murniramli

Melatih Siswa Berpikir Positif

In Pembelajaran, Pendidikan Sains, Pendidikan Tinggi, Penelitian Pendidikan, SMA on Februari 1, 2015 at 2:32 am

Nasehat yang sering saya sampaikan kepada mahasiswa adalah bahwa dalam era abad 21, orang yang akan berhasil dan sukses adalah orang-orang yang mampu membuat jejaring kerjasama. Orang yang bisa melakukan negosiasi, mementingkan kepentingan bersama di atas kesuksesan pribadi, dialah yang akan menang.

Bagaimana caranya membangun jejaring kerjasama?

Kata kunci untuk bisa bekerjasama dengan orang lain : membuka diri dan senantiasa berpikir positif terhadap orang lain.

Di masa mendatang, bekerja secara mandiri tidak lagi menjadi jaminan. Mereka yang bisa bekerja dalam tim adalah yang paling berjaya, karena akan memperoleh manfaat yang banyak, yaitu kekuatan yang diperolehnya dari anggota tim yang lain, kepercayaan diri karena bergerak bersama (perhatikan saja geng motor atau geng lain, mereka punya kepercayaan diri dan keberanian karena bersama. Coba kalau sendirian, saya kira hampir tidak ada yang punya nyali. Di film Mission Impossible saja, lakon utamanya tidak bekerja sendirian). Selain itu, bekerja dalam tim juga akan memperkaya ide. Satu kepala akan menyumbang pemikiran yang terbatas, sementara banyak kepala akan mengusulkan pendapat yang beragam.

Namun, di dalam sebuah tim, ada juga hal rawan yang bisa meledak, yaitu konflik antaranggota, yang muncul karena perbedaan. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena status yang tidak sama, latar belakang pikir yang beda, share harta yang tidak juga sama.

Oleh karenanya, supaya tim solid, semua anggota harus memiliki positive thinking. Apa itu?

Secara mudahnya adalah kita harus menganggap orang lain sederajat dengan kita, sehingga kalau kita boleh berbicara/mengutarakan pendapat, maka dia pun boleh. Banyak kasus dalam rapat yang didominasi senior, dan yang muda tidak berani angkat bicara, karena merasa tertekan.

Yang kedua, biasakan menjadi pendengar yang baik. Saya bahkan kadang-kadang tidak tahan mendengarkan pendapat mahasiswa yang panjang lebar dan berbelit-belit, karena saya terbiasa berpikir taktis dan dalam kerangka yang sudah jelas, misalnya pendapat seharusnya mengacu pada kata “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana”.

Yang ketiga, jangan menyepelekan orang yang berbicara. Ini yang menurut saya cukup sulit, sebab ada orang yang berbicara dan mendengarkan orang yang dianggapnya sederajat atau bahkan lebih tinggi derajatnya saja. Sementara kepada orang yang lebih rendah darinya, biasanya disikapi dengan melengos atau memandang sebelah mata.

Selalu berpikir positif membawa banyak manfaat, tetapi bisa juga mencelakai. Oleh karenanya, perlu pula dibarengi dengan kehati-hatian terhadap tindakan dan maksud tersembunyi yang sifatnya negatif dari partner kita. Tetapi tidak usah berlebihan, karena kalau sampai kelewat batas, jatuhnya pada kecurigaan.

Membangun karakter seperti diuraikan di atas di jenjang pendidikan sekolah tentu tidak mudah, tetapi harus diupayakan. Sebab pelatihan dan didikan sejak dini akan lebih melekat daripada diberikan setelah mereka dewasa.

Pembelajaran dalam bentuk diskusi, kerja proyek, kerja kelompok adalah salah satu langkah melatihkan siswa untuk belajar berpikir positif. Dengan selalu memasukkan sisi cooperative dalam pembelajaran (bukan dalam menyelesaikan ulangan harian atau tes), maka tanpa perlu menjelaskan perlunya menghargai orang lain, anak akan belajar dengan sendirinya, bagaimana agar kelompok/tim dapat berhasil menyelesaikan tugas.

Guru hanya memposisikan diri sebagai wasit sekaligus coach, agar proses kooperasi siswa berjalan dengan baik sesuai hidden objectives dari rancangan pembelajaran yang disusun guru.

Tema-tema yang sifatnya debatable sangat menarik untuk diangkat sebagai kasus diskusi atau pekerjaan proyek. Misalnya : Pencegahan penipisan lapisan ozon melalui pelarangan penggunaan segala macam spray; larangan merokok vs pabrik rokok; teori evolusi Darwin; dll.

Melatih kemampuan siswa berpikir positif, menghargai pendapat orang lain, dan tegas dalam bersikap tidak bisa dilaksanakan melalui kegiatan ceramah saja, tetapi harus disettingkan pembelajaran yang akan melatihkan kemampuan tersebut. Dan yang dapat memfasilitasi semua itu adalah guru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: