murniramli

Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini di Jepang-Makalah

In PAUD, Pendidikan pra sekolah, Penelitian Pendidikan, Taman Kanak-Kanak on Januari 12, 2015 at 1:11 am

PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI JEPANG[1]

Murni Ramli
Pusat Studi Jepang LPPM UNS
Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

E-mail : mramlim04@fkip.uns.ac.id

  1. Pendahuluan

Jepang tercatat sebagai salah satu negara Asia Timur yang disegani oleh negara-negara barat sejak awal tahun 60-an. Rasa kagum tersebut muncul setelah negara ini mampu menunjukkan posisinya sebagai the most leading country in economy and technology, yang dicapai bermula dari inovasi kereta tercepat dunia, shinkansen. Kemajuan tersebut tidak saja dicapai berkat kedisiplinan dan keuletan orang Jepang, tetapi yang utama adalah bagaimana pelatihan fisik dan nilai-nilai bushido (kode etik samurai) mendasari penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah informal (terakoya), dan pada akhirnya juga sekolah formal (pasca restorasi Meiji tahun 1868).

Pelatihan fisik tidak serta merta muncul dalam konsep pendidikan di Jepang. Pada masa Meiji, negara ini banyak terpengaruh oleh budaya pendidikan di barat, sejalan dengan masuknya bangsa-bangsa Eropa ke Jepang. Pengaruh dari Jerman, Rumania, Rusia, dan Belanda mengantarkan bangsa ini untuk menciptakan senam khusus untuk rakyat Jepang yang dikenal sebagai Taishou. Perlu diketahui bahwa taishou menjadi hal wajib bagi semua rakyat Indonesia ketika berada di bawah penjajahan Jepang tahun 1942-1945, dan diduga melatarbelakangi Senam Pagi Indonesia yang disusun tahun 1977.

Kegiatan-kegiatan di Taman Kanak-Kanak juga dikembangkan dari apa yang dibawa oleh bangsa Eropa dan juga apa yang dipelajari oleh pakar Jepang di Eropa. Yang paling mempengaruhi adalah konsep TK dari ahli Jerman, Friedrich Froebel, dan ada juga pengaruh konsep PAUD Rusia. Tetapi pendidikan anak usia dini di Jepang yang pertama didirikan pada tahun 1876, sebagai TK yang berafiliasi dengan Tokyo Woman Normal School (sekarang Ochanomizu University) selanjutnya dikembangkan dengan kekhasan Jepang-nya, misalnya dengan memasukkan konsep kemandirian melalui seni melipat kertas origami, dan juga kegiatan fisik, berupa senam ritmik, pelatihan motorik melalui kegiatan fisik reguler dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan anak usia dini di Jepang terdiri dari dua bentuk, yaitu hoikuen (penitipan anak) dan youchien (taman kanak-kanak). Anak yang diterima di hoikuen berusia 0-3 tahun, sedangkan anak yang disekolahkan di youchien adalah usia 4-5 tahun. Kedua lembaga ini dikelola oleh pemerintah kota, maupun lembaga swasta, dan berada dalam tanggung jawab Kementerian yang berbeda. TK di bawah koordinasi Kementrian Pendidikan, sementara Penitipan Anak atau Day Nursery berada di bawah Ministry of Health and Welfare.

Pada tahun 2006, pemerintah memperkenalkan ECEC (Early Childhood Care and Education) atau dalam bahasa Jepang disebut nintei kodomoen yang diadopsi dari UNESCO. Lembaga ini menyediakan Penitipan Anak, TK, Children’s Center, Community Centers atau playparks. Dengan demikian ada 3 bentuk PAUD, yaitu TK, Day Nursery, dan ECEC.

Makalah ini akan membahas tentang prinsip kegiatan pembelajaran dan pelatihan di lembaga pendidikan anak usia dini di Jepang, dengan menyoroti salah satu yang populer, yaitu Taman Kanak-Kanak yang dikembangkan oleh Saito Kimiko, seorang pakar PAUD yang tinggal di Kota Saitama, dekat Tokyo.

 

  1. Karakteristik PAUD Jepang

Karakteristik dan prinsip-prinsip PAUD di Jepang dapat digambarkan sebagai berikut :

Dasar semua kegiatan PAUD adalah pelatihan fisik atau motorik anak. Konsep ini dijadikan dasar karena dari tubuh yang sehat akan lahir hati/jiwa dan pemikiran yang juga sehat. Telah menjadi riset bertahun-tahun bagaimana pengaruh kegiatan fisik anak dengan perilaku sosial dan kecerdasannya. Bahwa latihan fisik yang bertumpu pada aktivasi telapak kaki dan tangan akan mendukung kecerdasan anak.

Dalam handbook PAUD yang dibuat oleh Ochanomizu University disebutkan prinsip-prinsip kelembagaan PAUD di Jepang adalah sebagai berikut :

  1. Lembaga PAUD dikembangkan melalui kerjasama riset antara pengelola, instruktur/guru, dan dosen/peneliti di universitas. Guru-guru PAUD menjalankan program PAUD berdasarkan hasil riset kolaborasi yang mereka lakukan. Tak sedikit peneliti/dosen di universitas bahkan menjadi guru/instruktur langsung di PAUD
  2. Teori dan dasar berpikir yang mendasari pendidikan di PAUD umumnya bersifat pasti dan ketat, tetapi masing-masing pengelola PAUD dapat mengembangkan model pembelajaran yang khas tergantung pada kondisi siswa/anak asuh yang ada di PAUD bersangkutan
  3. Pola dan bentuk kelembagaan PAUD beragam, bahkan kurikulum pun beragam. Semua PAUD tergabung dalam asosiasi, dan mereka men-share sistem dalam forum pertemuan tersebut, lalu berdasarkan forum tersebut, pengelola PAUD mengambil yang baik dari sistem yang dikembangkan di PAUD lain
  4. Letak antara lembaga penitipan, TK dan universitas berdekatan, sehingga memungkinkan pertukaran informasi riset secara cepat.

Sedangkan menurut Muto (2006) menjelaskan tentang prinsip pembelajaran dan pendidikan di PAUD Jepang sebagai berikut :

  1. Penekanan utama pada perkembangan intelektual dan sosial/emosi melalui kegiatan aktivitas sehari-hari, seperti bermain bersama teman. Secara khusus tidak ada calistung
  2. Penekanan pada terbangunnya kemandirian terkait dengan tugas perkembangan dalam kehidupan sehari-hari anak. Hal ini dibangun tidak melalui peraturan yang baku, tetapi diarahkan oleh guru sepanjang anak berada di sekolah, dan sarana prasarana disediakan untuk anak agar dapat menggunakannya secara mandiri
  3. Kepakaran guru dilatih melalui semacam penelitian tindakan kelas, dan mengikuti siklus merencanakan , melaksanakan, merekam/mendokumentasikan, melakukan refleksi, dan selanjutnya berulang dari tahap awal kembali. Pemerintah pusat menetapkan standar basic pembelajaran, sedangkan guru di PAUD mengembangkannya berdasarkan karakter siswa
  4. Ada hubungan yang erat antara penelitian dan praktek pendidikan di PAUD. Banyak guru/instruktur yang bekerja adalah guru veteran yang telah memiliki segudang pengalaman riset di bidang PAUD.

Tambahan lain dari karakteristik PAUD Jepang adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat seasonal atau menyesuaikan dengan perubahan iklim, tradisi, dan budaya Jepang. Empat musim yang terjadi di Jepang membawa kebiasaan, tradisi, dan budaya yang khas di seluruh negeri, dan anak-anak sangat senang terlibat dalam perayaan atau tradisi ini.

 

  1. Konsep PAUD ala Saito Kimiko

Saito Kimiko menciptakan senam ritmik dan beberapa menu aktivitas fisik anak yang menekankan pada aktifasi telapak kaki dan tangan, dan menyusunnya dalam sebuah program reguler di Lembaga Penitipan Anak yang dibuatnya pertama kali di Saitama, Sakura Sakuranbo Hoikuen. Apa yang diterapkan oleh Saito, menarik seorang pakar neurology Jepang, Dr. Koizumi Hideaki, yang membuat riset mendalam tentang gerakan-gerakan senam ritmik ala Saito, dan mempelajari bagaimana pengaruh urat saraf di telapak kaki dengan kinerja neuron-neuron di otak. Hasilnya menunjukkan bahwa senam ritmik dan aktivitas fisik yang bertumpu pada telapak kaki berpengaruh positif pada kinerja neuron-neuron pikir di otak.

Prinsip pendidikan di PAUD ala Saito Kimiko adalah sebagai berikut :

  1. Anak harus dididik melalui kebersamaan, mereka akan mengerti peran masing-masing melalui permainan bersama, mereka saling memahami saat berbenturan (mungkin bertengkar kecil), dan berkembang kepribadiannya melalui kesempatan mengekspresikan diri
  2. Makan bersama mengajarkan kedisiplinan dan kerjasama serta semangat untuk memakan dengan cara yang benar karena saling belajar dengan teman, misalnya mengunyah makanan secara benar dan dengan jumlah yang sesuai, bisa makan apa saja, sesuai dengan yang mereka butuhkan.
  3. Bermain di alam, melakukan senam ritmik di ruang/aula, beraktivitas tanpa menggunakan alas kaki (kaus kaki dan sepatu),,
  4. Guru/instruktur tidak menempatkan diri sebagai guru (Sensei), tetapi sebagai orang dewasa yang hidup dan tinggal bersama anak-anak selama mereka berada di sekolah. Anak-anak menganggap guru sebagai teman. Sehingga guru tidak boleh mengajar, tetapi kedudukannya adalah mengarahkan ketika ada anak yang bertengkar, dan menyemangati anak yang berjuang untuk bisa, dan memuji anak yang berhasil. Serta ketika ada anak yang telah berusaha, namun tetap tidak bisa, maka guru sebagai teman dewasa anak, harus turun tangan membantu
  5. Permainan di alam menggunakan unsur tanah, air, pasir, pohon, serangga, hewan. Diperkenalkan pula permainan tradisional Jepang, misalnya takeuma (enggrang), lompat tali, dan memanjat pohon
  6. Membiasakan bermain di alam, dan meminta anak untuk mengekspresikan hasil permainan dan interaksi tersebut melalui gambar
  7. Mengembangkan wawasan kehidupan bersama dan teladan melalui story telling
  8. Senam ritmik disusun berdasarkan peniruan pada gerakan hewan yang sering dijumpai anak-anak. Melatihkan kelenturan sekaligus kekuatan fisik. Melalui senam ritmik ada 2 sasaran yang ingin dicapai, yaitu perkembangan fisik, kepekaan rasa melalui penyesuaian suara denting piano dengan gerakan-gerakan senam, dan empati pada orang di sekitarnya, yaitu melakukan gerakan yang tidak sampai mencelakai orang lain. Setiap kali anak hendak melakukan gerakan salto misalnya, anak harus memperhatikan orang-orang di dekatnya, dan melakukan gerakan di tempat yang aman
  9. Anak-anak yang berusia lebih tua, sebagaimana kebiasaan di rumah, mereka membantu dan menolong adik-adiknya untuk melakukan senam ritmik. Anak-anak yang berusia lebih muda merasa senang dan muncul rasa percaya diri kepada orang yang berusia di atasnya, sebagaimana yang diharapkan di masyarakat
  10. Kegiatan senam ritmik, dan latihan fisik diterapkan untuk aktivitas sehari-hari, misalnya mengepel lantai untuk anak-anak berusia 3-5 tahun

Konsep dan prinsip yang diterapkan oleh Saito Kimiko telah diadopsi oleh banyak PAUD di Jepang, buku dan CD-CD pembelajaran dijual secara terbuka. Konsep ini menyebar secara meluas, dan mendapat respon positif dari orang tua di Jepang.

 

  1. Penutup

Konsep PAUD ala Jepang tidak dapat diadopsi secara keseluruhan, tetapi model adopsi yang terbaik adalah dengan melakukan penyesuaian/penyelarasan dengan situasi PAUD di Indonesia. Setiap PAUD diberi ruang untuk mengembangkan konsepnya berdasarkan karakteristik siswa yang dididiknya

Konsep PAUD ala Jepang bertujuan untuk mencetak anak yang sehat secara jasmani, dapat mandiri untuk keperluan sehari-hari sesuai dengan usianya, dan dapat bekerjasama dengan teman sebaya, anak yang lebih tua, orang dewasa, dan terbiasa bersosialisasi. Kemandirian dan kerjasama adalah norma dasar dalam kehidupan masyarakat di mana pun, sehingga sangat layak untuk diaplikasikan.

Sarana prasarana, intruktur, dan rencana kegiatan dikembangkan dari hasil riset dan uji kelayakan, sehingga semua pihak perlu terlibat. Oleh karena itu, kerjasama pengembangan PAUD dengan dosen dan peneliti di universitas sangat penting dilakukan di tanah air.

 

Referensi :

  1. Buku-buku dan CD Pembelajaran karangan Saito Kimiko

2.お茶の水女子大学子ども発達教育センター 『幼児教育ハンドブック』。日本の幼児教育の枠組みと仕組み. Diakses di http://www.ocha.ac.jp/intl/cwed_old/eccd/report/hand_J/1_1.pdf pada 21 Maret 2014

  1. Abumiya, Mariko I. 2011. Preschool Education and Care in Japan. Diakses di http://www.nier.go.jp/English/EducationInJapan/Education_in_Japan/Education_in_Japan_files/201109ECEC.pdf pada tanggal 21 Maret 2014

 

 

[1] Makalah disampaikan pada Seminar Nasional bertema Aktivitas Gerak AUD untuk Stimulasi Perkembangan Fisik Motorik kerjasama PG PAUD FKIP UNS dan Pusat Studi Jepang LPPM UNS di FKIP UNS Kentingan Surakarta, 26 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: