murniramli

Menabung

In Serba-Serbi Jepang on Oktober 16, 2013 at 1:51 am

Menabung menjadi anjuran yang sangat ditekankan kepada semua orang dari kanak hingga usia tua. Saking pentingnya, beberapa sekolah “memaksa” siswa untuk menabung, dengan cara membatasi uang jajan, dan menyisihkannya untuk ditabungkan. 

Menabung untuk tujuan membeli sesuatu yang diimpikan, atau memakainya untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjunginya. Menabung untuk membeli kendaraan, membangun rumah, bahkan untuk persiapan menikah, terutama bagi kaum pria.

Tetapi ada dua alasan yang menurut saya paling mulia, dan hendaknya ditanamkan sejak dini, terutama kepada anak-anak muslim, yaitu bahwa hendaknya mereka menabung untuk dapat berkurban, dan menunaikan ibadah haji sekali seumur hidup.

Menabung untuk berkurban, jika sebulan ditabung 100 ribu, maka setahun dapatlah 1,200,000. Jika tak dapat sebesar itu, maka kurangilah, dan artinya masa berkurban pun akan lebih lama. Bagi yang sudah dewasa dan berpenghasilan memadai, maka berkurban hendaklah lebih baik dari tahun ke tahun. Jika tahun ini seekor kambing kecil, maka tahun depan bercita-citalah menjadikannya seekor kambing yang lebih besar, hingga seekor sapi. Seseorang yg sudah meniatkan dan terbiasa berkorban pada Iedul Adha, maka Allah SWT senantiasa meringankan hati dan hartanya untuk berkorban yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya.

Menabung yang kedua untuk menunaikan ibadah haji. Banyak orang yang berangkat haji melalui pinjaman bank, tetapi alangkah baiknya jika dia berangkat dengan hartanya yang halal. Menabung untuk pergi haji hendaklah dimulai dari masa kanak. Ayah dan Ibu bertugas membelikan celengan haji untuk putra-putrinya. Kelak jika ini dibiasakan, maka cita-cita berhaji di masa muda insya Allah tercapai. 

Banyak orang yang ingin sekali berangkat haji, tetapi harus menunggu hingga masa tuanya, karena dana yang tidak memadai. Berhaji pada masa fisik sudah lemah, sangatlah melelahkan karena ibadah haji adalah ibadah fisik pun ibadah rohani. Karenanya hendaknya ditanamkan cita-cita untuk berhaji di masa muda, ketika sudah paham akal dan jiwa kita tentang makna menunaikannya. 

Jika sudah berhaji sekali, maka cukuplah itu. Orang yang masih memiliki harta berlebih, hendaklah menabung untuk menghajikan sanak keluarganya.

Demikianlah, menabung, bukan untuk sekedar membeli barang-barang mewah di mata manusia, tetapi untuk memenuhi panggilan agama yang mulia.

  1. Islam membolehkan menabung untuk rencana yang sudah jelas, misalnya haji dan qurban sebagaimana dicontohkan dalam tulisan. Tetapi menabung untuk sesuatu yang belum jelas justeru tercela dan bisa berdosa. Misalnya menabung hanya untuk “jaga-jaga”. Ini bisa terjerumus pada perbuatan orang yang mengumpulkan harta lalu menghitung-hitungnya.

  2. Terima kasih idenya Bu guru🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: