murniramli

Setelah Mengamati, Menanya (Pendekatan Saintifik 2)

In Kurikulum, Pembelajaran, Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Pendidikan Indonesia, Pendidikan Menengah, Pendidikan Sains, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, SMA on April 1, 2014 at 11:19 pm

Langkah kedua yang harus dilakukan siswa dalam kerangka berlatih menjadi penyelidik atau peneliti adalah menanya, atau mengajukan pertanyaan. Setelah mengamati obyek, fakta, kasus, dan fenomena, maka dia akan menemukan hubungan dan keterkaitan juga kejanggalan. Penemuan ini memunculkan ketertarikan pada diri siswa untuk mengetahui lebih jauh. Caranya? Ya, dia harus dibimbing menyusun pertanyaan-pertanyaan terkait dengan hal itu.

Contoh kasus, siswa SMP dalam pembelajaran ekosistem diminta oleh gurunya untuk mengamati kebun sekolah (kebunnya harus komplit dengan aneka tanaman/tumbuhan ataupun kaya dengan fauna yang khas kebun-misalnya berbagai jenis serangga, ulat, cacing, semut, dll). Guru meminta mereka mengamati, mengukur, dan mencatat hasil pengamatan pada LKS. Siswa akan mendapatkan aneka makhluk tergantung ketelitiannya mengamati. Contoh yang akan ditemukan siswa adalah tanaman mawar, rumput teki, tanaman soka, cabe, tomat, rumput sikat, rumput Y, rumput Z (siswa tidak mengetahui namanya, tetapi menggambarnya), melati, pohon flamboyan, pohon bungur, lidah mertua, kutu daun, belalang, kupu-kupu, serangga D, serangga A (tidak tahu namanya), kepik, semut merah, semut hitam, keong, cacing, kodok, batu, kerikil, pecahan genting, tanah liat, pasir, tanah biasa, air di kolam, teratai, ikan, lumut. Siswa juga mencacah jumlahnya, tanaman bunga yang dominan adalah bunga soka, sementara rumput yang mendominasi adalah rumput teki. Anak-anak juga mengukur suhu udara hari itu.

Sekembalinya ke kelas, guru meminta mereka bekerja dalam kelompok, menyajikan hasil pengamatan masing-masing individu kelompok, lalu guru memberikan kertas besar kepada masing-masing kelompok untuk merangkum hasil pengamatannya. Setelah dirangkum, siswa akan melihat ada yang menemukan makhluk yang tidak dia temukan. Guru kemudian mengarahkan siswa untuk mengelompokkan makhluk yang mereka amati.Ketika mengelompokkan siswa tentu akan menggunakan tanya jawab. Apakah bunga kita kelompokkan dengan rumput? Apakah batu kita kelompokkan dengan air? Apakah cacing sekelompok kodok? Jika ya, apa alasannya? Mengapa? Sambil bertanya jawab, mereka menyelesaikan tugas pengelompokkan.

Guru meminta salah satu kelompok maju menyampaikan hasil pengelompokkannya, dan meminta siswa lain menanggapi. Lagi-lagi guru melatih siswa bertanya/berpendapat. Siswa-siswa kemungkinan akan berselisih pendapat antara mengelompokkan tanaman secara rinci, hewan secara rinci, dan benda-benda mati.

Sebagai guru, kita akan terkesima dengan dasar berpikir dan cara pandang anak-anak. Mereka terkadang menyajikan sesuatu yang sebenarnya di luar dugaan kita sebagai guru. Dalam kondisi demikian, guru harus menguasai terlebih dahulu dengan sebaik-baiknya tentang konsep-konsep dalam mempelajari ekosistem. Jika hari itu materi yang akan dipelajari adalah komponen-komponen abiotik dan biotik, maka siswa hendaklah diarahkan untuk melakukan pengelompokkan secara makro, misalnya dengan melakukan tanya jawab berikut ini :

Guru : Baiklah kelompok 1 mengelompokkan mawar, soka, lidah mertua sebagai tanaman hias, lalu cabe, tomat sebagai sayur, flamboyan dan bungur sebagai pohon, dan rumput teki sebagai rumput, lalu kepik, belalang sebagai serangga, dan kodok, serta ikan dalam kelompok yang berbeda, dan cacing pada kelompok yang lain.Bagaimana menurut Amin?

Amin : Saya kira akan lebih bagus kalau dikelompokkan berdasarkan besar kecilnya, Bu. Jadi, mawar, soka, cabe, dan tomat itu tanaman sedang, flamboyan dan bungur tanaman besar, dan rumput tanaman kecil. Serangga-serangga kecil, cacing adalah kelompok sedang, dan kodok, ikan adalah kelompok besar.

Guru : Bagus sekali Amin, kamu sudah mengelompokkannya berdasarkan ukuran. Nah, sekarang perhatikan lagi hasil pengelompokkan baru Amin, apakah kalian bisa menemukan persamaan dan perbedaannya, Siska?

Siska : Ya, Bu. Menurut saya, bunga, rumput, bungur itu semuanya tanaman. Serangga, cacing, kodok, ikan sama-sama hewan. Lalu, batu, air, tanah, pasir sama-sama makhluk tak hidup.

Guru : Pandai sekali Siska. Ya, kalau begitu kita mendapatkan pengelompokkan yang lebih sederhana sekarang. Ada tiga kelompok, tumbuhan/tanaman, hewan, dan makhluk tak hidup. Menurutmu masih bisakah pengelompokkan ini disederhanakan, Bima?

Bima : Ya, masih bisa Bu. Jadi dua saja, yaitu tanaman dan hewan kita satukan menjadi kelompok makhluk hidup, dan yang lainnya kelompok makhluk tak hidup.

Guru : Pintar sekali. Bagaimana anak-anak kalian setuju?

Anak-anak : ya, setuju.

Guru : Sekarang, coba kalian buka buku pelajaran bab ekosistem, apa istilah lain yang dipakai untuk kedua kelompok ini.

Anak-anak membaca, dan menemukan istilah biotik dan abiotik.

Selanjutnya guru menempelkan di papan tulis kertas karton besar yang merupakan replika kebun sekolah. Di dalamnya ada aneka makhluk seperti yang diamati siswa, tetapi dengan nama-nama yang sudah lengkap. Guru selanjutnya meminta anak-anak memperhatikan gambar, dan kembali memulai tanya jawab :

Guru : Anak-anak, di kebun sekolah kita yang kecil seperti itu, ada banyak sekali makhluk yang tinggal di sana. Untuk bertahan hidup mereka harus melakukan upaya/cara tertentu? Upaya atau cara apa saja yang mereka lakukan supaya dapat bertahan hidup, Bagas?

Bagas : Nggg….hewannya harus bernafas, Bu.

Guru : Ya, betul sekali. Kalau hewan bernafas, maka dia memerlukan apa, Indri?

Indri : Hewan memerlukan O2, Bu.

Guru : Ya, betul. O2 didapatkan di mana, Joko?

Joko : Eee….di udara mungkin, Bu.

Guru : Betul, O2 ada di udara, tetapi siapa yang menyediakannya, Ina?

Ina : Allah, Bu

Grrrr……anak-anak yang lain tertawa.

Guru : Betul sekali, Allah menyediakan O2 untuk makhluk hidup supaya bisa bernafas, melalui perantaraan makhluk lain. Apakah kalian masih ingat peristiwa fotosintesis?

Rina : Ooh, saya tahu Bu. Berarti O2 disediakan oleh tumbuhan melalui fotosintesis.

Guru : Ya, pintar sekali. Jadi, untuk bernafas, hewan-hewan terbantu oleh tumbuhan yang menyediakan O2.

Rahman : Ibu, berarti kalau tidak ada tumbuhan, seperti di gurun, bagaimana hewan-hewan di sana mendapatkan O2?

Guru : Kamu kritis sekali, Rahman? Ayo siapa yang bisa membantu Rahman?

Ali : Apakah di gurun benar-benar tidak ada tanaman? Sepertinya di film, saya pernah melihat ada rumput dan kaktus.

Mia : Juga ada pohon kurma karena ayah ibu saya melihatnya waktu naik haji.

Guru : Betul sekali. Di gurun tetap ada tanaman, tetapi tidak sebanyak tanaman di sekitar kita. Jenisnya pun berbeda. Kalau kalian perhatikan kaktus, tanamannya seperti apa?

Risa : Tanamannya gemuk-gemuk, Bu. Karena mungkin menyimpan air.

Guru : Ya, tanaman di gurun umumnya tanaman yang bisa menyimpan air atau tahan kekeringan.

Risa : Berarti rumput-rumputnya juga tahan kering, Bu?

Guru : Ya, tentu saja. Karena di gurun sangat susah air, maka tumbuhan yang ada di sana adalah tumbuhan yang tahan kekeringan. Kembali ke pertanyaan Rahman, berarti O2 di gurun dihasilkan oleh tumbuhan-tumbuhan yanga ada di gurun ya. Tetapi di beberapa tempat di gurun, tidak ada sama sekali tanaman, apakah ada hewan yang hidup di situ? Kalau ada bagaimana caranya mereka mendapatkan O2?

Anak-anak terdiam berpikir.

Rahman : Bu, apakah mungkin karena angin bertiup membawa O2 ke gurun?

Guru : Betul sekali, angin juga berperan membawa O2 menuju ke gurun. Anak-anak, kalian pasti masih penasaran, bagaimana makhluk di gurun bisa bertahan hidup. Supaya bisa mengetahuinya lebih jelas, apa yang akan kalian lakukan?

Bagas : Baca buku, Bu. Atau cari di internet.

Guru : Ya, bagus sekali. Kalian bisa ke perpustakaan, baca buku, atau jika ada kakak, keluarga, tetangga yang ahli biologi, kalian bisa menanyakan kepada mereka tentang apa yang ingin kalian ketahui. Baiklah, kita coba lanjutkan percakapan tentang makhluk-makhluk di kebun kita. Tadi, kita sudah mempelajari bahwa untuk bertahan hidup, hewan bernafas, dan tumbuhan menyediakan O2 untuknya. Lalu, apakah hanya dengan bernafas, hewan bisa hidup?

Ani : Tidak Bu. Sama seperti kita, hewan juga harus makan dan minum.

Guru : Lalu, dari mana dia memperoleh makanan dan minumannya?

Ani : Kalau minum, ya dari air yang ada di sekitarnya. Kalau makanan dari tumbuhan/tanaman, Bu. Mereka makan daun-daun.

Bagas : Tapi kodok tidak makan tanaman, Ani. Kodok makan nyamuk.

Ani : Oya, berarti ada hewan makan tumbuhan, dan ada juga yang makan hewan ya, Bu.

Guru : Kalian pintar semua. Ya, hewan tergantung pada hewan dan tumbuhan untuk memperoleh makanannya.

Risa : Bu, apa yang dimakan cacing tanah? Apakah dia makan tanaman juga? Atau dia makan tanah?

Hahahahah…….

Guru : Ada yang tahu, apa yang dimakan cacing tanah?

Anak-anak terdiam.

Guru : Baiklah, berarti ini menjadi PR kita bersama, nanti kita akan cari tahu, apa yang dimakan cacing tanah ya. Sekarang,coba kalian buka buku pelajaran. Tadi, kalian sudah mengetahui bahwa tanaman menyediakan makanan bagi hewan, disebut apa peran tanaman tersebut? Coba kalian baca di buku.

Anak-anak membaca, dan menemukan jawabannya, produsen.

Risa : Bu, jika tanaman menyediakan makanan untuk hewan, maka dia disebut produsen, lalu apakah nyamuk juga disebut produsen karena dia menyediakan makanan untuk kodok?

Rahman : Saya kira tidak, Risa. Kalau tanaman memasak sendiri makanan melalui fotosintesis, tetapi kalau nyamuk tidak bisa memasak makanan, karena dia juga makan makhluk yang lain.Jadi, nyamuk bukan produsen, tetapi konsumen.

Risa : Berarti kalau begitu, tanaman untuk hidup kan harus makan juga, dia makan apa?

Lisa : Dia makan dan minum dari tanah melalui akar-akarnya. Ujung akar akan menyerap air, juga zat-zat hara di tanah.

Risa : Jadi, tanaman makan makhluk tak hidup ya? Memangnya tidak ada tanaman yang makan hewan?

Budi : Ada, kantung semar. Dia makan hewan

Risa : Berarti dia bisa makan manusia, dong. Kan, manusia juga hewan

Hahahahah…….

Guru : Anak-anak, asyik sekali kalian berdiskusi. Coba, Risa nanti kamu cari ya, apakah kantung semar bisa makan manusia. Benar sekali penjelasan Lisa dan Rahman tentang produsen. Tanaman adalah produsen karena tanaman memiliki sistem produksi makanan atau memasak makanan melalui proses fotosintesis. Makanan itu disimpannya di mana, Joko?

Joko : Karena yang dimakan hewan adalah daun-daun, maka mungkin ditaruh di daun, Bu.

Mia : Tapi kupu-kupu mengisap madu dari bunga, bukan makan daun, Joko. Jadi, Bu, apakah makanan yang dimasak tanaman hanya disimpan di daun?

………

Jika Anda adalah gurunya, silakan melanjutkan percakapan di atas.

Yang pasti, guru hari itu ingin membangun konsep anak tentang komponen ekosistem, fungsi masing-masing komponen, yaitu produsen, konsumen, dekomposer, dan detrivora.

Berdasarkan pengalaman saya mengajar, anak-anak sangat “liar” dalam bertanya. Jika mereka diberi kesempatan, maka ratusan pertanyaan akan keluar, sebagai ekspresi rasa ingin tahu. Peran guru, tidak boleh marah dan kesal karena pertanyaan mereka. Dan jangan lupa, guru tidak boleh menjawab pertanyaan, tetapi harus mengantarkan siswa pada jawaban melalui pertanyaan yang lebih detil, yang berisikan konflik pemahaman siswa, atau mengajak siswa melihatnya lebih dalam. Ada pertanyaan yang mungkin bisa kita jawab, tetapi ada juga yang kita belum tahu. Karena posisi kita dan siswa sama, yaitu harus sama-sama belajar, maka ajaklah siswa untuk mencarinya bersama.

Pembelajaran dengan cara refleksi melalui tanya jawab atau dialog socrates seperti di atas, memang memakan waktu, tetapi saya yakin anak-anak akan memahami konsep lebih baik.

Selamat mencoba !

Iklan
  1. Terima kasih artikelnya bu 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: