murniramli

Bergerak : Menstimulus Kesiapan Siswa

In Pembelajaran, Pendidikan Biologi, Pendidikan Dasar, Serba-Serbi Jepang, SMA on Januari 11, 2015 at 4:39 am

Apa artinya bergerak? Aha, itu pertanyaan mudah yang bisa dijawab dengan cepat oleh anak kecil tetangga saya dengan cara menggoyang-goyangkan badannya🙂 Tetapi kalau pertanyaan itu saya ajukan kepada mahasiswa, maka mereka akan berpikir beberapa detik sebelum menjawab, dan jawabannya tentu berbeda.

Ada mahasiswa yang menjawab, bergerak adalah menggerakkan anggota badan. Tentu saja definisi itu salah, karena menggunakan kata dasar yang sama, yaitu menggerakkan untuk mendefinisikan “bergerak”. Ada juga yang mengatakan, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ya, ini artinya, dia menyamakan bergerak dengan berpindah.

Ok, apapun definisinya, itu tidak penting, sebab dalam tulisan ini saya akan membahas kegiatan “bergerak” sebagai salah satu penstimuli kesiapan siswa belajar.

Sudah menjadi pemandangan yang khas : guru masuk ke ruang kelas dengan mengucapkan salam, mengabsen siswa, lalu…”Baik, anak-anak hari ini kita akan mempelajari tentang bla…bla…, buka buku pelajaran halaman sekian ….!

Awal yang biasa saja, bukan? Lalu, bagaimana mengawali pelajaran yang menyenangkan?

Ketika menjadi penerjemah di salah satu lembaga training di Jepang, ada satu materi pelatihan terkait dengan budaya Jepang, yaitu bagaimana cara berkenalan/memperkenalkan diri. Mungkin tidak ada hubungannya dengan bagaimana mengawali pelajaran di kelas, tetapi ada satu yang bisa dijadikan prinsip. Dalam berkenalan, hal utama yang harus diperhatikan adalah menciptakan kesan pertama yang baik, karena biasanya lawan bicara kita mengingat saat pertama kali kita bertemu, dan terkadang tidak ingat apa yang selanjutnya kita lakukan.

Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pembelajaran di kelas seharusnya menimbulkan kesan yang mendalam bagi siswa, dengan cara mengawalinya dengan sesuatu yang menarik.

Pada awal pembelajaran, siswa sebenarnya secara psikologis berada pada kondisi yang beragam, ada yang siap belajar, ada yang setengah siap, dan ada pula yang sama sekali tidak siap. Selain kesiapan, minat mereka belajar juga berbeda-beda.

Mengawali pembelajaran dengan aktivitas yang “memaksa” mereka bergerak bebas adalah upaya “membangunkan” saraf-saraf mereka yang masih “tidur” agar segera aktif.

Bagaimana caranya membangunkan saraf tidur tersebut?

Ada banyak cara. Salah satunya bisa dengan kegiatan brain storming, berupa kegiatan pengelompokkan yang menarik, misalnya :

1. Mencari sendiri teman melalui kecocokan gambar pada kartu.
2. Suit untuk mencari teman
3. Menjawab pertanyaan

Berikut ini adalah cara pengelompokkan yang menarik yang pernah saya ikuti dalam sebuah pelatihan Lesson Study, yang diadaptasi dari pembelajaran di Jepang.

Guru membagikan kartu bergambar (satu buah gambar) kepada setiap siswa, lalu menunjukkan lima buah kartu di slide PPT, yang masing-maisng kartu berisi gambar yang merupakan kompilasi dari gambar-gambar yang dipegang oleh siswa. Siswa selanjutnya diminta mencari teman sekelompoknya melalui panduang gambar yang ada pada kartu slide dengan kartu yang ada di tangannya. Misalnya terdapat 30 siswa, dan dibagi menjadi lima kelompok, maka pada kartu slide terdapat 6 gambar. Siswa-siswa yang telah membentuk satu kelompok, duduk pada meja yang sudah disiapkan dengan posisi saling berhadapan.

Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan berkomunikasi, menceritakan apa saja, tetapi akan lebih menarik membahas hal terkait dengan materi. Misalnya jika materinya sistem ekskresi (SMA), maka siswa-siswa dapat bercerita tentang keringat. Siswa yang duduk berhadapan, dalam waktu dua menit saling bergantian berbicara. Dua menit pertama adalah siswa A, dan dua menit kedua siswa B.

Dengan melakukan aktivitas tersebut secara berulang dalam setiap pembelajaran akan melatih siswa untuk selalu punya “bahan” bercerita/berkomunikasi dan tidak malu untuk berbicara kepada siapapun.

Adapun kegiatan bergerak di awal pembelajaran, semata bermaksud “membangunkan” saraf-saraf yang sedang “tidur” atau “malas”.

Bagaimana? Apakah Anda memiliki cara memulai pelajaran yang lebih baik?

Ketika konsep ini saya sampaikan kepada mahasiswa dan beberapa teman guru/dosen, banyak yang meragukan keberhasilannya, karena terlalu buang waktu. Ya, jika kita hanya mempedulikan terselesaikannya materi, dan tidak berpihak pada kondisi siswa, maka memang itu terkesan buang waktu.

Banyak guru yang ketika masuk ke kelas, dalam benaknya ingin segera menuntaskan satu bab dalam satu kali pertemuan. Bahkan kadang-kadang tidak peduli, siswa paham, senang belajar, termotivasi, atau berminat dengan pembelajaran yang disampaikan.

Hanya sedikit guru yang peduli dengan psikis dan psikologis anak ketika belajar, tetapi banyak guru yang hanya sekedar menginginkan anak lulus UN.

Jika demikian, sangat sulit kita menjadikan anak menyenangi belajar dan mencari ilmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: