murniramli

Mengapa harus dimulai dari Mengamati ? (Pendekatan Saintifik 1)

In Pembelajaran, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan Sains, Pendidikan Tinggi on Maret 31, 2014 at 10:30 pm

Kurikulum 2013 disebutkan memiliki kekhasan pembelajaran di kelas harus dimulai dari kegiatan mengamati. Pertanyaannya mengapa harus dimulai dari mengamati dan apakah pembelajaran kita di kurikulum yang lalu-lalu tidak dimulai dari kegiatan mengamati, sehingga pemerintah perlu mewajibkannya?

Apa sih mengamati itu?

Mengamati atau dalam bahasa Inggris disebut to observe adalah kegiatan melihat dengan seksama, teliti, dan cermat. Di link thesaurus, terdapat makna observe yang lebih luas, termasuk to dig, to recognize, to pay attention, to study, to scrutinize, to distinguish, to survey, to read, to monitor, to witness.

Artinya, jika aktivitas mengamati perlu melibatkan semua panca indera, dan bahkan menggunakan alat, dan dasar-dasar (teori/konsep awal). Mengamati tidak memadai jika hanya dengan melihat, tidak sama juga dengan kata menyaksikan, melirik, menatap, atau semua kata kerja yang menggunakan mata sebagai alat aktivitasnya. Tetapi mengamati harus melibatkan indera pendengaran untuk menggali sifat sesuatu melalui kegiatan mendengar (suaranya), melibatkan indera peraba untuk merasakan teksturnya, melibatkan indera penciuman untuk mengetahui baunya, melibatkan indera perasa untuk mengetahui rasanya.Intinya tidak cukup dengan menggunakan “mata” saja.

Lalu, mengapa semua kegiatan belajar harus dimulai dari mengamati?

Peserta didik memiliki posisi sebagai subyek dalam pembelajaran, bukan obyek. Yang akan dipelajarinya dalam semua materi, mapel apapun itu, adalah konsep-konsep. Konsep-konsep adalah hal yang abstrak, sehingga tidak bisa dipelajari hanya dengan memaksa siswa untuk menghapalkannya.

Pembelajaran yang menekankan pada menghapal dan “memaksa” siswa untuk paham biasanya dimulai dengan guru menceramahi, membuat definisi, sampai akhirnya membuat contoh. Semua dilakukan oleh guru. Kegiatan seperti ini ternyata terbukti tidak sanggup menanamkan konsep-konsep di kepala siswa dalam jangka waktu yang lama, dan bahkan siswa tidak mampu menerapkan konsep tersebut dalam mengerti fakta-fakta sekitarnya.

Jadi, karena orientasi pembelajaran yang benar adalah siswa yang harus belajar, siswa yang harus membentuk dan mengkonstruksi konsepnya, dan siswa yang harus menarik kesimpulan tentang sebuah konsep, maka siswa harus belajar menjadi seorang “peneliti, investigator, penyelidik, detektif”. Kesemua profesi tersebut memulai aktivitasnya dengan cara mengamati.

Dari mengamati, apa yang akan dihasilkan siswa? Banyak sekali. Contoh dalam pembelajaran IPA di SD, mempelajari tentang suhu badan.  Siswa diberi termometer, lalu dibiarkan oleh guru untuk mengukur suhu tubuhnya atau temannya berdasarkan cara yang mereka pahami (pemahaman tentang cara memakai termometer diketahui siswa dari pengalamannya atau dari pembelajaran sebelumnya). Ada yang mengukur suhu tubuh dengan meletakkan termometer di ketiak, ada yang di mulut, ada yang di kepala, ada yang di lekukan antara paha dan betis, ada yang di belakang telinga, dll. Hasil pengamatan mereka catat di papan tulis berikut cara mengukurnya, dan siapa yang diukur. Setelah semuanya duduk, guru meminta mereka mengamati hasil pengamatan mereka di papan tulis. Siswa pasti akan bertanya, “la kok beda-beda hasilnya?” Jika siswa belum terbiasa untuk bertanya, maka mungkin mereka diam, maka di sinilah guru harus berperan, membimbing siswa untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan ingin tahu. Guru menunjuk siswanya secara acak dari yang siswa-siswa pandai, menengah, hingga yang agak lambat daya tangkapnya, untuk menanya. Semuanya harus dilatih bertanya, sebagai dasar kedua menjadi “penyelidik” (dasar pertama adalah mengamati).

Jadi, dari mengamati akan lahir komunikasi, yang diawali dengan menanya, menjawab, merespon, dan tentu saja sebagai penyelidik, muncul kecurigaan, dan penasaran. Nah, jika siswa sudah penasaran, maka guru telah berhasil memulai budaya belajar yang paling basic. Rasa penasaran, curiga, ingin tahulah yang mendorong manusia untuk membuat aneka barang, mengetahui sesuatu, memahami konsep, dan memperbaiki sesuatu.

Dari hasil pengamatan terhadap suhu yang berbeda apa lagi yang dapat dilakukan siswa? Ya, mengklasifikasikan atau mengelompokkan. Pengelompokkan bisa dilakukan berdasarkan suhu, berdasarkan cara, atau berdasarkan siapa yang diukur. Mengapa harus dikelompokkan? Karena dengan mengelompokkan, siswa akan mengetahui kesamaan dan perbedaan dalam kelompok dan antarkelompok. Dengan pengelompokan, dia belajar tren atau pola-pola tertentu. Maka dari pengelompokkan, muncullah kegiatan mengidentifikasi, yaitu menyebutkan ciri-ciri kelompok.

Kegiatan terus berlanjut di kelas, dari pengelompokan, pengidentifikasian, sampai mencari penyebab mengapa hasilnya berbeda, siswa dibimbing untuk menggunakan kemampuan membacanya agar dapat sampai pada jawaban atau konsep suhu tubuh dan pengukurannya. Guru dalam proses ini hanya mengarahkan, dan sama sekali tidak boleh memberitahukan jawaban/konsep melalui penjelasan. Karena kalau guru memainkan fungsi “tradisional”nya, maka siswa akan menganggap sumber informasi terakhir adalah GURU. Kalau sudah begini, maka penyelidikan selesai, rasa ingin tahu yang lebih banyak menjadi pupus, dan siswa lagi-lagi akan menghapal “penjelasan keramat” guru. Inilah yang salah dalam proses belajar.

Apakah semua mapel bisa dimulai dari mengamati?

Ya, bisa. Berdasarkan definisi di atas, maka apapun bisa dibawa ke kelas oleh guru untuk diamati. Guru Penjas bisa meminta siswa untuk mengamati otot-otot bicep dan tricep sebelum masuk pada kegiatan “berlari”. Siswa harus menemukan konsep, mengapa harus berlari, dan bagaimana berlari yang benar.

Yang paling penting dilatihkan kepada guru-guru yang akan menjadi pengarah bagi para “detektif” (siswa) adalah pengetahuan, keterampilan, dan kepekaan mengamati. Jangan sampai guru belum terlatih mengamati, karena dia tidak akan berhasil menjadi pembimbing. Karenanya, hanya satu cara untuk dapat menjadi pengamat yang baik bagi seorang guru, yaitu menguasai konsepnya, melatih keterampilan mengamati, dan melatih “sense”nya.

Selamat mengamati !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: