang -itu yang sedang memperbaiki jaring,” katanya sambil menunjuk anak muda yang tekun memperbaiki jaring di bawah pohon.
    “Yang satunya sedang sekolah di SMP. Saya sekolahkan ke SMP karena disuruh oleh Kepala Desa. Pak, tetapi saya sekarang bingung, karena anak saya yang sekolah justru tidak mau kalau diajak bekerja. Dia sukar kalau diajari bagaimana mengarahkan perahu saat di laut dan tidak pandai kalau disuruh memilih ikan. Mengapa begitu, Pak? Bukankah seharusnya dia lebih pandai karena belajar sampai SMP? Mengapa justru kalah dibanding kakaknya, yang hanya sampai kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah?
    Walaupun diajukan dalam bentuk pertanyaan dan diungkapkan dalam bahasa daerah yang santun, toh isinya tetap saja bernuansa menggugat. Protes kepada saya, yang sebelumnya sambil bertanya tentang ini dan itu, secara tidak sengaja menganjurkan agar para nelayan menyekolahkan anaknya, dengan harapan nantinya dapat menjadi nelayan modern. Terbayang di benak saya, jika anak-anak nelayan itu mendapat pendidikan yang baik, nantinya akan menjadi nelayan modern yang memiliki perahu bermesin dengan peralatan modern, sehingga mampu mendapatkan tangkapan ikan yang banyak. Bahkan mampu mengelola hasil tangkapan tersebut dengan baik dan tidak dicengkeram oleh para tengkulak ikan, seperti nasib orang tuanya.
    Mendapatkan pertanyaan telak seperti itu, kembali saya tidak mampu memberi penjelasan yang baik, kecuali jawaban yang bersifat normatif, yaitu jika anak-anak bersekolah akan mendapatkan bekal ilmu pengetahuan yang nantinya sangat bermanfaat untuk memperbaiki kehidupannya sebagai nelayan di masa datang. Sebyuah jawaban normatif itu tentu tidak memuaskan sang penanya. Saya sendiri pun dalam hati sebenarnya juga ragu betulkah jawaban itu.
    Kumpulan keluhan, suara-suara rakyat desa itu kembali menggumpalkan pertanyaan besar: Apa yang salah dengan pendidikan kita, sehingga mereka merasa bahwa ketika anaknya sekolah justru “kurang pandai” dibanding yang tidak sekolah? Apa yang salah dengan pendidikan kita, sehingga perilaku anak-anak yang sekolah justru kurang baik?

    isi paparan = potret keadaan/ situasi, dirasa dan dikeluhkan banyak pihak, apa sebab moral+ budaya+sosial kaum muda hingga terjadi merosot begini; banyak teori penyebab dan alternatif penyelesaian selama ini diajukan, belum menyentuh akar permasalahan. di buku ini teruraikan dalam bahasa amat gamblang akar+percabangan penyebab plus akibat timbul di kemudian hari menjadi kabur dan sulit dicari selama ini untuk dibenahi/tata ulang oleh siapa+apa pun yang berkenan dan berminat.

    buku bagus, enggak menghakimi, dan simpulkan sendiri!

    salam
    Kucinge perpus
    dikutip dari :
    http://djokoawcollection.blogspot.com/2008/02/pendidikan-bermaknagagasan-prof-muchlas.html

    • @Pak Ardy, apa kabar? Terima kasih sudah memberikan komentar.
      Saya juga berasal dari desa, dan sudah merasakan dg sangat, bagaimana pendidikan telah mengubah keluarga saya. Kami memang tidak lagi bertani seperti halnya paman dan bibi yg masih bertani, tetapi jiwa petani (selalu memanfaatkan lahan kosong untuk menanam) tidak pernah hilang, hingga pindah ke kota. Saya mempelajari pertanian hingga bangku kuliah, dan sangat mensyukuri itu ketika dapat membantu petani dg ilmu yg saya pelajari di bangku sekolah.
      Sejelek apapun pendidikan dasar, menengah yg saya cicipi dulu, saya tetap berterima kasih kepada para guru yg sudah menanamkan semangat belajar dan berkembang dalam diri saya, sehingga saya, sekalipun secara teknis, tidak lebih pandai daripada paman dan bibi, tetapi saya dapat membantu menyelesaikan permasalahan yg mereka hadapi di lahan, dan memberikan masukan untuk menjadi petani yg melestarikan alamnya (jangka panjang). Itu semua saya peroleh dari bangku sekolah.

      Jika Pak Mahlin yg saya ceritakan di atas saja mampu memaknai pendidikan sebagai hal yang wajib dirasakan oleh semua anak-anak di Ds Mekarsari, dan telah membuktikan itu dg upaya kerasnya membujuk masyarakat membangun sekolah swadaya di desanya, maka sungguh malu jika kita sebagai orang yg sudah bersekolah belasan tahun tidak mampu menjelaskan betapa “nikmat dan patut disyukurinya menjadi orang terdidik”. Dengan melihat kondisi sekolah di desa Pak Mahlin, dan hasil diskusi dg guru-guru di sana, memang mereka belum mengangkat sumber daya lokal gula aren sebagai hal yg perlu diajarkan dan dikembangkan ilmu tentangnya di sekolah. Sehingga anak-anak belajar budidaya dan produksi gula aren dari orang tuanya saja, melalui “sekolah alam”. Tetapi sama dg Bapak Dosen yg menulis buku yg Bapak baca, saya dan para guru pun menginginkan kehidupan yg lebih baik untuk mereka melalui sekolah/pendidikan. Setidaknya, mereka bisa membaca dan mengembangkan diri, dan mengubah pola ketergantungannya kepada alam.

      Pak Ardy, memang pendidikan di negeri ini masih banyak yg perlu diperbaiki, tetapi saya masih berprinsip yg sama sejak dulu, bahwa semua anak harus mengenyam pendidikan, mendapatkan ilmu-ilmu dasar membaca, menulis, berhitung, dan diberi kesempatan luas untuk menjadi person yg lebih baik melalui pendidikan. Sama dg bapak dosen di atas, saya bertemu dg orang tua di desa dg percakapan yg sama. Jangan jauh-jauh, keluarga saya di kampung pun masih ada yg berpikiran seperti itu. Tetapi apakah kita yg sudah terdidik mau membiarkan pandangan seperti itu terus menempel di kepala mereka?
      Saya yakin tidak. Sebab kita mengharapkan mereka pun merasakan manfaat pendidikan sebagaimana kita telah merasakannya.

      Adapun mengenai ilmu yg diajarkan di sekolah tidak sesuai dg apa yg dibutuhkan dg kehidupan mereka, memang benar. Kurikulum kita belum memperhatikan relevansi antara kebutuhan masyarakat dg apa yg seharusnya diajarkan di sekolah. Oleh karena itu, perlu banyak “sentilan” kepada pemerintah, dan kalau ini tetap susah, maka kita yg pernah mempelajari hal ini atau mengenyam pendidikan yg lebih baik, perlu turun tangan memperkenalkannya kepada guru-guru di sekolah. Itulah yg bisa kami lakukan dari kalangan pendidikan tinggi.
      Saya bekerja di universitas yang mendidik para calon guru, di antara mereka ada yg dari Lombok dan beberapa daerah tertinggal lainnya. Seandainya saya tidak diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi Lombok dan beberapa desa tertinggal lainnya, sungguh saya tdk tahu fakta di lapangannya. Dengan kunjungan tsb, kami dapat membekali mahasiswa yg kami didik agar mengetahui bagaimana medan kerja mereka kelak, dan apa solusi untuk membantu komunitasnya. Sekalipun tidak maksimal, tetapi kami harus berusaha dan tidak berputus asa untuk itu.

      Menyadarkan penduduk desa yg salah menanggapi pendidikan sebagai beban yg tdk memberi manfaat, bukan pekerjaan guru di sekolah saja, tetapi juga pemerintah. Saya masih ingat bagaimana Jepang maju dengan Angka partisipasi sekolah dasar 100% dan menengah 97%, yg dilakukannya dg “pemaksaan”. Pemerintah Jepang mewajibkan semua orang tua yg memiliki anak usia sekolah untuk menyekolahkan anak-anak mereka dg gratis, jika ada yg menentang dan tdk patuh, maka pemerintah akan memberikan sanksi pengadilan karena melanggar ketentuan hukum. Mengapa pemerintah Jepang sekeji itu? Saya kira karena mereka sudah paham betul bahwa pendidikan dapat mengangkat ekonomi masyarakat.

      Pendidikan itu baru bisa dirasakan hasilnya tahunan. Sama dg menjadi nelayan atau petani yg baik. Jika sekedar meniru apa yg dilakukan orang tuanya, anak-anak yg berkemampuan tinggi, hanya dg hitungan hari bisa melakukannya. Tetapi dapatkah mereka keluar dari zona aman tsb, dan menjadi orang yg lebih baik, jk hanya meniru saja?

      Tentang perilaku anak, jangan lupa ini dibentuk bukan dari sekolah saja, tetapi lebih banyak berkembang di rumah. Pada usia-usia remaja, anak lebih percaya kepada teman sebayanya ketimbang orang tuanya (ini juga saya pelajari di bangku kuliah). Sehingga wajar, dia terkesan membangkang orang tuanya. Tetapi ini bisa dicegah dan diatasi. Tentu saja dg pendidikan moral yg baik di rumah dan di sekolah.
      Anak-anak SD yg saya temui di sepanjang jalan menuju rumah Pak Mahlin sangat santun, mereka menciumi tangan kami, padahal saya hanya menyapa dengan salam. Tetapi fakta lain, banyak kaum muda/remajanya yg berpakaian ala turis asing, dan berboncengan motor, padahal ini tabu. Apakah ini produk sekolah? Sementara mereka notabene hanya bersekolah sampai SD? Pemandangan lebih parah bisa dijumpai di daerah wisata Senggigi dan Gili Trawangan.

      Kehidupan desa dan pesisir yg semula aman tenteram mendadak berubah menjadi hiruk pikuk dg berkembangnya desa dan pesisir menjadi tempat wisata. Nelayan makin tersisih ke tengah laut, karena di perairan dangkal sudah tak ada ikan lagi. Kenapa habis? Yg menghabiskannya para nelayan juga yg tidak menyadari bahwa kalau diambil setiap hari, ikan di perairan dangkal jg akan habis. Kehidupan desa yg hiruk pikuk direspon oleh generasi muda yg tdk dididik di bangku sekolah dg respon yg negatif. Mereka ingin seperti orang bule, gaya rambut, gaya berpakaian, bahkan gaya hidup. Orang tua hanya mengurut dada melihat hal ini, dan mulai menyalahkan jaman yg berubah. Tetapi jaman sudah alaminya mengalami perubahan, dan manusia harus berupaya menyesuaikan diri. Bagaimana caranya? Saya kok masih percaya dg pendidikan.

      Pak Ardy, saya sependapat dg Bapak, bahwa banyak kebijakan, teori yg lahir tetapi tdk menyentuh akar permasalahan. Karenanya saya dan teman-teman di kampus berupaya memahami hal ini dg makin banyak mendatangi desa-desa. Kalau kedatangan kami dianggap menambah masalah, sebagaimana yg Bapak nyatakan di atas, kami tdk bisa mencegahnya. Sebab, kedatangan orang baru di suatu tempat yg baru memang akan mendatangkan masalah🙂 dengan hal baru yg dibawanya (Saya sangat mengalaminya di tempat kerja baru saya:-) . Kami cuma berusaha untuk tdk membebani masyarakat setempat, dan sedapat mungkin membagikan ilmu yg sudah kami pelajari. Kedatangan tsb bisa menjadi masalah bagi sebagian orang, tetapi juga bukan masalah bagi sebagian yg lain.

      Demikian, Pak. Mohon maaf apabila ada salah kata dan khilaf diri. Semata karena saya masih dalam proses belajar, sehingga masih banyak yg perlu dikoreksi.
      Terima kasih atas saran, pandangan dan ide-idenya, dan mohon masukan dan koreksinya terus terhadap tulisan-2 saya.

  3. Assalamu’alaikum wr wb, Salam kenal untuk Bu murni..sebelum sy jg seorang guru muda yg msh hijau dan msh perlu byk bljr. Sy sgt tertarik dgn isi artkel yang Anda paprkn karena isi artikel tersebut mewakili apa yg sdg sy alami lingk tempat sy bekerja. Oleh Karena itu, mhn ibu bs sharing lebih byk tetg pengalaman mgjr dan menddik selam di Jepang maupn di Indonesia.

    • @Mba Ati Muslimah : Waalaikumsalam wrwb. Salam kenal juga. Mari sama-sama belajar, kalau selalu merasa muda dan hijau,
      maka kita pasti akan selalu ingin belajar🙂

  4. sangat mensyukuri itu ketika dapat membantu petani dg ilmu yg saya pelajari di bangku sekolah.
    Sejelek apapun pendidikan dasar, menengah yg saya cicipi dulu, saya tetap berterima kasih kepada para guru yg sudah menanamkan semangat belajar dan berkembang dalam diri saya, sehingga saya, sekalipun secara teknis, tidak lebih pandai daripada paman dan bibi, tetapi saya dapat membantu menyelesaikan permasalahan yg mereka hadapi di lahan, dan memberikan masukan untuk menjadi petani yg melestarikan alamnya (jangka panjang). Itu semua saya peroleh dari bangku sekolah.

    Desa Makmur, Pendidikan Tertinggal. Ini “buah tangan / oleh-oleh / kisah perjalanan / cerita rantau / omiyage” yang amat sangat bermanfaat+berharga+berkhasiat vitamin melaparkan + menggemaskan + mengusik bagi nurani begitu dahaga akan kebaikan dan perbaikan untuk negeri beserta segenap se isi alam penghuni nya sama kita cintai dan sayangi juga renungi, acapkali luput dan terserak lari dari pengamatan dan pemikiran selayaknya memberdayakan amanah di pundak “mereka” malahan memperdayakan kemudian melimpahkan sebagai beban wajib di panggul atas nama “keberpihakan dan kepedulian juga pemikiran di benak mengusik nurani terpanggil kewajibannya sebagai warga bela (in) negeri”!!! Tetapi tak mengapa, mereka (empu nya otoritas) telah berkenan memberi kesempatan luas untuk beramal jariah sholeh dan sholihah . . . . secara tak langsung, dengan catatan, kita semua harus mengedepankan banyak ke ikhlasan mendalam sedikit gugatan plus tuntutan mendangkal (cukup mengingatkan ke alpha an, sifatnya) agar niat baik ini tak tercemari+kurangi oleh aura negatif . . . kalau terpaksa harus menggugat protes pun selalu berisikan pembelajaran tanpa menggurui, rasanya adhem lagi meng inspirasi aspira si, jadi tiada yang tersia-siakan bukan, jatuhnya pun membawa khasiat+mufakat. sepakat sama isi blogmu Mbak Murni . .. (lh0 terus melaju, lha titik nya dmanna ya?)

    Mbak kubangga padamu mem “buka kartu”, bagi sebagian orang itu perihal begitu di tabu kan bahkan harus di tu2pi hingga terpaksa harus berbohong pun dilakukannya begitu rupa sedemikian rapi nya. Kejelasan informasinya (paragraph 1, amat sangat jernih . . . dannn . . . pilihan pola berfikir bagaimana seharusnya sekeluarga/se isi rumah menyikapi dengan cerdas begitu sadar menangkap makna dibalik hikmah akan niat baik khasiat pendidikan bagi si pengenyam / pemamah / penghuni bangku di balik tembok sekolah (kalau pun ada), “bingung boleh tanya, apa manfaat sekolah khasiat kuliah?+ problema klassic mental terdidik tinggi VS rendah” (kucinge perpus), pangapunten nyuwun sewu lho, telah terjawab, jika di perkenan kan… yang menjadi buah pertanyaan apa pernyataan saya.. apa yang membuat langkah jitu dipilih begitu berbeda dari langkah keluarga-2 kebanyakan lainnya . . . sekedar cukup memenuhi ketentuan wajib belajar berlaku tak lebih daripada itu, pola berfikir dan langkah bertindak cantik begitu berbeda, daripada keluarga semarga lainnya, ini dikarenakan unsure apa? dorongan didikan+ajaran+peran seisi rumah, apa sekolah seisinya, atau masyarakat sekitar atau apa . . .

    boleh dibagi ajar tular didik kan Mbak Murni tulis tips paragraph 1 mulia itu, mulai kapan nih?

    Jika Pak Mahlin yg saya ceritakan di atas saja mampu memaknai pendidikan sebagai hal yang wajib dirasakan oleh semua anak-anak di Ds Mekarsari, dan telah membuktikan itu dg upaya kerasnya membujuk masyarakat membangun sekolah swadaya di desanya, maka sungguh malu jika kita sebagai orang yg sudah bersekolah belasan tahun tidak mampu menjelaskan betapa “nikmat dan patut disyukurinya menjadi orang terdidik”. Dengan melihat kondisi sekolah di desa Pak Mahlin, dan hasil diskusi dg guru-guru di sana, memang mereka belum mengangkat sumber daya lokal gula aren sebagai hal yg perlu diajarkan dan dikembangkan ilmu tentangnya di sekolah. Sehingga anak-anak belajar budidaya dan produksi gula aren dari orang tuanya saja, melalui “sekolah alam”. Tetapi sama dg Bapak Dosen yg menulis buku yg Bapak baca, saya dan para guru pun menginginkan kehidupan yg lebih baik untuk mereka melalui sekolah/pendidikan. Setidaknya, mereka bisa membaca dan mengembangkan diri, dan mengubah pola ketergantungannya kepada alam.

    paragraph ke 2, apa dirasa cerita kan tentang pak Mahlin oleh Anda, pilihan inspirasi menyikapinya identik 1 genetik dengan keluarga paragraph ke 1 berbeda lokasi geografis +nasib keberuntungan (bukan sebuah kebetulan, namun bagiku sejatinya agent of change, ini ber SK Langit). Jadi amat sangat berbeda nuansa dengan buah ketulusan dihasilkannya, maka tertoreh lah coretan, “Kondisi itu bisa berubah, jika semakin banyak agent of change yang masuk ke sana, salah satunya dari kalangan perguruan tinggi.
    …. masak iya . . . . benarkahhhh demikian??? maaf mbak Murni, kucinge perpus khoq meragukannya . . . yang benar malah menambah masalah lebih baru lagi uiyyaaa.”

    perihal “bingung boleh tanya, apa manfaat sekolah khasiat kuliah? kalau komoditi asli Indonesia siapa olah-peduli, jual eksport komoditi SDA+hasil . . .(kucinge perpus)” selayaknya menjadi acuan pola kurikulum-e di sekolah pak Mahlin harus berciri karakter khas, mengangkat+mengacu+mempelajari sumber daya lokal [KBK = kurikulum berbasis kearifan lokal] ada kemanfaatan+kemajuan pendidikan mampu mewarnai kehidupan memberi nilai tambah (added value) ekonomi+budaya+sosial sehari-hari masyarakat alam sekitar SD 2-SMP-SMA SATAP Mekarsari yang terletak di Dusun Mekarsari, Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat ; bukannya tambah biaya, wajib . . . kurang mutu, sukarela (plus mandatory costs less voluntary quality) .
    Biar berbeda kaya CBSA [Cara Belajar Siswa Aktif, bukannya Cah Bodho Soyo Akeh] walau cenderung dibilang gila apa bikin gelo / kuciwa aparat departure, itu lebih baik mandiri ketimbang di danai agak “ruwet” ngurus dan ter sunat i buntet dsini senang dsana menang dmanna kita gak boleh bimbang dan ragu terima apa adanya dan adanya apa . . . agar tak menirukan acuan standar sekolah yang telah ada, nanti bisa beralih menjadi karikalem-e (slow motion / lemoot kecerdasan meningkat ke ndugalan menipis kesopan santunan) malah bertambah jadi karikolam-e (tinggal kolamnya tanpa penghuni / materi ajaran tanpa makna+manfaat dan khasiat) tinggal menanti karikelem-e (menunggu waktu tenggelam nya/pendidikan koncatan kehilangan ruhnya tertinggal pen …g/h… ajaran semata) kapan?

    Setidaknya, mereka bisa membaca dan mengembangkan diri, dan mengubah pola ketergantungannya kepada alam.

    Kan sudah ada di bloq nya Mbak Murni, “sekolah di tepi pantai diajari perihal hasil pantai, sekolah di gunung diajari komoditi sayur2an” apa ya judulnya itu???

    Pak Ardy, memang pendidikan di negeri ini masih banyak yg perlu diperbaiki, tetapi saya masih berprinsip yg sama sejak dulu, bahwa semua anak harus mengenyam pendidikan, mendapatkan ilmu-ilmu dasar membaca, menulis, berhitung, dan diberi kesempatan luas untuk menjadi person yg lebih baik melalui pendidikan. Sama dg bapak dosen di atas, saya bertemu dg orang tua di desa dg percakapan yg sama. Jangan jauh-jauh, keluarga saya di kampung pun masih ada yg berpikiran seperti itu. Tetapi apakah kita yg sudah terdidik mau membiarkan pandangan seperti itu terus menempel di kepala mereka?
    Saya yakin tidak. Sebab kita mengharapkan mereka pun merasakan manfaat pendidikan sebagaimana kita telah merasakannya.

    Mbak Murni, ku sepakat dengan niat mulia pendidikan kapan bisa mulai dilakukan? Keluhan di sampaikan masyarakat itu kenyataan kasad mata memberanikan diri disampaikan bukan rekayasa, jika tak boleh dibiarkan lantas apa yang harus dilakukan oleh mereka sudah terdidik, tebakan ku mereka ini terjebak dalam pola ke perilaku an non keilmuan dibawah ini :
    Mempelajari ilmunya, tanpa menjalani (dunia pintar full teori fakir amal = das sollen)
    Menjalani, tanpa mempelajari ilmunya (dunia cerdas penuh praktek miskin ilmu = das sein)
    Seyogya / ideal nya demikian : Berilmu [teoritis] barter sama pelaku bisnis [praktisi] dalam kesetaraan saling memberi dan menerima tanpa pandang tinggi-rendah statusnya dalam berbagi ilmu di kampus dan di lapangan, saling belajar juga mempelajari ke uniq an karakter latar belakang masing-masing jelas berbeda pola pandang dan tindakan dalam menyikapi satu (1) obyek yang sama, tidak bersaing melainkan saling berbagi plus melengkapi kekurangan dan menguatkan peran bersama. bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh / bahasa Sansekerta “Bhinneka Tunggal Ika” (perbedaan dalam kesatuan).

    Adapun mengenai ilmu yg diajarkan di sekolah tidak sesuai dg apa yg dibutuhkan dg kehidupan mereka, memang benar. Kurikulum kita belum memperhatikan relevansi antara kebutuhan masyarakat dg apa yg seharusnya diajarkan di sekolah. Oleh karena itu, perlu banyak “sentilan” kepada pemerintah, dan kalau ini tetap susah, maka kita yg pernah mempelajari hal ini atau mengenyam pendidikan yg lebih baik, perlu turun tangan memperkenalkannya kepada guru-guru di sekolah. Itulah yg bisa kami lakukan dari kalangan pendidikan tinggi.
    Jika sudah tahu duduk perkara apalagi mengetahui akar masalahnya, mengap-a enggan meng ubahnya? Saat diluar lingkaran pemerintah demikian lantangnya, saat masuk kedalam lingkaran pemerintahan, seperti kehilangan keberanian+kearifan tenggelam dalam rutinitas . . . keluar lingkaran, muncul kenekadannya lagi (apa lingkup pemerintah = tabir me-lena-/-mabuk-kan… ya)
    Saya bekerja di universitas yang mendidik para calon guru, di antara mereka ada yg dari Lombok dan beberapa daerah tertinggal lainnya. Seandainya saya tidak diberi kesempatan oleh Allah untuk mengunjungi Lombok dan beberapa desa tertinggal lainnya, sungguh saya tdk tahu fakta di lapangannya. Dengan kunjungan tsb, kami dapat membekali mahasiswa yg kami didik agar mengetahui bagaimana medan kerja mereka kelak, dan apa solusi untuk membantu komunitasnya. Sekalipun tidak maksimal, tetapi kami harus berusaha dan tidak berputus asa untuk itu.

    Kalau tak kenal maka tak sayang, menantikan kunjungan enggan mengunjungi bagian dari keangkuhan sang pengajar cukup menyusahkan sang pembelajar, kelak di kemudian hari, karena bekal mereka peroleh selama belajar, dari sisi warna pola ajar dan jalan keluar ditawarkan ternyata masih sebatas maya (das sollen = lagunya alm. Gombloh) “di angan-angan”
    http://songscrop.com/music/downloadLink aHR0cDovL3d3dy40c2hhcmVkLmNvbS9tcDMvQ085TFVuM3EvR29tYmxvaF8tX0RpX0FuZ2FuX0FuZ2FuLmh0bVtid25dZ29tYmxvaCAtIGRpIGFuZ2FuIGFuZ2FuIC0gICAgIA

    di saat tinggal melaju terapkan ilmu di universitas yang mendidik para calon guru, terpaksa harus belajar kembali mempelajari+mengenali+menyesuaikan setel sana setel sini untuk membantu komunitasnya, itu berlaku bagi jiwa terpanggil, menyediakan diri mau belajar mengidentikkan ilmu lebah, kehadirannya dinantikan karena membawa kemanfaatan dan kepergiannya meninggalkan keberkahan, jika mengidentikan ilmu bedebah, (kebalikan si lebah) = Mempelajari ilmunya, tanpa menjalani (dunia pintar full teori fakir amal = das sollen)

    Menyadarkan penduduk desa yg salah menanggapi pendidikan sebagai beban yg tdk memberi manfaat, bukan pekerjaan guru di sekolah saja, tetapi juga pemerintah. Saya masih ingat bagaimana Jepang maju dengan Angka partisipasi sekolah dasar 100% dan menengah 97%, yg dilakukannya dg “pemaksaan”. Pemerintah Jepang mewajibkan semua orang tua yg memiliki anak usia sekolah untuk menyekolahkan anak-anak mereka dg gratis, jika ada yg menentang dan tdk patuh, maka pemerintah akan memberikan sanksi pengadilan karena melanggar ketentuan hukum. Mengapa pemerintah Jepang sekeji itu? Saya kira karena mereka sudah paham betul bahwa pendidikan dapat mengangkat ekonomi masyarakat.

    Sementara yang terjadi dan berlangsung disini negeri ini kurang lebih demikian,
    Mempelajari ilmunya, cukup menganjurkan, tanpa menjalani (dunia pintar full teori fakir amal = das sollen)
    Menjalani, enggan mempelajari ilmunya (dunia cerdas penuh praktek miskin ilmu = das sein)
    terjadilah aneka kepincangan berkelanjutan . . . di dunia pemerintah, kapan sadar dan pada menyadarinya ya . .
    .Pendidikan itu baru bisa dirasakan hasilnya tahunan. Sama dg menjadi nelayan atau petani yg baik. Jika sekedar meniru apa yg dilakukan orang tuanya, anak-anak yg berkemampuan tinggi, hanya dg hitungan hari bisa melakukannya. Tetapi dapatkah mereka keluar dari zona aman tsb, dan menjadi orang yg lebih baik, jk hanya meniru saja?

    pendidikan menanamkan nilai ajaran musti di dengar-di terima / pahami – di lakoni
    pengajaran menawarkan nilai ajaran cukup di dengar – di terima / pahami – dilakoni /
    di jalani etika atau tidak sumonggo (jawa = sesukamu) di serahkan sama audiens.

    pendidikan membuahkan hasil unggul dalam mutu santun dalam perilaku
    pengajaran membawakan buah unggul dalam mutu sumonggo (jawa = silahkan) berperilaku.

    letak perbedaannya, pada ajaran berwatak dan ajaran tanpa karakter.
    dengan kata lain pendidikan itu berproses, sedangkan pengajaran itu instant.
    bisa dianalogkan apa tidak, sama dengan membeli surga? atau senilai pragmatisme? sekarang tugas siapa sebenarnya … dan?
    apa audiens diberi hak pilih ”membangun pembelajaran berkarakter atau (ato) tanpa (ber)karakter”? atau terserah kepada situasi…?
    hasilnya bisa dinikmati 3, 5, 7 tahun kemudian. …
    Dan berhubung kita ini tergolong kaum pelupa, masih juga suka bertanya …. malah keheranan lagi, mengapa ya…. khoq bisa jadi begini…. [melupakan akar kejadian saat itu dan kini menjadi sekadar catatan masa lalu, dikenal sebagai sejarah…., sejarah apa saja…] ; gemar menghindari proses, suka style berfikir instant / jalan pintas / potong kompas … . padahal … kerusakan lingkungan itu berproses hukum sebab-akibat [paradoks, obyek kerja berproses, ditangani subyek kerja serba instant dan terkotak-kotak, bukan melingkar….menyeluruh [integrated, holistic] kira-kira bagaimana ya hasilnya nanti?]

    Tentang perilaku anak, jangan lupa ini dibentuk bukan dari sekolah saja, tetapi lebih banyak berkembang di rumah. Pada usia-usia remaja, anak lebih percaya kepada teman sebayanya ketimbang orang tuanya (ini juga saya pelajari di bangku kuliah). Sehingga wajar, dia terkesan membangkang orang tuanya. Tetapi ini bisa dicegah dan diatasi. Tentu saja dg pendidikan moral yg baik di rumah dan di sekolah.
    Anak-anak SD yg saya temui di sepanjang jalan menuju rumah Pak Mahlin sangat santun, mereka menciumi tangan kami, padahal saya hanya menyapa dengan salam. Tetapi fakta lain, banyak kaum muda/remajanya yg berpakaian ala turis asing, dan berboncengan motor, padahal ini tabu. Apakah ini produk sekolah? Sementara mereka notabene hanya bersekolah sampai SD? Pemandangan lebih parah bisa dijumpai di daerah wisata Senggigi dan Gili Trawangan.

    Sepakat 100%, dua wilayah geografis berbeda kondisi (pedalaman) begitu kental dengan komunitasnya dan (pesisir) berinteraksi dunia luar, Knapa bukannya para tamu itu sahaja di dan meng “ajari” adat sopan santun ber tamu/wisata ke “rumah” orang? Membuat mereka ketakutan??? . . . Dan melarikan devisanya ke pojok lain dunia?
    Saya kira tidak 20 % keliru 80 % benar, dengan catatan, ajarilah dengan adab santun saling menghormati dan menghargai keuniqan masing-masing, perkenalkan mereka dengan lembut, akan timbul rasa ingin tahu dan sebegitu sensasionalnya bagi mereka mencoba menjadi bagian dari kesatuan alam Lombok, walaupun mereka berasal dari belahan lain dunia . . . denga jurus GLS (Gupuh+Lungguh+Suguh =Sambut hangat+ Silahkan masuk & duduk+Jamu menu dipunyai) dalam kesaudaraan+ketulusan, bukan komersialisasi dibalik kesopanan!
    Sikap sopan lagi santun itu harus, tidak identik dengan mental inferior/kalah. Sikap percaya diri kelewatan, itu congkak identik dengan tinggi hati namanya.
    Merendahkan diri itu benar, rendah diri ini kekeliruan bersikap.
    Knapa masih harus dan terus berlaku,“Barat tak mengalahkan Timur, Timurlah yang menyerahkan diri ke Barat” ??? (kata wak Mohandas Karamchand Gandhi)

    Kehidupan desa dan pesisir yg semula aman tenteram mendadak berubah menjadi hiruk pikuk dg berkembangnya desa dan pesisir menjadi tempat wisata. Nelayan makin tersisih ke tengah laut, karena di perairan dangkal sudah tak ada ikan lagi. Kenapa habis? Yg menghabiskannya para nelayan juga yg tidak menyadari bahwa kalau diambil setiap hari, ikan di perairan dangkal jg akan habis. Kehidupan desa yg hiruk pikuk direspon oleh generasi muda yg tdk dididik di bangku sekolah dg respon yg negatif. Mereka ingin seperti orang bule, gaya rambut, gaya berpakaian, bahkan gaya hidup. Orang tua hanya mengurut dada melihat hal ini, dan mulai menyalahkan jaman yg berubah. Tetapi jaman sudah alaminya mengalami perubahan, dan manusia harus berupaya menyesuaikan diri. Bagaimana caranya? Saya kok masih percaya dg pendidikan.

    Ketenteraman berubah kegaduhan, sebuah keniscayaan nilai tradisi selama terjaga, di langgar pantas legal kan a/n. program paru wisata demi mengeruk $ dollar semata oleh otorita pemangku kebijakan, tanpa mengkaji keseluruhan risiko keburukan mengusik kehidupan sosial ekonomi budaya warga penghuni tempat wisata, semata hanya risiko kebaikan industri pariwisata belaka,tanpa menyiapkan daya ketahanan mental budaya warga setempat dari kelunturan corak budaya setempat akibat percampuran aneka warna budaya pendatang . . . dengan menyiap kuat teguhkan pola pendidikan kearifan lokal tetap terjaga, di “kerumuni dan kerubuti” demi memenuhi rasa ke ingin tahu an+ke heran an mereka bawa nun jauh dari negeri di balik matahari tenggelam (gelap) menuju bumi kemari dibalik negeri matahari terbit (terang) terang sahaja berbeda budaya seluas bumi sedalam lautan. Sebenarnya warga setempat tak seharusnya mengalami banyak “gegar budaya”, jika dipersiapkan dengan cermat oleh para kaum pemangku kebijakan+ kekuasaan notabene lebih makan asam garam berpendidikan bukan? Mengapa mereka khoq bisa dan sempat-2nya mengalami “mabok budaya kekuasaan” mengabaikan warganya mencari tempat bernaung dibawah panji keteduhan kekuasaan?

    Apa yang dilihat itulah yang ditirukan, jika kemaren itu tabu dan sungkan, kini telah di kasih contoh di lihat mata, di dengar telinga . . . dan di biarkan sahaja oleh Otorita pemangku adap, sebab merekalah penghasil dollar penyumbang devisa sekaligus perongrong keluhuran budaya dijunjung & nilai berlaku mengikat bagi warga setempat,
    . mengapa sebagai tamu, wisatawan ini tak diajari+berlakukan adap yang sama? Toleransi / pembiaran lebih tepatnya, membikin anak muda pada memberanikan diri mencoba menirukan dan telah menyiapkan jurus penangkalnya pula, kalau mereka boleh, mengapa kami tidak diperkenankan, apa bedanya . . . ?
    Jadi bukan jaman berubah, melainkan warna pola kebijakan telah membuat semua kesopanannya di tinggalkan kalau perlu kesantunannya di tanggalkan sekalian. Sebagai orang tua di zamannya, mereka menyalahkan zaman. Sebenarnya mereka yang telah mengenyam pendidikan juga mengertilah, berani mengubah adap itu. Bukan dilakukan oleh kaum yang suka mereka sebut sebagai makhluk awam+tertinggal zaman dan anak-anak mereka belum cukup bekal pengetahuan pendidikan dan mental ini adalah korban produk kebijakan kaum berpendidikan yang kebetulan duduk sebagai pemangku kebijakan yang tak membawa kebajikan melainkan kerusakan dimana-manna.
    Mari selamat kan keindahan sorga yang masih tersisa di muka bumi ini dari kaum . . . .
    Mempelajari ilmunya, cukup menganjurkan, tanpa menjalani (dunia pintar full teori fakir amal = das sollen)
    Menjalani, enggan mempelajari ilmunya (dunia cerdas penuh praktek miskin ilmu = das sein)
    maka terjadilah aneka kepincangan berkelanjutan . . . di dunia pemerintah+social masyarakat, kapan sadar dan pada menyadarinya ya . . . yang seharusnya/idealnya itu . .
    Berilmu [teoritis] barter sama pelaku bisnis [praktisi] dalam kesetaraan saling memberi dan menerima tanpa pandang tinggi-rendah statusnya dalam berbagi ilmu di kampus dan di lapangan, saling belajar juga mempelajari ke uniqan karakter latar belakang masing-masing jelas berbeda pola pandang dan tindakan dalam menyikapi satu (1) obyek yang sama, tidak bersaing melainkan saling berbagi plus melengkapi kekurangan dan menguatkan peran bersama. bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh / bahasa Sansekerta “Bhinneka Tunggal Ika” (perbedaan dalam kesatuan, keberagaman diantara kesamaan)

    Pak Ardy, saya sependapat dg Bapak, bahwa banyak kebijakan, teori yg lahir tetapi tdk menyentuh akar permasalahan. Karenanya saya dan teman-teman di kampus berupaya memahami hal ini dg makin banyak mendatangi desa-desa. Kalau kedatangan kami dianggap menambah masalah, sebagaimana yg Bapak nyatakan di atas, kami tdk bisa mencegahnya. Sebab, kedatangan orang baru di suatu tempat yg baru memang akan mendatangkan masalah dengan hal baru yg dibawanya (Saya sangat mengalaminya di tempat kerja baru saya:-) . Kami cuma berusaha untuk tdk membebani masyarakat setempat, dan sedapat mungkin membagikan ilmu yg sudah kami pelajari. Kedatangan tsb bisa menjadi masalah bagi sebagian orang, tetapi juga bukan masalah bagi sebagian yg lain.

    Sepakat . . . 100 % Mbak Murni, ada yang menjadi+menambah pengetahuan di hulu, pemahaman atas masalah jadi lebih baik di tengah, mencari dan menemukan pola penyelesaiannya lebih bijak di hilir, membawa kebaikan+kelegaan di muara diharapkan oleh semua kalangan ; menambah beban masalah itu tepatnya, dari asal+awal telah bermasalah di tambah masalah di tempat di kunjungi = kombinasi antara 2 tumpukan dan pelimpahan masalah ; jika mengacu ilmu lebah Alhamdulillah, kalau menganut ilmu bedebah Masya Allah.
    Bagaimana menempatkan diri di tempat orang, lebih memerlukan belajar kecerdasan emosi tanggap sasmito alias pangerten, perlu kembali belajar lagi dan lagi, knapa?
    deso mowo coro negoro mowo toto = semua ada tata cara tingkatannya masing.
    jika diantar bimbingan Mbak Murni, rasanya gak ada teman-teman kampus cukup mengandalkan kepintaran intelektual akademis melulu cenderung adigang adigung adiguno muaranya, itu menyakiti hati bukan?

    Demikian, Pak. Mohon maaf apabila ada salah kata dan khilaf diri. Semata karena saya masih dalam proses belajar, sehingga masih banyak yg perlu dikoreksi.
    Terima kasih atas saran, pandangan dan ide-idenya, dan mohon masukan dan koreksinya terus terhadap tulisan-2 saya.

    Ulasan Mbak Murni sungguh bermakna dan lembut membuka ruang tukar pendapat, renyah dan sungguh menyenangkan.
    Posisinya sama juga masih dalam proses belajar, sehingga masih banyak yg perlu dikoreksi.
    Jauh dari membantah apalagi gugat, bukan koreksinya atau masukan nya hanya urun rembug. Ayo terus menuliskan potret dunia Berguru ya Mbak Murni Ramli, lama gak
    dolan kemari . . .
    Mohon maaf jadi bergaya dialogue . . .

    Seandainya Ini “buah tangan / oleh-oleh / omiyage, berupa kisah perjalanan / cerita rantau / reportase” apalagi disertai Portret Gambar Kamera Ber Cerita yang amat sangat bermanfaat+berharga+berkhasiat vitamin melaparkan+menggemas kan+mengusik bagi nurani begitu dahaga akan kebaikan dan perbaikan untuk negeri beserta segenap se isi alam penghuni nya sama kita cintai dan sayangi juga renungi . . .
    Oleh mereka gemar tamasya+tourney+ sungguh jaaauuuh lebih berharga tak ternilai pelepas dahaga Qolbu ketimbang oleh-2 makanan+bingkisan hadiah pemuas perut semata.

    salam si pandi kelana nan bertanya
    kucinge perpus

  5. assalamualaikum wr wb
    sebelumnya bagaimana kabarnya bu? masih ingat dengan saya? saya shoffa.
    dari artikel ibu di atas menimbulkan perenungan yg mendalam untuk diri saya bahwa di luar sana masih banyak “ladang perjuangan”.
    artikel ini bagus untuk para pendidik dan calon pendidik,

    saya harus lebih banyak belajar lagi. terima kasih.

    • waalaikumsalam wrwb

      Mas Shoffa, bagaimana kabarnya?
      Mudah-mudahan lancar studinya ya.
      Salam untuk teman-teman

      • alhamdulillah baik bu.
        Ya salam Ibu akan saya sampaikan..
        Untuk studinya alhamdulillah lancar walaupun banyak perubahan sehubungan dengan kurikulum 2013.
        Mohon doanya selalu…

  6. membaca ini menambah wawasan tentang sisi lain pendidikan di Indonesia. terima kasih.

    alangkah bagusnya saat desa makmur itu memiliki akses pendidikan yang baik, SDM mampu untuk lebih tahu apa yang baik dan buruk, budaya ketimuran yang perlu dijaga, untuk lebih tahu bahwa SDA yang mereka punya bisa dimanfaatkan secara bijak menjadi lebih baik, berdaya jual lebih tinggi dengan tetap cita rasa Lombok.

    saya suka dengan tulisan-tulisan tentang pendidikan dan saya menemukannya di sini. Wacana pendidikan dari Jepang juga membuat ingin tahu kapan kita bisa memiliki dukungan penuh pemerintah terhadap pendidikan yang menomorsatukan moral terhadap anak didik.

    ini komentar pertama saya setelah lama sekali saya membaca banyak tulisan Anda.🙂 sekali terima kasih. Saya harap ke depan ada banyak hal baik yang terjadi dari tulisan Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: