murniramli

Target SD Taisanji : Membaca 10.000 buku setahun!

In Pendidikan Dasar, Pendidikan Jepang, Penelitian Pendidikan, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Agustus 11, 2013 at 3:58 am

Membaca semestinya menjadi kebutuhan utama mahasiswa, tetapi sampai berbusa mulut mengingatkan mereka untuk rajin-rajin membaca buku, tampaknya nihil hasilnya. Kebanyakan mahasiswa kami lebih suka mengecek status dan berita di jejaring sosial, dan dengan alasan banyaknya tugas di kampus, tak sempat mereka nongkrong di perpustakaan. Bangunan besar yang ada di tengah-tengah kampus itu, kelihatannya hanya didatangi ketika masa-masa menulis skripsi. Sebenarnya di prodi kami juga ada ruang baca yang sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan prodi, namun itupun kurang maksimal dipakai sebagai tempat membaca, karena kadang-kadang beralih fungsi sebagai ruang kuliah dan ruang rapat.

Membaca memang kalau bukan sebuah kesenangan, sangat sulit dilakukan. Apalagi kalau membaca tidak menjadi kebiasaan sejak kecil yang terus dipupuk hingga dewasa.

Beberapa hari lalu, saya mengobrol dengan seorang anak teman yang pernah bersekolah di SD Jepang, ketika ikut orang tuanya studi di kota yang sama dengan saya. Si anak bercerita bahwa di sekolahnya dulu, ada program memberikan penghargaan (semacam sertifikat) kepada anak yang sudah membaca 50 buah buku dari perpustakaan sekolah dalam waktu sebulan. Lalu, saya tanya, “kakak pernah mendapatkannya?” Dijawab belum pernah. Karena kakak hanya datang ke perpus dua minggu sekali. Mengapa? Saya tidak tahu pasti alasannya, tetapi menurut si anak, dia sangat rajin membaca ketika kelas rendah (1-4 SD), dan setelah itu agak malas. Bertambah parah lagi ketika dia pulang ke Indonesia dan sekarang duduk di bangku SMP. HP dan laptop telah menggeser kegemarannya pada buku.

Saya mencoba menelusuri bagaimana sebenarnya budaya membaca di sekolah diselenggarakan di Jepang. Dan saya menemukan bermacam-macam info, termasuk keresahan ibu-ibu Jepang kepada anak-anaknya yang masih SD, tetapi hanya menghabiskan waktunya untuk bermain game dan menonton TV. Dan ada info sangat bagus dari beberapa SD tentang bagaimana program membaca di sekolah mereka, dan juga kebijakan Kementrian Pendidikan Jepang tentang bagaimana mengaktifkan fungsi perpustakaan sekolah dalam menanamkan budaya membaca.

Barangkali kalau kita datang pertama kali ke Jepang, kita akan terpukau dengan kebiasaan warga membaca di kereta, bis, dan taman-taman kota. Tetapi kalau sudah lama tinggal di sana, apalagi rutin mengikuti perkembangan berita di koran, sebenarnya pemerintah Jepang pun menghadapi masalah yang sama dengan negara lain, akibat perkembangan IT-nya yang sungguh pesat. Masalah tersebut adalah menurunnya minat baca anak-anak dan remaja, dan beralihnya pemanfaatan waktu luang anak dari membaca buku menjadi bermain game, internet, dan menonton TV.

Tetapi terlepas dari kondisi tersebut, ada baiknya kita belajar kepada sekolah yang berhasil meningkatkan motivasi dan semangat membaca di sekolahnya. Saya menemukan contoh yang sangat baik, yaitu SD Taisanji di Kobe. Sekolah ini sudah berusia 140 tahun, dan setelah membaca kolom Dokusho katsudou (読書活動) atau kegiatan membaca di sekolah ini, sungguh patut diacungi jempol.

Program yang mereka buat mungkin sudah lama ada, saya tidak berhasil mencari info sejarahnya, karena berita tentang program ini ditulis sejak 8 Juni 2012. Namun, dalam tulisan tersebut disampaikan bahwa berdasarkan hasil survey membaca bulan Mei, maka dibuatlah program membaca 10.000 buku setahun. Dari data kartu baca (読書記録カード) diketahui bahwa seluruh anak di sekolah tersebut telah membaca 860 buku. Dengan data tersebut, dikalikan 12 bulan, maka mereka memasang target membaca 10.000 buku dalam setahun. Survey tersebut juga mencatat bahwa anak-anak kelas 1 telah membaca 300 buku bergambar, jumlah anak kelas 2 yang membaca buku panjang, meningkat, dan anak kelas 3 mulai banyak menggemari buku tentang magic, detektif, dan cerita dongeng lain. Sementara anak-anak kelas 6 mulai membaca buku-buku bertema kemasyarakatan, sejarah, dan juga Harry Potter (buku panjang).

Lalu, bagaimana sebenarnya rincian kegiatan membaca 10.000 buku di SD Taisanji?

Bulan Juni sekolah mengadakan kegiatan “Ohayou dokusho” (おはよう読書) atau kegiatan Membaca Pagi. Anak-anak kelas 1-2, mendengarkan petugas perpus membacakan cerita (karena ada yang belum bisa membaca), anak-anak kelas atas membaca di ruang kelas masing-masing. Waktu membaca hanya 15 menit, sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Pada hari tertentu, ada program Halo Story, yaitu program mendengarkan guru membaca. Siapa guru yang membaca tidak diumumkan, siswa hanya diberitahu kelas dan judul buku yang dibaca. Siswa bebas memilih buku apa yang ingin dia simak. Program Halo story juga terkadang memberikan kejutan kepada siswa dengan mendatangkan orang tua sebagai pembaca cerita. Ini sangat baik bagi kedua pihak, siswa maupun orang tua.

Kerjasama dengan Perpustakaan kota (Perpustakaan Nishi) pun sangat baik. Menjelang liburan musim panas, petugas perpustakaan kota mendatangi kelas-kelas, dan menjelaskan kepada siswa-siswa kelas bawah tentang buku-buku bergambar yang ada di perpustakaan, dan bagaimana pekerjaan atau kegiatan di perpustakaan. Anak-anak menikmati pengalaman menjadi petugas perpustakaan, misalnya bagaimana memberi label buku baru, menyimpannya di rak, dll. Anak-anak yang rumahnya dekat dengan perpustakaan, dianjurkan untuk mengisi waktu dengan mendatangi perpustakaan dan membantu kerja petugas perpustakaan. Sementara untuk kelas atas, petugas perpustakaan menjelaskan tata cara mencari buku yang diinginkan di perpustakaan, juga cara membaca tabel, grafik, dan diagram. Dan bagaimana memanfaatkan buku untuk menyelesaikan tugas sekolah. Ini dimaksudkan karena kelas atas mulai berminat membaca buku yang agak berat.

Setiap bulan dilakukan pengecekan berapa buku yang telah dibaca. Pada bulan Mei telah dibaca oleh para siswa sekitar 860 buku, dan bulan Juni terjadi peningkatan, yaitu 1558 buku telah diselesaikan. Sekolah semakin giat menyemangati siswa-siswa untuk membaca. Bahkan diselenggarakan kegiatan membaca di dalam keluarga. Orang tua diajak untuk membawa anaknya ke perpustakaan, dan meminjam buku sebanyak-banyaknya. Sekolah bekerjasama dengan Perpustakaan Nishi memberi kesempatan kepada peminjam, untuk meminjam buku maksimal 10 buku sehari. Di rumah, orang tua dianjurkan mematikan TV selama 30 menit, dan menggantinya dengan kegiatan membaca dengan anak.

Di sekolah, anak-anak secara bergiliran ditunjuk menjadi petugas perpustakaan, dan setiap tahun mereka mengumumkan kepada teman-temannya tentang buku bertema apa yang mereka inginkan untuk menambah koleksi buku di perpus sekolah. Anggaran untuk hal ini dapat dikeluarkan dari sekolah, atau sumbangan orang tua, ataaupun donasi yang tidak mengikat. Tahun 2012, ada seorang tokoh di Kota Kobe yang meninggal dalam usia 106 tahun dan beliau menyumbangkan hartanya untuk keperluan pembelian buku perpustakaan sekolah. SD Taisanji menjadi salah satu sekolah yang diberi sumbangan, sehingga tahun itu, sekolah menambah kurang lebih 157 judul buku baru.

Begitulah, berbagai upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk menggalakkan budaya membaca. Kalau kita perhatikan, semangat tidak hanya muncul dari pihak sekolah, tetapi juga pemerintah setempat, terutama perpustakaan kota, dan juga dukungan orang tua. Dan yang sangat menarik, kepala sekolah SD Taisanji adalah orang yang paling berperan besar dan bersemangat menulis dan melaporkan kegiatan ini di blog sekolah.

Budaya membaca dibangun dan dikembangkan di rumah dan di sekolah. Pemerintah hendaknya menempati posisi mensupport keperluan tersebut melalui bantuan buku dan penyediaan perpustakaan yang nyaman dan menjadikan anak-anak betah berkunjung. Tampaknya kita perlu meniru atmosfer dan arsitektur perpustakaan di negara maju, yang kenyamanannya bagaikan di rumah sendiri.

Membaca bukan sekedar “menyuruh anak membaca”, tetapi melatih kepekaan dan kecintaannya pada buku melalui seringnya dia diberi pengalaman bermanfaat dari membaca buku, atau mendengarkan cerita dari buku (kalau dia belum bisa membaca).

Saya yakin kita bisa menyelenggarakannya dari lingkungan terdekat. Ayo mulai !

  1. Masya Allah, saya benar2 takjub mba akan kebiasaan orang jepang yang satu ini. Saya akan coba menerapkannya di sekolah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: