murniramli

Mengganti Kurikulum

In Kurikulum, Manajemen Pendidikan, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan Sains, SMA on Januari 14, 2014 at 12:40 am

Lama sekali saya tidak bisa aktif menulis, dan ini menyebabkan banyak sekali email yang masuk menanyakan kapan tulisan baru akan dipublish. Saya mohon maaf kepada rekan-rekan pembaca blog ini, karena mungkin bolak-balik mengunjungi blog Berguru, tetapi tidak ada perubahan isi. Bukan karena enggan menulis, tetapi saya benar-benar disibukkan dengan pekerjaan kantor yang biasanya sudah membuat keletihan teramat sangat, sehingga waktu untuk menulis tergantikan dengan tuntutan badan yang meminta istirahat.

Baru saja mahasiswa-mahasiswa kami menyelesaikan PPL, dan saya berkesempatan membimbing mereka sekaligus mengunjungi sekolah-sekolah di Solo. Awal Desember 2013, sekalipun hanya tiga hari, alhamdulillah saya bisa kembali berkunjung ke Lombok, berdiskusi dengan guru SMP dan MA tentang pelaksanaan kurikulum 2013, dan para guru memang belum dilatih, sehingga belum tahu. Yang sudah pelatihan pun masih bingung. Tetapi saya menganggapnya itu hal yang biasa. Yang penting Bapak Ibu guru harus memiliki mind set : mau berubah, bersikap positif terhadap ajakan perubahan, dan menolak kemapanan.

Akhir November dan awal Desember tahun lalu, saya mendapatkan undangan kunjungan ke Jepang, dan lagi-lagi mendapatkan informasi yang sungguh berharga tentang pembelajaran sains di SMP dan SMA Jepang. Saya mulai menemukan benang merah pendidikan sains, sekalipun masih harus belajar banyak.

Baiklah, sesuai dengan judulnya, yang akan saya bahas dalam tulisan ini adalah tentang kurikulum yang baru.  Secara esensi, pergantian kurikulum dengan penekanan pada perubahan pola pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subyek dan bukan obyek pembelajaran adalah hal yang baik. Dan itulah hal pokok yang ingin diusung oleh Kurikulum 2013. Oleh karena itu, metode, strategi, pendekatan, dan model pembelajaran di kelas semuanya mengarah pada mengaktifkan siswa, dan mengurangi peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu.

Kurikulum 2013 ditandai dengan perubahan penekanan fokus pembelajaran. Jika KTSP masih mengutamakan pada kognitif atau kemampuan akademik, maka Kurikulum 2013 menyoroti unsur spiritual atau aspek afektif sebagai kompetensi inti atau kompetensi utama yang harus dicapai setelah proses belajar mengajar.Kompetensi di ranah kognitif menjadi kompetensi inti ketiga, setelah spritual dan sosial/sikap. Sementara, keterampilan atau aspek psikomotorik menjadi kompetensi keempat yang harus dicapai.

Sebenarnya tidak berbeda jauh dari KTSP mengenai kompetensi yang akan diraih. Dalam pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) KTSP dikenal urut-urutan sebagai berikut Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), Indikator (terbagi menjadi Kognitif Produk, Kognitif Proses, Psikomotorik, dan Afektif), dan Tujuan Pembelajaran. Sementara di Kurikulum 2013, susunannya menjadi Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar, Indikator, dan Tujuan Pembelajaran. Perbedaannya di mana? SK sebenarnya sama dengan KD pada Kurikulum 2013. Indikator dan Tujuan sama saja, sementara yang baru adalah Kompetensi Inti, yang terdiri dari 4 komponen yang harus diraih setiap kali selesai satu materi. Kompetisi Inti sebenarnya bentuk break down dari tujuan pendidikan nasional, yang mengharapkan terbentuk manusia bertakwa, berkarakter baik, dan cerdas serta terampil.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan mencantumkan aspek spiritual sebagai Kompetensi Inti pertama, mampu menjadikan pembelajaran di kelas menjadi khas dan lebih bermakna? Lalu, bagaimana mengintegrasikan aspek ini dalam pembelajaran dan bagaimana mengevaluasi bahwa seorang siswa dapat dinyatakan telah mencapai Kompetensi Inti Spiritual? Tentang hal ini, saya kira perlu pembahasan yang lebih luas dalam tulisan yang lain, termasuk mengkaji sistem evaluasi dan asesmen kurikulum 2013.

Pemerintah dalam Panduan Kurikulum 2013 telah menyusunkan KI dan KD pada setiap materi, sehingga guru hanya bertugas mengembangkannya menjadi indikator-indikator seperti dalam RPP di KTSP. Sebenarnya jika sudah terlatih menyusun RPP ala KTSP, ini tidak ada masalah. Tetapi yang terbiasa copy paste, dan tidak berusaha menyusun sendiri RPP-nya, maka ini menjadi berat.

Hal lain yang menarik adalah metode, model, dan strategi pembelajaran. Ada beberapa yang menjadi penekanan dalam kurikulum baru ini, yaitu Problemb Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), Inquiry, dan Discovery Learning. Kesemuanya menekankan pada keaktifan siswa, dan “memaksa” guru untuk menjadi “sutradara” sekaligus “planner” yang mumpuni. Menjadi sutradara dan planner, karena guru harus menyusun “skenario” pembelajaran, membagi peran-peran di antara siswanya, mengatur awal, proses naik, klimaks, hingga “ending” dari proses belajar. Semestinya peran ini dijalankan pada kurikulum yang manapun, tetapi pada umumnya guru tidak memainkan peran ini.

Sebelum mulai menyusun skenario pembelajaran, guru perlu mempelajari konsep-konsep apa saja yang harus diajarkan kepada siswa dalam satu materi, juga harus mengetahui karakteristik siswanya, yang menjadi dasar penyusunan strategi pembelajaran yang harus ditempuhnya. Karena umumnya siswa dapat dikelompokkan memiliki tiga gaya belajar, yaitu audio, visual, dan kinestetik, maka pembelajaran di kelas harus mewadahi semua gaya belajar itu.

Oleh karena itu, jika benar-benar prinsip pembelajaran diterapkan di dalam kelas, maka guru memang harus bekerja ekstra menyiapkan skenario pembelajaran. Dan ini membutuhkan perenungan, pencarian literatur, pemikiran mendalam, dan sekaligus komitmen memahamkan orang lain.

Peran guru sebagai sutradara, planner, fasilitator, dan mediator itulah yang diharapkan terasah pada Kurikulum 2013. Dan untuk hal itu, perlu pelatihan berupa praktek langsung. Barangkali sekarang ini jika disurvey, maka lebih dari 50% guru akan menolak perubahan ini, sebab kita sudah terlenakan dengan model berpidato sambil membaca buku di depan kelas. Dengan metode ini, guru tidak perlu menyiapkan apa-apa. Sementara pendekatan yang baru, guru perlu menyiapkan “skenario” belajar yang ibaratnya sama dengan skenario film atau drama, memuaskan penonton dan pemainnya.

Apakah pendekatan pembelajaran seperti di atas hal yang baru di dunia? Tidak. Semua metode-metode yang saya sebutkan di atas telah diuji dan diteliti sejak puluhan tahun yang lalu. Teori-teorinya telah bersebaran dan ramai didiskusikan pada  akhir abad ke-19 dan abad 20. Jadi, seperti halnya roda, saya melihat perubahan dalam sistem pendidikan terutama prinsip pembelajaran juga berputar, dan akan kembali pada konsep-konsep lama yang kebanyakan lebih jernih melihat pembelajaran sebagai upaya mendidik anak secara alami.

Pendekatan yang sama pun telah saya saksikan ketika studi di Jepang. Guru-guru di Jepang telah mempraktekkan metode-metode di atas, dan ternyata pembelajaran di kelas sangat menyenangkan, dan hasilnya tidak diragukan lagi, prestasi mereka ada di level atas dalam tes PISA. Kalau kita membaca perkembangan riset pembelajaran di negara-negara maju, maka konsep pembelajaran dalam Kurikulum 2013 sudah diterapkan sejak dulu.

Jadi, mungkin merespon secara positif pergantian kurikulum ini adalah sikap yang lebih tidak membuat stress. Bukankah dengan merespon negatif, marah-marah, menuduh ini itu lebih membuang energi dan menyebabkan urat syaraf tegang? Alih-alih memperbaiki pembelajaran di kelas, yang ada hanya sibuk mencela, dan sama sekali tidak ada perbaikan dalam pemahaman siswa.

Memang kurikulum 2013 bukan yang terbaik, sebab memang tidak ada yang terbaik. Tetapi konsepnya sudah lebih baik. Kekurangannya perlu diperbaiki lagi setelah dilaksanakan, dan para guru membantu memberikan masukan. Yang pasti, sebagai guru, jangan bersifat menutup diri, tetapi selalulah membuka diri, supaya ilmu lebih mudah masuk dan dipahami.

  1. Terimakasih postingannya bu, mohon izin untuk dishare…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: