murniramli

Mencoba/Menyelidiki (Pendekatan Saintifik-4)

In Belajar Kepada Alam, Kurikulum, Pembelajaran, Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Sains, Sains, SMA on April 12, 2014 at 2:43 am

Pada tulisan yang lalu sudah diuraikan tentang bagaimana siswa dilatih melakukan penalaran melalui dugaan-dugaan sementara yang mereka susun berdasarkan rumusan pertanyaan/masalah. Dugaan-dugaan yang dibuat siswa perlu dilanjutkan dengan pembuktian atau penyelidikan. Pendekatan saintifik pada fase ini adalah mencoba atau menyelidiki.

Saking lamanya model ceramah diterapkan di kelas-kelas sains di tanah air, saya menemukan kesulitan pada guru dan calon guru untuk melatih kemampuan siswa mencoba dan menyelidiki sendiri. Berdasarkan pengamatan sederhana tersebut, saya berkesimpulan bahwa yang pertama kali harus diubah oleh kita semua adalah mindset atau pola pandang kita kepada murid-murid kita. Anggapan selama ini adalah siswa TIDAK BISA MELAKUKAN PRAKTIKUM kecuali dipandu oleh guru. Atau siswa TIDAK PUNYA INISIATIF untuk melakukan penyelidikan. Atau siswa POKOKE NGIKUT APA KATA GURU. Anggapan itu harus kita hapus dulu, dan mulai membangun keyakinan bahwa MURID-MURID PASTI BISA.

Nah, setelah meyakini itu, the rest adalah memikirkan bagaimana melatihkannya.

Kunci utama melatih kemampuan siswa mencoba dan menyelidiki adalah jangan terlalu banyak batasan, panduan, aturan yang mengekang kreativitas berpikir siswa. Kunci kedua adalah guru mengarahkan bukan membatasi dengan ketat.

Selanjutnya mari kita coba pelajari skenario pembelajaran berikut ini tentang Planaria. Saya mendapatkan idenya dari praktikum Ekologi Hewan yang dilakukan mahasiswa di prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS. Sebelumnya saya tidak tahu menahu tentang Planaria, jadi karena terdorong rasa ingin tahu, saya mencari penjelasan. Sebelumnya saya sudah bertanya kepada asisten, tetapi karena jawabannya tidak memuaskan maka saya bertanya lanjut kepada dosen pengampu. Ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab, maka saya men-search-nya di jurnal-jurnal. Ternyata, Planaria adalah cacing yang sangat hebat, dan selalu menjadi model praktikum untuk mempelajari animal behaviour.

Ciri khas planaria adalah kemampuannya memperbanyak diri secara aseksual (fragmentasi), kepekaan pada cahaya, dan geotaxis (peka pada gravitasi). Planaria dapat ditemui di sungai, mata air yang jernih, terlindung dari sinar matahari, menempel pada bebatuan, air mengalir.

Tugas penyelidikan/percobaan yang diberikan kepada siswa adalah mempelajari tabiat planaria melalui percobaan. Jika pada kegiatan praktikum yang konvensional, siswa diberi panduan prosedur melakukan praktikum, termasuk bahan dan alat sudah disiapkan, maka pada praktikum yang lebih modern (dan jelas lebih menantang) adalah siswa diberi kebebasan merancang percobaannya termasuk menentukan alat dan bahan, dan cara/teknik yang mereka pilih.

Bayangan saya jika metode ini disampaikan kepada siswa, maka yang tidak terbiasa melakukan percobaan mandiri atau siswa yang  “maunya disuapi” saja, pasti mereka akan kewalahan. Tetapi, siswa yang memiliki inisiatif, biasa mencoba, dan “rasa penasaran” yang tinggi, pasti akan senang sekali. Tugas guru adalah mengawal kegiatan ini agar semua siswa memiliki “passion” (hasrat, keinginan kuat) untuk merancang percobaannya. Bagaimana caranya?

Siswa yang sudah terbiasa dikelompokkan bersama dengan siswa yang ogah-ogahan, supaya ada saling belajar. Jumlah siswa yang berminat biasanya lebih sedikit daripada yang malas berpikir. Jadi, pengelompokkan yang terbentuk bisa saja ada ketimpangan. Bagaimanapun situasi yang berkembang di kelas, guru adalah “sutradara” dan “pengendali” agar semuanya berjalan sesuai konsep-konsep yang harus dikuasai siswa.Dan keahlian menjadi “sutradara” di kelas, tidak diperoleh dari bangku kuliah untuk menjadi calon guru, tetapi melalui pengalaman mengajar di real class. Ini adalah tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang hanya bisa diperoleh dan dikuasai melalui pengalaman berulang-ulang.

Pada rancangan praktikum terkait dengan perkembangan aseksual planaria, siswa kemungkinan akan memotong-motong cacing dengan pola yang sistematis, memotong pada semua bagian tubuh, dan melihat bagaimana perkembangannya. Jika dipandu, biasanya guru meminta siswa memotong pada bagian tertentu, secara simetris, atau pada bagian yang lebih mudah berkembang biak. Tetapi pada rancangan ala siswa, biarkan mereka menemukan pada bagian mana yang lebih cepat berkembangbiak, termasuk fragmentasi mana yang paling ideal, atau bahkan sering terjadi.

Pada kasus perilaku planaria dengan cahaya, maka siswa akan merancangnya dengan aneka pencahayaan, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Jika siswanya “sangat iseng”, barangkali dia akan mengamati perilaku planaria pada malam hari.Demikian pula pada kasus geotaxis yang dimiliki oleh planaria. Siswa akan menempatkan planaria pada posisi beragam, dan melihat bagaimana hewan ini bergerak sejalan dengan konsep gravitasi.

Jika sudah menemukan jawaban-jawaban atau fakta-fakta baru dari hasil percobaan, selanjutnya siswa diarahkan untuk menyelidiki lebih lanjut, mengapa semua perilaku itu terjadi. Jawabannya bisa dicari siswa melalui kajian literatur di buku-buku bertema cacing atau di internet, berupa hasil penelitian ahli biologi. Karena perkembangan kognitifnya yang masih terbatas, maka siswa SMA tentu belum dapat sampai pada menganalisa zat-zat yang dihasilkan planaria, komponen tubuhnya, dan enzim-enzim serta mekanisme yang terjadi, melalui percobaan. Karenanya guru memfasilitasi keterbatasan ini dengan mengarahkan siswa menyelidikinya melalui bukti-bukti ilmiah yang ditulis oleh ahli biologi.

Demikian, banyak cara melatihkan siswa untuk mencoba dan menyelidiki fakta ilmiah, dan tentu saja hal itu memerlukan waktu dan kekreativan guru.

Selamat mencoba !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: