murniramli

Selanjutnya Mari Belajar Menalar (Pendekatan Saintifik-3)

In Pembelajaran, Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, Pendidikan Sains, SMA on April 12, 2014 at 1:31 am

Jika para siswa sudah pandai mengamati dan menanya, maka selanjutnya dia perlu menempuh langkah menalar hasil pengamatannya dan dugaan pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya terhadap kasus yang sedang dihadapinya.

Menalar adalah berpikir logik, mengaitkan konsep dan fakta, mengaitkan keterhubungan fakta-fakta, dan mencari apakah ada sebab akibat antarfakta, baik linier maupun bertolak belakang. Kemampuan ini diperlukan oleh siswa untuk memahami fakta-fakta dan menjelaskan fenomena ilmiah yang ada di dalamnya.

Bagaimana melatihkannya kepada siswa?

Menalar bisa dilatihkan pada fase anak-anak membuat hipotesa atau dugaan/jawaban sementara terhadap pertanyaan-pertanyaan masalah yang diajukannya pada tahap kedua, setelah mengamati. Misalnya saja dalam pembelajaran terkait dengan Sistem Ekskresi, yaitu keluarnya keringat dari kulit. Supaya mudah dipahami, saya berikan ilustrasi berikut :

Pada kegiatan pendahuluan, guru dapat meminta dua anak untuk maju ke depan,keduanya berbeda jenis kelamin, juga berbeda berat badan. Keduanya diminta melakukan aktivitas yang sama, berlari di tempat selama 5-7 menit. Setelah aktivitas berlangsung, siswa-siswa yang lain diminta mengamati yang mana yang mengeluarkan keringat lebih banyak. Siswa dipersilakan memikirkan bagaimana cara mengeceknya. Hasil pengamatan dituliskan di papan tulis, misalnya siswa laki-laki mengeluarkan keringat lebih banyak, siswa gemuk mengeluarkan keringat lebih banyak.

Selanjutnya, guru meminta siswa mengajukan aneka pertanyaan terkait dengan fakta yang mereka temukan. Pertanyaan yang disusun siswa kemungkinan seperti ini :

Apakah ada pengaruh bobot badan dengan jumlah keringat?
Apakah ada pengaruh jenis kelamin terhadap jumlah keringat?
Mengapa laki-laki mengeluarkan keringat lebih banyak?
Mengapa orang gemuk mengeluarkan keringat lebih banyak?
Apakah ada faktor lain yang menyebabkan jumlah keringat berbeda?
Apakah kandungan keringat semua orang sama?
dll

Pada fase selanjutnya setelah pertanyaan-pertanyaan terkumpul, siswa diminta menyusun dugaan sementara terhadap jawaban tersebut. Dugaan/jawaban yang disampaikan siswa tidak boleh sekedar menjawab, tetapi mereka berusaha menggunakan logika berpikir berdasarkan konsep yang sudah dipahaminya sebelumnya. Misalnya, siswa sebenarnya sudah pernah mendengar bahwa keringat laki-laki berjumlah lebih banyak daripada wanita karena laki-laki lebih kuat, yang gemuk lebih berkeringat karena lemaknya lebih banyak.

Langkah selanjutnya siswa membuktikan dugaan tersebut berdasarkan pengujian atau kajian literatur.

Menalar sebagaimana dikemukakan di atas, siswa berlatih memprediksi hubungan antarfakta berdasarkan konsep-konsep yang dikuasainya. Jadi, seandainya terkait dengan kasus keringat di atas, guru memberikan pertanyaan-pertanyaan lanjutan, misalnya, apakah semua laki-laki pasti berkeringat lebih banyak daripada perempuan? Apakah semua orang gemuk berkeringat lebih banyak daripada orang kurus?

Melalui pertanyaan itu, siswa akan melatih kemampuan berpikir logiknya atau daya menalarnya. Pada fakta pengamatan dia menyaksikan bahwa laki-laki berkeringat lebih banyak, dan orang gemuk berkeringat lebih banyak. Namun, jika dikembangkan kasusnya, apakah semua laki-laki berkeringat lebih banyak? Siswa belajar menalar hubungan jenis kelamin dan bobot badan. Mencari hubungan logik keduanya melalui kasus keringat.

Terkait dengan kasus keringat, guru dapat melatih kemampuan nalar siswa dengan melebarkan kasus keringat saja, misalnya dengan mendorong siswa menyelidiki lebih jauh apakah pori-pori kulit, kelenjar keringat, dan saluran keringat semua orang sama. Jika ya, mengapa, dan jika tidak mengapa. Apakah orang yang diam (tidak beraktivitas), gemuk, dan berada di tempat panas, mengeluarkan keringat lebih banyak daripada orang yang bergerak, kurus, dan berada di tempat dingin?

Berdasarkan uraian di atas, kita dapat melihat bahwa pertanyaan-pertanyaan dibangun secara bertingkat. Pertama mengaitkan pengaruh satu faktor terhadap keringat, selanjutnya pengaruh dua faktor, dan pada akhirnya membuat keterkaitan yang lebih kompleks, apakah semua faktor berinteraksi dalam menyebabkan keluarnya keringat.

Dengan kepandaian guru menyusun pertanyaan lanjutan yang sifatnya membangun konsep, meng”konflik”kan konsep lama dan yang baru dengan fakta-fakta yang secara bertahap dipersulit, hasilnya akan mencetak siswa yang pandai, kritis, dan logis dalam berpikir.

Selamat mencoba !

 

 

  1. terima kasih banyak atas informasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: