murniramli

Mengajar Tanpa Paksaan dan Kedzoliman: Pembelajaran Biologi

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Sains on April 12, 2013 at 11:02 pm

Salah satu hakikat dari ilmu sains adalah materinya yang abstrak dan kongkrit. Materi yang kongkrit lebih mudah diajarkan, sementara materi yang bersifat abstrak menjadi tantangan bagi para guru untuk mengantarkan siswanya menjadi paham.

Mempelajari organ tumbuhan, organ hewan, alam dan lingkungan adalah hal yang kongkrit, sementara mempelajari hal yang mikroskopis seperti sel, molekul, jaringan, sistem pencernaan, pernafasan, dan aneka mekanisme dan metabolisme dalam tubuh makhluk hidup adalah hal yang abstrak.

Lalu bagaimana membelajarkan hal-hal yang abstrak tersebut?

Kecenderungan guru-guru kita adalah menggantungkan diri pada buku ajar, dan malas menghadirkan benda yang kongkrit dalam proses belajar untuk diamati dan dipelajari oleh siswa. Contohnya saja ketika mempelajari organisasi struktur/hirarki kehidupan, dari molekul hingga bioma, guru lebih suka “memaksa” siswanya menjadi pendengar yang baik, dan guru menunjukkan kepiawaiannya berceramah. Akibatnya saat belajar, hanya telinga siswa saja yang bekerja dan mengirimkan informasi berupa suara ke otak untuk diolah menjadi pemahaman. Guru menjelaskan tentang bioma, ekosistem, populasi, individu, organ, jaringan, sel dan molekul dalam bentuk hafalan definisi, dan mengetes siswanya dengan cara serupa, yaitu meminta siswa menjelaskan definisi atau mengingat kembali hafalannya.

Padahal, jika guru memahami bagaimana manusia menjadi sedikit paham, paham dan sangat paham dengan cara melibatkan semakin banyak indera dalam pembelajaran, dan bahwa tugasnya di kelas adalah membimbing siswa sampai pada pemahaman yang terbangun oleh proses berpikirnya, dan bukan “paksaan” dari guru dengan cara menghafal mati, maka pastilah anak-anak Indonesia lebih melek sains.

Contoh saja, saat mengajarkan tentang hirarki kehidupan. Guru dapat mengkongkritkan yang abstrak dengan hanya membawa satu pot berisi tanaman-tanaman (lebih dari satu) atau satu miniatur kolam/danau yang bisa dibuat menyerupai akuarium sederhana. Guru selanjutnya membimbing siswa mengenali komponen-komponen kehidupan dalam sebuah pot. Pertama, mintalah siswa untuk melihat dan mengeskplor apa saja yang ada dalam satu pot, beri kesempatan mereka untuk menggali tanahnya, dan menemukan aneka makhluk di dalam tanah, mencabut tanamanya hingga tampak akar-akarnya. Jika siswa sudah menemukan semua makhluk hidup yang ada di dalam sebuah pot, maka guru dengan mudah akan dapat mengajak siswa untuk membuat pengertian tentang apa itu ekosistem, dan apa saja penyusunnya. Selanjutnya dapat pula guru membimbing siswanya untuk memahami apa itu populasi, dan apa itu individu. Langkah selanjutnya guru dapat mengambil satu tanaman, dan menanyai siswa bagian-bagiannya, tak lupa guru mengambil satu hewan (misalnya) cacing dan menanyai siswa bagian-bagian tubuhnya. Bukankah dengan cara ini, guru telah membimbing siswa memahami organ? Lalu, ambillah sehelai daun, atau batang, potonglah batang tersebut atau robeklah daun, tanyakan kepada siswa, apa yang bisa mereka lihat pada robekan tersebut? Siswa yang jujur akan menjawab, tidak bisa melihat apa-apa, kecuali bekas robekan dan potongan. Maka guru telah membawa siswa pada konsep makroskopis dan mikroskopis dalam hirarki kehidupan. Memaksa siswa memahami bahwa ada jaringan di balik sobekan daun tersebut adalah bentuk “kedzoliman” guru kepada siswa, jika guru tidak berusaha menampilkan gambar jaringan tanaman yang bisa diamati siswa, baik melalui preparat maupun copy-an gambar, atau hasil tangan guru berupa gambar skematik. Demikian pula saat guru memperkenalkan konsep sel yang menyusun jaringan, dan molekul yang menyusun sel. Guru harus menyediakan gambar atau bahan amatan agar salah satu indera siswa bekerja, yaitu indera pelihatnya.

Lalu, bagaimana mengevaluasi pemahaman siswa? Jika lagi-lagi menanyai siswa dengan pertanyaan definitive, dan memaksanya menjawab sesuai buku teks, maka tak ada gunanya rangkaian pembelajaran di atas. Yang harus dicek oleh guru bukan kelihaian siswa membuat definisi, tetapi bagaimana menerapkan konsep yang telah dipelajarinya untuk new situation, contoh lain, kasus baru, dan menganalisa serta menginterpretasi ekosistem yang lain. Oleh karena itu, guru perlu membawa sampel ekosistem lain, atau meminta siswa untuk keluar ke halaman sekolah, ke sungai dekat sekolah, ke kebun dekat sekolah, ke sawah, ke jalan, ke selokan, dan aneka tempat untuk menyebutkan hirarki kehidupan yang ada di sana. Jika sudah terlatih seperti itu, sampai kapanpun dia akan ingat dan paham tentang hirarki kehidupan, dan bisa mengajarkannya kepada orang lain.

Sewaktu mengajarkan tentang jaringan ikat dan otot, jangan segan-segan membawa daging ayam, daging sapi, kambing ke kelas, agar siswa mampu meraba, melihat, dan “membongkar-bongkar” nya untuk memahami jaringan dalam daging. Yang sifatnya mikroskopis, tampilkan dalam bentuk gambar atau preparat.

Ketika mempelajari bagaimana manusia dapat menggerakkan organ-organnya, maka berilah mereka kesempatan untuk mengamati sendiri perubahan otot-otot tangannya ketika menekuk, meregang, dll. Berilah siswa peluang untuk berpikir hingga dia sampai pada kesimpulan bagaimana Allah telah sangat sempurna mengkoordinasikan kerja tulang dan otot supaya tanagn bisa mengambil sesuatu, menekuk, dan mengayun.

Sayangnya banyak guru yang “malas” atau tidak tahu bahwa mengajarkan biologi akan sangat menyenangkan bagi guru dan siswa dengan cara menghadirkan yang kongkrit dan bisa dibawa (lautan, gunung, tundra juga kongkrit, tetapi tidak bisa dibawa ke kelas) ke dalam kelas, dan mengkongkritkan yang abstrak agar siswa memiliki “pengalaman” melalui pemakaian sebanyak mungkin inderanya.

Apa yang diperlukan oleh guru untuk dapat mengajar seperti itu? Tak lain dan tak bukan adalah memiliki jiwa dan komitmen mengajar yang ikhlas, memahami materi yang akan diajarkan, dan banyak merenung untuk berpikir bagaimana mengantarkan siswa menjadi paham tanpa paksaan dan “kedzoliman” 🙂

Iklan
  1. Assalamu’alaikum….
    Bu Murni, siapakah yang lebih pintar di Jepang laki-laki atau perempuan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: