murniramli

Keseimbangan di Alam

In Belajar Kepada Alam on September 12, 2013 at 3:35 pm

Sudah hampir dua bulan saya berkebun dengan sistem organik. Saya tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi. Memang cukup berat, apalagi dengan serangan ulat yang baru-baru ini muncul. Dua pot seledri habis dimakan ulat. Daun-daun bayam, ubi jalar, bahkan bawang daun pun dilahapnya. Yang paling menyedihkan, bibit cabe yang baru saja keluar dua daunnya pun dihabisinya.

P1030231

 

 

 

 

Setelah saya selidiki, ulat-ulat tersebut ternyata berasal dari sayur kangkung yang dibawakan mahasiswa dari Lombok, yang dengan pesatnya beranak pinak. Kangkung tersebut kemudian saya lemparkan ke kolam lele, tentu saja beserta ulat-ulatnya. Sementara yang lainnya, yaitu yang bersarang dan menyembunyikan telurnya di antara daun atau di dalam daun bawang bombay, saya basmi dengan cara alami dan “mengerikan”, yaitu saya matikan satu per satu dengan tangan.

Alhamdulillah ulat-ulat itu sekarang sudah tidak tampak lagi, tetapi serangan berikutnya adalah kutu-kutu yang tidak mau hilang dari daun seledri. Saya mencoba mengantisipasinya dengan penyemprotan yg cukup kencang, dan merendam tanaman dengan air. Ketika kutu ini sempat menyerang tanaman bunga yang sekarang sedang rajin berbunga, saya masih sempat memeriksa dan mematikannya helai demi helai. Juga ketika mereka menyerang tanaman kacang panjang yang saya tanam di awal. Kutu-kutu ini menjadi vektor virus, sehingga beberapa tanaman kacang panjang saya kerdil.

Yang agak sulit untuk dibasmi, dan kadang-kadang saya biarkan saja adalah ulat bulu yang akan menjadi kupu-kupu. Berawal dari tanaman bunga yang cukup menarik kupu-kupu indah hilir mudik di kebun. Kupu-kupu itu tidak hanya menari di atas bunga, tetapi sekaligus bertelur yang kemudian berkembang menjadi ulat bulu. Ada beberapa ulat bulu yang saya biarkan saja, yang penting mereka tidak menggerogoti tanaman peliharaan saya.

Ulat bulu tergolong rakus, tetapi ada yang menarik dari pengaturan di alam. Saya membiarkan semua gulma tumbuh subur di kebun. Tidak ada yang saya cabuti, kecuali kalau sudah benar-benar mengganggu. Maka, jika lahan kebun biasanya bersih dari rumput, bayam berduri, pegagan, saya justru membiarkan mereka. Tindakan ini cukup mujarab, karena beberapa hama tidak mendekati tanaman utama saya. Ulat bulu misalnya lebih suka menempel di salah satu gulma yang berbunga kuning kecil. Satu gulma bisa gundul daunnya dimakan oleh 2-3 ekor ulat bulu yang menempel kencang di batang-batangnya. Sementara bayam berduri tidak diminati semua hama, karena durinya barangkali. Sehingga terong yang saya sandingkan dengan bayam berduri, aman dari serangan hama apapun, dan sekarang sudah mulai muncul calon buahnya.

Tanaman jagung manis yang saya tanam kira-kira 1,5 bulan yang lalu, sekarang sudah semakin besar bahkan mengalahkan tinggi badan saya yang hanya 150 cm. Jagung-jagung tumbuh subur, bahkan sering menjadi tanda tanya bagi orang yang lewat, diberi apa sehingga bisa demikian. Saya tidak memberinya apa-apa, kecuali air yang setiap hari saya kucurkan ke lahan. Di sela-sela daun jagung kadang-kadang ada sarang laba-laba yang saya biarkan menghiasi kebun. Jika penyiraman saya lakukan pagi hari, maka sangat indah menyaksikan butiran embun di jaring laba-laba.

Beberapa bibit tanaman tumbuh dari biji-biji yang saya lemparkan setelah makan buah-buahan dan sayuran. Saya agak kelimpungan menangani bibit ini, sehingga saya membiarkannya memenuhi lahan saja.

Begitulah, tanaman dan hewan-hewan kecil di kebun saya bersinergi, dan berbagi kehidupan. Allah telah memberikan kepercayaan kepada tangan ini untuk merawatnya, tetapi “nyawa” tanaman tersebut tetaplah milikNya. Adakalanya benih yang saya semai tumbuh dengan suburnya, dan kadangpula benih tersebut tak muncul sedikitpun ke permukaan. Subhanallah atas segala fenomena mengagumkan ini !

  1. andai ada mata-mata bening yang ikut mengamati, daripada hanya lihat gambarnya.
    andai ada kaki-kaki kecil yang ikut keliling kebun, daripada duduk kaku menatap papan tulis.
    andai tangan-tangan kecil mereka menggambar dan mencatat perilaku serangga itu.
    tentu mereka akan menjadi pemikir nan cerdas dan tukang tahu-tempe tak perlu mogok gara-gara harga kedele yang menggila karena ulah importir tamak

  2. semoga Allah selalu memberikan kesabaran untukmu dalam menanam yang lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: