murniramli

Menggabungkan Pengetahuan Sains dan Sikap Ilmiah di SD Nanzan

In Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Pendidikan Jepang, Pendidikan Sains, Penelitian Pendidikan, Sains, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Agustus 11, 2013 at 6:34 am

Salah satu sekolah yang sempat saya kunjungi ketika pergi ke Jepang Juni dan Juli lalu adalah SD Nanzan, yang merupakan sekolah privat terkenal di kota Nagoya. Beruntung kami diijinkan melihat aktivitas siswa sejak masuk sekolah hingga jam sekolah berakhir. Dan lebih beruntung lagi karena saya sempat melihat bagaimana sains diajarkan di SD tersebut. 

Salah satu kelas yang saya amati adalah pelajaran sains kelas 4. Ibu guru yang mengajar masih muda, dan pakaian yang dikenakan bukan jas lab, tetapi epron (celemek) coklat, dan beliau hanya mengenakan baju kaus lengan pendek dan celana panjang. Jika dia berada di Indonesia, pastilah tak ada yang mengiranya seorang guru.

Anak-anak berbaris menuju ruang pelajaran IPA, dan dengan tertib memasuki ruangan, duduk mengelompok di bangku-bangku yang mengelilingi meja. Satu meja terdiri dari 4-5 anak. Kurang lebih ada 6 meja di dalam kelas. Setiap anak membawa kotak kecil, dan memakai jas lab SD berwarna hitam/biru. Jangan dibayangkan sama seperti jas lab putih yang kita biasa lihat di lab, sebab jas lab mereka adalah baju polos tanpa kancing yang berfungsi melindungi baju seragam putih mereka dari kotoran selama bekerja di pembelajaran sains.

Setelah rapi duduk, ibu guru mulai menjelaskan apa kegiatan hari ini, yaitu siswa diminta mengamati, membandingkan, dan menggambar tamanegi (bawang bombay). Guru memberikan pengarahan kegiatan hari itu, yaitu bahwa di setiap meja ada tersedia 2 tamanegi. Masing-masing kelompok diminta mengamati tamanegi dari segi bentuk, warna (bawah dan atas), warna lapisan, dan aroma. Guru menanyakan apakah ada yang tahu bahwa tamanegi sangat beragam? Siswa berlomba mengacungkan tangan dan menjelaskan pemahaman mereka. Guru menunjukkan salah satu gambar tamanegi yang dia buat, dan meminta setiap anak menggambar satu tamanegi yang bisa digambar dari sudut pandang manapun. Anak dibebaskan memilih persfektif mereka.

Selanjutnya pekerjaan secara berkelompok dimulai. Siswa-siswa dalam satu kelompok berdiskusi. Saya mendengarkan perdebatan mereka, dan cukup kaget karena mereka memiliki pandangan yang sangat orisinil, misalnya mempertanyakan mengapa bentuk ujung dan pangkal tamanegi berbeda, apakah aroma pada kedua titik tersebut berbeda, dll. Tampaknya anak-anak itu terbiasa diajak berpikir dan dirangsang rasa ingin tahunya.

Setelah diskusi kelompok selesai, guru kemudian meminta perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Dan sangat antusias mereka mengacungkan tangan, meminta kesempatan pertama untuk berpresentasi. Hasil presentasi sekalipun hanya disampaikan dengan lisan (tanpa gambar), tetapi sangat kritis. Pengamatan yang dilakukan anak-anak itu memang sangat teliti, dan membuat saya tercengang karena saya pun tidak berpikir ke arah sana. Bahkan ada seorang siswa yang berani mengkritik lukisan ibu guru, karena menurutnya tidak sama dengan tamanegi yang ada🙂

Selesai presentasi, guru memuji mereka, dan meminta setiap siswa untuk menggambar sebuah tamanegi di atas piring, dari berbagai sudut pandang. Penugasan ini sebenarnya sederhana, tetapi guru mencoba mengajak siswa untuk menjadi pengamat yang jeli, dan menuangkan hasil amatan tersebut ke dalam kertas gambar. Anak-anak mengeluarkan kotak yang mereka bawa, yang ternyata itu adalah kotak berisi peralatan cat air untuk menggambar. Beberapa anak mengambil air dari kran yang tersedia di dalam ruang kelas, dan di luar ruang kelas. Ada kurang lebih 5-6 kran berderet, sehingga dapat dipakai secara bergantian.

Selama menggambar, beberapa anak memanggil ibu guru dan menanyakan apakah warna yang mereka pilih cocok, atau bolehkah mereka menggambar tamanegi dari arah bawah?

Menjelang akhir pelajaran, ibu guru mengingatkan bahwa waktu kurang dari 2 menit, dan siswa yang sudah selesai mengumpulkan gambarnya, lalu mereka diminta membereskan perlengkapan gambar, membersihkan meja. Tiga orang siswa bertugas mengepel lantai yang basah. Ketiga anak ini terus bekerja sembari guru menjelaskan kesimpulan pembelajaran hari itu. Sebelum menutup pelajaran, guru mengecek kebersihan ruang kelas, termasuk memanggil anak-anak yang menimbulkan basah di dekat kran air. Setelah yakin kelas telah bersih, meja telah rapi kembali, maka guru mengucapkan salam, dan anak-anak mengucapkan terima kasih. Anak-anak segera membuka jas lab, melipatnya dengan rapih di meja masing-masing, dan memasukkannya ke dalam tas kecil yang mereka bawa. Selanjutnya semua berbaris di belakang kelas untuk berjalan menuju kelasnya.

Ibu guru kemudian membereskan gambar anak-anak di belakang, di sebuah rak besi yang berfungsi untuk meletakkan hasil karya anak-anak. Kertas gambar mereka berukuran A3 kalau tidak salah. Ada banyak karya yang sudah dibuat, beberapa diberi nilai dan komentar oleh guru, dan selanjutnya akan dibagikan kepada siswa jika cat sudah benar-benar kering.

Suasana lab tidak terlalu mirip dengan lab yang penuh bahan kimia. Ruang ini menurut saya lebih mirip ruang prakarya. Di belakang, terdapat lemari panjang dengan aneka alat peraga di dalamnya. Di samping terdapat lemari kaca untuk memajang karya terbaik anak-anak.

Satu hal yang menarik, bahwa selama pembelajaran berlangsung, anak-anak tetap ada yang ramai, bercanda dengan temannya,tetapi segera diam menyimak ketika ibu guru mulai berbicara. Dan kedisiplinan dan kerapihan masuk dan keluar kelas mengajarkan sebuah budaya yang tidak saja dipahami tetapi dilaksanakan sejak dini.

Dan yang terpenting dalam pembelajaran sains mengenai makhluk hidup adalah guru tidak segan-segan membawakan benda konkrit di hadapan anak-anak. Ada dua belas tamanegi yang berbeda hari itu disiapkan untuk siswa, agar mereka benar-benar dapat memegang, meraba, menciumi tamanegi, sehingga melekat kuat pengetahuan tentang tamanegi di kepala mereka. Inilah pembelajaran kontekstual dan konstruktivis yang semestinya kita terapkan di kelas-kelas TK, SD, SMP, dan SMA.

Jika sejak kecil, siswa sudah terasah kepekaan mengamati dan kekritisannya, maka tidaklah susah mengajarinya di jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: