murniramli

Ke Jepang lagi

In Serba-Serbi Jepang on Juli 16, 2013 at 12:54 am

Alhamdulillah setelah kurang lebih satu setengah tahun berada di tanah air sejak tuntasnya studi S3 di Jepang, saya mendapatkan kesempatan untuk kembali ke Jepang selama 18 hari. Kepergian kali ini atas undangan dua universitas yang menyelenggarakan seminar. Agar tidak sia-sia waktu, maka secara khusus saya minta ijin melakukan riset tentang pendidikan lingkungan dan pendidikan sains di sana.

Hari pertama, 13 Juni 2013 pagi jam 09.00 mendarat di Narita, sebelumnya saya belum pernah melalui bandara ini, sehingga agak bingung dengan jalur transportasinya, tetapi dua tiga hari sebelumnya, saya sudah mencari jalur-jalur yang akan saya lewati, alhamdulillah bisa sampai di hotel Tokyu Stay di Ikebukuro, setelah sebelumnya berjuang menggeret tas di tengah hujan yang sedang melanda Jepang karena sedang masuk musim tsuyu (musim hujan di bulan Juni). Dengan mengandalkan keberanian bertanya ke petugas polisi yang membuka peta ajaibnya, akhirnya saya tiba di hotel. Jam masih menunjukkan pukul 11.00, sementara saya diberitahu check in jam 15.00. Terpaksa saya hanya bisa menitipkan tas, dan selanjutnya pergi menghabiskan waktu sampai jam check in. Sebenanrnya saya penat sekali, dan sudah capek jalan, tetapi apa boleh buat.

Beruntunglah kamar hotel yang dipesankan lengkap fasilitasnya, dan yang sangat saya sukai karena tersedia pula mesin cuci kering di dalamnya. Saya paling suka mencuci, dan tidak suka membawa-bawa pakaian kotor. Sayangnya saya tidak sempat mengecek fasilitas kamar hotel sebelum berangkat ke Jepang, seandainya sempat mengecek, pastilah baju-baju bisa saya kurangi. Hari pertama saya habiskan untuk istirahat, sambil menyiapkan makalah untuk seminar tanggal 15 Juni.

Tokyo agak berbeda dengan kota Nagoya yang pernah saya tinggali. Yang sangat mencolok adalah transportasinya yang njlimet dan padat. Ada kurang lebih 13 jalur subway, ditambah jalur train atas tanah. Karena terbiasa dengan Nagoya yang tidak terlalu hiruk pikuk, maka saya agak shock ketika menginjakkan kaki di Ikebukuro.

Karena hari-hari selanjutnya saya akan sibuk dengan persiapan seminar di Toyo University, wawancara riset, dan tentu saja bertemu dengan sensei-sensei saya, maka waktu istirahat saya manfaatkan sebaik mungkin di hari pertama. Hari kedua, saya menginap di rumah teman Jepang karena selain sebagai presenter, saya akan menjadi penerjemah dalam seminar berdua dengan teman tersebut.

Hari ketiga saya pakai untuk berkunjung ke Tamagawa University, dan mewawancarai guru Biologi yang mengajar Super Science di SMA Tamagawa yang merupakan afiliasi Tamagawa Univ., dan sekolah ini sudah ditetapkan sebagai Unesco School. Uniknya mereka menerapkan sistem IB. Saya teringat dengan RSBI yang sudah almarhum. Selain mewawancarai guru, kami juga diajak keliling kelas-kelas, dan mendapatkan brosur dari universitas Tamagawa.

Besoknya, hari kelima, saya manfaatkan untuk melihat Pasar Ikan Tsukiji, dan mendatangi museum sains di Ueno Park. Waktu mengunjungi museum kurang sekali, karena ada banyak hal terkait sains dan biologi yang menarik untuk dipelajari di dalamnya. Saya hanya mendatangi Global Gallery, dan belum sempat ke Japan Gallery, sementara waktu tutup sudah mendekati.

Malamnya, tanggal 18 Juni dengan naik bis Willey Express, saya menuju ke Nagoya. Awalnya saya agak kagok beradaptasi dengan bis 2 baris yang dibuat seperti kapsul hotel. Satu penumpang dikurung dalam kursi yang serba tertutup, bahkan melihat keluar jendela pun susah. Namun, bis ini sangat menjaga privacy, sesuatu yang sangat dihargai di Jepang. Saya tidak tahu apakah karena kecapekan atau karena bisnya yang dibuat sedemikian rupa, sehingga saya tertidur lelap.

Pagi-pagi jam 5.40 saya tiba di Sakae. Jalanan menuju stasiun bawah tanah sangat sepi. Penduduk Nagoya belum bangun. Setibanya di rumah teman, saya langsung mandi, makan pagi, dan rehat. Jam 14.00 hari ini ada kunjungan dan wawancara dengan guru biologi SMA Seiryu. Cerita menarik saya dapatkan dari wawancara ini. Saya juga berkesempatan menengok lab biologi, dan tentu saja diberi buku-buku pelajaran biologi secara gratis. Alhamdulillah.

Besoknya, saya mengunjungi Pusat Training Guru di Aichi, dan mendapat penjelasan tentang aneka training guru sains atau mapel lainnya, juga training terkait ESD. Dari sini, saya menuju ke SMA Toyota Higashi, dan mewawancarai wakaseknya, yang juga PJ pengembangan Education for Sustainable Development. Alhamdulillah, banyak ilmu dan data yang saya peroleh, dan cukup iri dengan lengkapnya training yang disiapkan untuk guru dalam waktu setahun.

Esok harinya sudah ada janji bertemu dengan academic advisor saya dulu, yang sekaligus sekarang menjabat sebagai kepala sekolah afiliasi Nagoya University. Beliau tidak berubah, masih dengan pakaian santai, dan menyambut kedatangan saya dengan gembira. Langsung saja, beliau agak memaksa mengadakan makan malam bersama dengan teman-teman satu lab. Siangnya saya sudah ada janji dengan seorang dosen di Aichi Educational University, karena kami ada rencana riset bersama. Maka, jam 11.00 seorang teman Jepang yang dulu pernah saya ajari bahasa Indonesia dengan baiknya menjemput saya di kampus Nagoya untuk meluncur menuju kampus Aichi di kota Chiryu. Perjalanan sebenarnya satu jam, dan janji bertemu jam 14.00, sehingga kami menghabiskan waktu untuk makan siang di sebuah restoran yang cukup ramai di Kota Chiryu.

Selanjutnya akhir pekan saya mengunjungi keluarga yang pernah saya tinggali dalam program home stay ketika menjadi mahasiswa, keluarga Mizutani yang tinggal di Desa Gujo Hachiman. Di sana saya sempat belajar pendidikan lingkungan di areal pegunungan dan pertanian, yang diselenggarakan oleh sebuah NGO. Mereka juga memperkenalkan kepada saya Project Satoyama, sebuah konsep desa sustainable di Jepang. Sampai larut malam, ayah host family mengajari saya sistem budidaya padi, dan keesokan harinya saya turun ke sawah dan kebun. Banyak hal yang saya pelajari tentang sistem pertanian di Jepang.

Hari berikutnya wawancara dengan guru IPA di SMP afiliasi Nagoya University, dan sempat mengikuti kelas IPA, kebetulan materinya tentang pemgamatan serbuk sari dari berbagai jenis bunga. Ini juga cukup menarik karena kelas sangat besar, kurang lebih 35 orang siswa dalam laboratorium. Dari sekolah ini, saya mendapatkan lungsuran buku-buku pelajaran Biologi SMA. Alhamdulillah, kegiatan riset mandiri selesai hari itu, tanggal 24 Juni 2013. Selanjutnya, persiapan seminar internasional di Nagoya Univ. keesokan harinya.

Tanggal 25 seminar berlangsung dengan presenter dari berbagai negara. Dan seperti biasa, selesai seminar, kami dijamu dengan makanan khas Jepang, padahal malam sebelumnya saya sudah makan-makan juga dalam acara perpisahan seorang visiting professor dari Malaysia.

Tanggal 26 Juni, kami mengunjungi dan mengamati SD Nanzan, sebuah sekolah swasta sangat terkenal di Nagoya, dan menyaksikan sejak siswa datang ke sekolah hingga pulang. Observasi kami lakukan dalam beberapa kelas, saya juga ikut mengamati kelas sains, dan Pak Kepala Sekolah yang ternyata orang Jerman, sangat bersemangat menjelaskan sejarah sekolah dan sistem pendidikan yang mereka terapkan.

Hari selanjutnya kami mengunjungi SMA terbaik di Aichi, SMA Asahigaoka, dan juga SD yang tertua dan merupakan sekolah merger antara SD dan SMP, yaitu SD Sasahima yang ada di kota Nagoya. SMA pertama terkesan tua, sementara SD Sasashima sangat baru dan bersih.

Hari-hari selanjutnya adalah jalan-jalan ke Hiroshima untuk melihat museum pengeboman dan Pulau Miyajima. Lalu dilanjutkan ke Kyoto dengan menu wisata yang sudah berkali-kali saya kunjungi. Tetapi karena dalam rombongan kami, ada yang belum pernah, maka yang sudah pernah harus mengalah.

Selanjutnya kembali ke Nagoya, dan kami menginap di desa yang mendekati perkotaan. Saya sempat diajak ke kebun oleh seorang nenek petani, dan dengan baiknya mereka meminta saya mencabut kedelai, menikmati kyuuri, dan tomat segarnya. Kehidupan mereka sangat menyenangkan dan saya sangat menikmati bersama mereka.

Pagi hari minggu tanggal 30 Juni, sebelum pulang ke Tokyo, saya masih sempat menyaksikan latihan para sumo, yang belum pernah saya saksikan selama hampir tujuh tahun di Jepang. Sekitar jam 10.00, kami diijinkan untuk mengikuti upacara peletakan batu pertama, awal pembangunan sebuah rumah, yang diselenggarakan dalam adat agama Sinto.

Sorenya, dengan shinkansen saya kembali ke Tokyo, karena besok paginya saya harus pulang ke tanah air dari Narita Airport.

Sebuah perjalanan singkat namun banyak yang bisa saya pelajari. Benarlah kata Rasulullah SAW, agar senantiasa kita berkelana untuk melihat kehidupan yang aneka rupa.

  1. loh udah selese ya bu? pak tuswadi dari bajarnegara itu udah selese juga gak?

  2. good

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: