murniramli

Berkebun

In Belajar Kepada Alam, Serba-serbi Indonesia on Agustus 11, 2013 at 7:08 am

Sejak pindah ke Jatimalang, saya punya rutinitas baru mengisi pagi dan sore hari. Kalau biasanya saya lebih senang menghabiskan waktu di kampus hingga semua rekan sudah pulang, atau datang pagi-pagi ke kantor, maka sekarang saya mempunyai kesibukan baru di rumah.

Rumah yang saya tempati sekarang adalah rumah mungil, dan memiliki kebun mungil pula. Ketika saya mulai menempati rumah tersebut, saya sudah membayangkan apa yang akan saya tanam di kebun samping rumah. Tetapi mendadak hujan tak turun, dan tanah kebun semakin mengeras. Saya cukup khawatir akan gagal berkebun. Beruntunglah, lingkungan rumah saya berada di desa yang dikelilingi oleh sawah dengan pengairan yang baik. Karenanya, sekalipun kondisi kering saat ini, tidaklah menyebabkan tanah retak-retak.

Selama kuliah di IPB dulu, saya terbiasa mencangkul dan mengolah lahan sendiri, atau sewaktu mengajar di Darul Falah, saya pasti ikut membantu-bantu mengolah lahan. Tetapi untuk mencangkul lahan kebun seluas 110 meteran persegi di tengah terik panas dan puasa pula, saya angkat tangan.  Tetapi lahan kebun harus diolah, karena kalau dibiarkan, maka akan semakin keras. Akhirnya setelah turun hujan di hari sebelumnya, saya mendapatkan bantuan dari Mbah Surip, kakek tetangga yang biasa mengolah lahan yang saya tempati sekarang. Dulunya memang pekebun, dan biasa mencangkul. Benar saja, Mbah Surip berhasil menyelesaikan cangkulan berikut bedengannya dalam waktu hanya 2 hari. Kalau tanah yang dicangkul lembek, sehari saja cukup, tetapi saya sudah merasakan kekerasan dan kepadatan tanah kebun yang agak berliat tersebut.

Setelah lahan siap, saya biarkan selama 2 harian, dan bingung mau menanam apa, karena persemaian yang saya buat belum jadi. Beruntunglah Mbah Surip datang membawakan bibit kacang lanjaran/kacang panjang, dan langsung ditanamkan oleh beliau sendiri. Saya menambahi tepi utara kebun dengan tanaman terong yang sudah dibibitkan adik di Madiun. Tak lupa saya minta tolong Mbah Surip untuk dicarikan sereh dan pandan. Menjelang maghrib, sereh dan pandan telah tertanam dengan rapi.

Sebenarnya akan sangat baik jika tanah dikapur atau diberi pupuk kandang dulu. Tetapi saya mencoba untuk seminimum mungkin menggunakan bahan kimia. Kapur tidak perlu, dan pupuk kandang bisa menyusul saja. Pupuk lain tidak saya pakai. Sebagai gantinya di pojok kebun saya membuat lubang pengomposan untuk menampung semua sampah dapur. Dalam sistem pembuangan sampah, saya membaginya menjadi tiga kategori, sampah dapur (masuk ke lubang kompos), sampah kertas, dan sampah plastik langsung dibawa ke pengepul yang ada di dekat rumah.

Sekarang tanaman kacang panjang, jagung manis, terong, labu, semangka, tomat sudah mulai menunjukkan pertumbuhan yang menyenangkan. Beberapa daun kacang panjang habis dimakan belalang ataupun dipatuki ayam tetangga. Beberapa juga habis dimakan ulat bulu, karena kadang-kadang beberapa kupu-kupu mampir meninggalkan telurnya. Saya bertahan tidak akan menyemprotnya dengan obat kimiawi. Saya mencoba memahami serangga dan hewan yang ada di kebun, bagaimana mereka saling makan memakan🙂  Kalau akibat proses makan-memakan nantinya akan semakin parah dampaknya, saya akan mencoba alternatif pembasmi hama alami.

Selain tanaman tersebut, masih ada pula beberapa ekor lele yang harus saya pelihara dan perhatikan di kolam kecil yang ada di bagian depan kebun. Saya belum memasang terpal atau plastik untuk mengeraskan pondasi kolam, dan membiarkan lele-lele membuat lobang persembunyian di dinding kolam.

Setiap pagi sore, aktifitas rutin yang saya lakukan sebelum berangkat ke kantor, adalah menyiram tanaman, memberi makan lele, dan merawat persemaian. Saya tidak lagi menggemari duduk berjam-jam di depan laptop di pagi hari, atau menonton TV. Berkebun tampaknya lebih menarik hati, karena setiap hari ada saja perubahan yang terjadi di kebun.

Untuk berjalan di kebun, sengaja saya tidak memakai alas kaki, karena berharap pijakan ke tanah yang menggumpal merupakan refleksi ke tapak kaki yang akan menyehatkan raga dan jiwa. Tanah di pagi hari terasa sejuk, sedangkan tanah di sore hari terasa panas. Hawanya terasa sampai ke badan.

Ibu dan adik berkunjung selama dua hari lalu ke Solo, dan mengomentari bahwa saya mewarisi almarhum Bapak dan Kakek. Ya, saya sangat beruntung terlahir dari keluarga petani, dan dibesarkan di lingkungan rumah yang selalu asri dengan kebun dan halaman penuh bunga, buah dan obat-obatan.

  1. No comment.. #pengen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: