murniramli

Permainan dan Pembelajaran di PAUD-Makalah

In Makalah, PAUD, Pendidikan Jepang, Pendidikan pra sekolah, Taman Kanak-Kanak on Januari 12, 2015 at 1:17 am

MENGEMBANGKAN PERMAINAN DAN PEMBELAJARAN CALISTUNG INTERAKTIF BERBASIS POTENSI LOKAL UNTUK ANAK USIA DINI

Dr. Ed. Murni Ramli
Pusat Studi Jepang LPPM UNS
Makalah disampaikan pada Workshop Aktivitas dan Permainan untuk Meningkatkan Kecerdasan AUD, di Gedung IPHI Bendosari Sukoharjo, 22 September 2014

 

Pendahuluan

Bermain adalah kegiatan utama yang dijalani anak-anak usia dini setiap hari. Segala bentuk aktivitas yang dikerjakannya sejak mereka bangun hingga tidur kembali pada dasarnya adalah kegiatan bermain. Sekalipun kegiatan tersebut berupa aktivitas “pekerjaan”, misalnya toileting, makan, membersihkan diri, anak masih menganggapnya bukan tugas rutin, tetapi salah satu bentuk bermain.

Melalui kegiatan bermain, banyak hal yang bisa dikembangkan dari seorang individu anak, yaitu saraf-saraf motoriknya, baik kasar maupun halus, sikap emosional, kecerdasan, sikap sosial, perilaku bekerja mandiri dan bekerjasama, kedisiplinan, dan lain-lain. Tetapi semua perkembangan tersebut hanya bisa diperoleh jika permainan yang dirancang untuk mereka adalah permainan yang bermakna.

Permainanan yang bermakna adalah kegiatan bermain yang diarahkan dan dibuat dengan metode, prinsip, dan tujuan yang menekankan pada unsur terciptanya kesenangan, motivasi, berkembangnya motorik yang memicu bekerjanya neuron/saraf otak, dan bukan paksaan, sekaligus berisi pembelajaran.

Permainan yang dikembangkan untuk anak usia dini selama ini masih berfokus pada permainan indoor, menggunakan alat bermain artifisial, belum terarah pada kegiatan memicu kinerja otak, dan belum memanfaatkan potensi yang ada di sekitar sekolah atau rumah. Potensi lokal berupa alam, benda-benda di sekolah dan di rumah, makhluk hidup, lingkungan (sungai, bukit, sawah, dll) belum dioptimalkan secara luas sebagai bentuk permainan bermakna.

 

Prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

Dalam bukunya, Thomas Bloom seorang pakar perkembangan intelektual anak mengatakan bahwa 50% dari potensi intelektual manusia sudah terbentuk pada usia 4 tahun, dan mencapai 80% pada usia 8 tahun. Elizabeth B. Hurlock menyatakan hal senada, bahwa lima tahun pertama dalam kehidupan anak adalah masa peletakan dasar perkembangan.

Mengingat pentingnya pendidikan anak usia dini, pemerintah dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 1 Ayat 14 menyatakan :

  • Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut

Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pembinaan anak pada jenjang pasca usia dini sangat tergantung dengan bagaimana dia dididik dan dikembangkan pada usia dininya.

Apa yang seharusnya dikembangkan pada anak usia dini?

Dalam Standar Nasional pendidikan khusus untuk pendidikan anak usia dini disampaikan bahwa :

Standar tingkat pencapaian perkembangan berisi kaidah pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Tingkat perkembangan yang dicapai merupakan aktualisasi potensi semua aspek perkembangan yang diharapkan dapat dicapai anak pada setiap tahap perkembangannya, bukan merupakan suatu tingkat pencapaian kecakapan akademik.

Para ahli berpendapat bahwa perkembangan yang perlu diperhatikan pada usia dini adalah perkembangan sikap sebagaimana disajikan dalam grafik berikut

 

Gambar 1. Penekanan arah pendidikan pada setiap jenjang persekolahan

 

Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa bagian terpenting yang harus dikembangkan pada usia dini dan SD adalah sikap, lalu keterampilan atau motoriknya, dan paling akhir adalah kognitifnya. Dengan demikian, semua bentuk kegiatan yang diselenggarakan di PAUD harus berlandaskan konsep yang benar tentang pendidikan anak usia dini.

 

Prinsip-prinsip Permainan Bermakna

Mengapa bermain menjadi sangat penting bagi anak usia dini?

Menurut Catron Allen dan Allen, dengan bermain akan terbentuk :

  • Kesadaran Personal : Bermain mendukung anak tumbuh secara mandiri dan memiliki kontrol terhadap lingkungan
  • Pengembangan Emosi

Melalui bermain anak belajar Menerima, Berekspresi dan mengatasi masalah dengan cara yang positif

  • Membangun Sosialisasi

Bermain adalah sarana yang paling utama bagi pengembangan kemampuan bersosialisasi dan memperluas empati terhadap orang lain serta mengurangi sikap egosentris

  • Pengembangan Komunikasi

Bermain merupakan alat yang paling kuat untuk membelajarkan kemampuan komunikasi (bahasa) anak: 1) Bahasa Reseptif (penerimaan), 2) bahasa Ekspresif, 3) Komunikasi Non Verbal, 4) Komunikasi Verbal

  • Pengembangan Kognitif

Bermain menyediakan kerangka kerja bagi anak untuk mengembangkan pemahaman tentang dirinya, orang lain dan lingkungannya. Selama bermain anak menerima pengalaman baru, memanipulasi bahan dan alat, berinteraksi dengan orang lain dan mulai merasakan dunia mereka.

  • Pengembangan Kemampuan Motorik

Melalui Bermain aktivitas sensori motor yang meliputi penggunaan otot-otot besar dan kecil memungkinkan anak untuk memenuhi perkembangan perseptual motorik

 

Permainan yang tidak sekedar permainan, tetapi mengandung unsur pembelajaran mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :

  • Sederhana, mudah ditiru oleh anak-anak
  • Menekankan pada aktivasi kaki dan tangan
  • Menekankan pada aktivasi jari-jari kaki, terutama ibu jari
  • Meniru gerakan hewan yang biasa disaksikan anak-anak
  • Menekankan pada aspek komunikasi (pengenalan kata)
  • Menekankan pada aspek membilang, mengenal huruf (bukan menulis, membaca, berhitung seperti belajar di kelas)
  • Berulang-ulang dilakukan
  • Tidak monoton
  • Dipadukan dengan iringan musik
  • Menantang anak

 

Bentuk-Bentuk Permainan Berbasis Pembelajaran dengan Memanfaatkan Potensi Lokal

Banyak orang tua dan guru PAUD yang memaksa anak-anak untuk melakukan calistung melalui kegiatan pembelajaran layaknya di sekolah dasar. Memaksa anak usia dini untuk duduk diam di kelas, menulis atau membaca adalah sebuah bentuk kekurangpahaman tentang perkembangan anak usia dini. Namun, apakah anak usia dini tidak boleh diajari calistung? Tentu saja boleh. Tetapi dengan persyaratan, pembelajarannya dalam bentuk permainan.

Permainan berbasis pembelajaran dengan memanfaatkan potensi lokal perlu mengikuti aturan berikut :

  • Tidak dilakukan dengan posisi diam (duduk di kursi berhadapan dengan buku,pensil, dll)
  • Mendahuluinya dengan melatih anak mengenal angka dan huruf melalui kebiasaan atau seringnya melihat
  • Tidak memaksa anak menulis angka yang dia tidak pahami maksudnya
  • Tidak memaksa anak menulis dan membaca huruf yang dia tidak pahami
  • Menggunakan benda-benda kongkrit, bukan yang abstrak
  • Memulainya dengan membiasakan anak mengindera benda : mengamati, mendengar, menciumi baunya, meraba, merasakan.

 

Bagaimana melatih motorik anak sebelum membelajarkannya dengan angka dan huruf?

Beberapa langkah melatih kesiapan motorik halus anak sebagai berikut :

  • Memperbanyak permainan/gerakan berbasis telapak kaki, jari kaki, jari tangan, misalnya meniru gaya binatang : merangkak, melompat, memanjat, berjalan, berlari, menjinjit, dll
  • Mengawali kegiatan memegang pensil melalui kegiatan menggambar, dengan menggunakan alat tulis berukuran besar. Alat tulis lambat laun mengecil sesuai dengan ukuran normal. Anak-anak diberi kesempatan menggambar setelah bermain dan beraktivitas di luar
  • Membiasakan kegiatan story telling/mendongeng untuk memperkaya imajinasi anak. Setelah kegiatan story telling, anak-anak diminta menggambar berdasarkan cerita yang baru saja didengarnya
  • Melatih anak makan dengan tangannya sendiri, dan lambat laun berlatih memegang alat makan (sendok, garpu). Pergunakan sendok dan garpu plastik terlebih dahulu sebelum menggunakan sendok/garpu yang biasa dipakai di rumah
  • Menyusun menu kegiatan harian dengan selalu menempatkan kegiatan bermain mendahului kegiatan yang memerlukan konsentrasi anak
  • Memberikan anak permainan/kegiatan sederhana dengan menggunakan peralatan yang ada di rumah, misal memegang dan membawa panci berisi air, ember, gembor, entong, dll. Yang sudah agak besar, diberi latihan menyapu, mengepel, melap kaca jendela, dll

 

Beberapa contoh permainan pembelajaran yang dapat dikembangkan untuk AUD :

  • Permainan Meniru Binatang

Bahan : Papan home base; Gambar hewan; Stop watch

Cara bermain :

Setiap pagi, setelah anak tiba di PAUD, biasakan mereka menyimpan barang-barangnya di loker yang bertuliskan nama panggilannya (dari sini anak mengenal huruf secara acak melalui namanya)

Setelah meletakkan barang-barang, mintalah mereka berkumpul di lapangan untuk memulai kegiatan lomba lari. Anak-anak berlari menuju home base yang bertuliskan angka 1, 2, 3, 4, 5, dst. Di home base terdapat papan yang ada gambar hewan, misalnya kelinci, dan tulisan “Lompat Kelinci 2 kali”; gambar Katak, tulisan Lompat Kodok 3 kali, gambar bebek, tulisan Jalan Bebek 4 langkah, gambar kuda, tulisan Jalan Kuda.

Pada latihan pertama ada guru yang mengawasi di home base untuk membantu anak-anak yang belum bisa membaca. Lama-kelamaan anak-anak akan hafal dan mengerti bacaan tersebut dengan sendirinya. Permainan dapat dilakukan selama 10-20 menit.

Manfaat : Anak-anak akan lebih berkonsentrasi jika diaktifkan syaraf-syarafnya pada pagi hari. Syaraf-syaraf di otak diaktifkan melalui tumpuan gerakan di telapak kaki.

Anak-anak akan mengenal tulisan angka dan artinya, meskipun belum bisa menuliskannya. Dia akan bisa menuliskannya jika motorik halus pada jari-jari tangannya telah berkembang dengan baik. Sikap yang diajarkan : Kedisiplinan dan kemandirian

  • Permainan Lomba Mengisi Botol dengan batu

Bahan : Botol bekas (aqua, dll); batu aneka bentuk, warna, ukuran, permukaan kasar dan halus, kertas label

Cara bermain : Dalam jarak 3-5 meter, pasanglah botol-botol dengan luas mulut botol yang berbeda. Tulislah pada label yang ditempelkan pada dinding botol angka 1,2,3,4,5, dst, dan kata “bulat”, atau “gepeng”, “kasar”, halus”, “hitam”, “coklat”, “putih”. Anak diminta berlari membawa batu dari posisi start, dan memasukkan batu sesuai dengan yang diminta pada tulisan di botol. Jika anak belum mengenal tulisan, maka wadah dapat diganti berupa papan yang berisi gambar batu bulat, batu gepeng, dll.

Manfaat : Melatih anak bekerja secara mandiri, disiplin, dan tidak mudah putus asa; Melatih motorik halus; Melatih anak mengenal bentuk, ukuran, warna, dll

  • Permainan Mencari Bumbu/Rempah.

Bahan : Baskom/panci/ember bekas, bumbu dapur; beras, kardus bekas yang dibuat sekat-sekat di dalamnya

Cara bermain : Taruhlah beras dalam wadah baskom atau panci bekas. Letakkan di dalamnya aneka rempah dapur, seperti cabe merah dan hijau, bawang merah dan putih, ketumbar, kemiri, merica, jahe. Lakukan lomba mencari bumbu dalam beras. Anak-anak berlomba secara berkelompok. Anak pertama mengaduk beras dan menemukan bumbu, lalu menyerahkannya kepada anak kedua yang akan meletakkannya pada kardus bekas yang sudah dikotak-kotak bertuliskan nama bumbu.

Manfaat : Menanamkan sikap bekerjasama, ketekunan, jiwa juang; Mengenal huruf melalui bacaan nama rempah atau huruf depan bumbu (misal Merica, ditulis M); Melatih motorik halus

  • Permainan Mengenal Huruf melalui Benda

Bahan : Aneka benda (kayu, penghapus, pensil, air, dll); kertas bertuliskan huruf kapital

Cara bermain : Anak memasangkan huruf kapital pertama yang sesuai dengan nama benda. Sebagai bentuk latihan, pada tahap awal, benda-benda di kelas diberi simbol huruf kapital, misalnya kursi diberi simbol huruf K, meja diberi simbol huruf M, dll

Manfaat : Melatih anak mengenal huruf dan benda; melatih ketelitian dan konsentrasi

  • Permainan Matematika Pohon

Bahan : Pohon karet atau pohon yang bisa dipanjati; Kertas berisi tulisan penjumlahan dan pengurangan sederhana, misal 1 pisang+ 1 pisang = …. atau 3 jeruk – 1 jeruk = ….

yang dipasang pada ranting atau cabang pohon yang bisa diraih/dilehat anak-anak.

Cara bermain : Anak-anak memanjat pohon dan menemukan sejumlah penjumlahan sederhana (sebelum bermain, anak-anak sudah harus mengetahui makna simbol-simbol matematika sederhana, yaitu tanda +, – , dan =

Manfaat : Meningkatkan motorik saraf kasar dan halus, memacu kinerja otak melalui aktivitas pada telapak kaki, dan jari-jari kaki; merangsang daya pikir anak

  • Permainan Menghitung Rumpun Padi (Belajar angka 10 ke atas)

Bahan : Tanaman padi di sawah atau di ember; kertas bertuliskan angka-angka

Cara bermain : Anak-anak diminta menghitung jumlah rumpun padi, secara bersama-sama, ibu guru membimbing. Jumlah rumpun padi umumnya lebih dari 10. Untuk anak-anak kelas bawah yang belum bisa menulis, mereka hanya belajar menghitung, dan memilih kertas berisi angka yang sesuai. Sedangkan anak-anak yang sudah bisa menulis (motoriknya sudah siap) dapat menuliskan angkanya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: