murniramli

Mendidik Anak Secara Alami

In Belajar Kepada Alam, PAUD, Pembelajaran, Pendidikan Dasar, Taman Kanak-Kanak on Februari 1, 2015 at 4:19 am

Di penghujung bulan Januari 2015, saya mendapatkan undangan untuk menjadi narasumber pada Kegiatan Parent Gathering Level 2 di SDII Abidin. Panitia meminta saya untuk menyampaikan tema Mendidik Kemandirian Anak. Saya tidak tahu alasan pemilihan tema tersebut, tetapi beberapa waktu yang lalu saya pernah menyampaikan pada pertemuan guru tentang salah satu konsep pendidikan di Jepang adalah melatih kemandirian anak. Barangkali ada hubungannya dengan apa yang saya sampaikan tersebut.


Pada tulisan kali ini saya ingin menyampaikan sebagian dari makalah yang saya sampaikan, yaitu Bagaimana Mendidik Kemandirian Anak secara Alami.

Saya memiliki basis ilmu di bidang pertanian, yang kemudian berbelok ke pendidikan. Tentu saja non-liniaritas ini banyak menjadi masalah di tempat bekerja, tetapi tidak dalam kapasitas saya sebagai pembelajar. Berdasarkan basis ilmu dasar tersebut, maka saya akan membahas pendidikan anak dengan analog pada pemeliharaan bunga atau tanaman.

Ketika mengawali penanaman satu tanaman, maka yang perlu diadakan adalah biji/benih atau bibit, tanah, air, dan cahaya. Dua komponen pertama, yaitu tanah dan air adalah minimum requirement yang diperlukan biji untuk berkecambah (germination). Sedangkan cahaya diperlukannya untuk membantu perkembangan kecambah atau seedling, setelah dia keluar ke permukaan tanah.
Untuk selanjutnya tiga komponen itulah yang menyebabkan tanaman tumbuh berkembang pada bagian perakaran, batang, daun, bunga, dan akhirnya muncul buah yang di dalamnya ada biji-bijian (jika tanaman berbiji). Artinya tanpa perlu tambahan unsur apapun, tanaman sebenarnya secara alami dapat berkembang dan tumbuh.

Tanah yang menyangga akar batangnya adalah bagian yang menyediakan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman untuk berkembang. Air yang turun dari langit berupa hujan mengandung zat-zat lain, terikat dengan gas-gas di udara, menjadi unsur-unsur yang akan dimanfaatkan oleh tanaman. Cahaya yang dipancarkan oleh matahari menyediakan energi dan panjang gelombang tertentu yang diperlukan tanaman agar dapat melakukan fotosintesis, atau memasak makanan di daun yang akan dikirimkan ke bagian-bagian tubuh tanaman yang lain. Oleh karenanya ketiga komponen itu mutlak ada, dan secara alami menyebabkan pertumbuhan tanaman.
Lalu, mengapa perlu ditambahi pupuk kimia? Mengapa perlu pupuk organik? Mengapa perlu disemprot pestisida?

Manusia yang memelihara tanaman kadang-kadang tidak puas dengan perkembangan alami tanaman, sehingga dia menginginkan daun tumbuh lebih pesat, batang tumbuh lebih kekar, bunga tumbuh lebih cepat sebelum masanya, dan buah tumbuh raksasa melampaui alamiahnya. Akibatnya kondisi yang tidak alami ini menyebabkan keseimbangan di alam terganggu dan muncullah hama, sehingga perlulah lagi disemprot dengan pestisida. Bukankah demikian adanya?

Nah, bagaimana dengan mendidik anak? Sama saja. Anak adalah benih yang ditanam ke tanah, sementara tanah adalah keluarga. Anak tumbuh pada tanah (keluarga- ayah ibu) yang menyediakan baginya makanan/nutrisi untuk tumbuh. Nutrisi akan memperbesar jari-jarinya, menambah tinggi tubuhnya, memanjangkan rambutnya, memperhalus kulitnya, memperbesar organ-organ tubuhnya. Tetapi semuanya akan tumbuh begitu saja, jika tidak ada kasih sayang yang dilimpahkan. Maka untuk mengembangkan emosi, feeling, rasa simpati dan empati anak dia memerlukan “air hujan” seperti tanaman. Air hujan itu adalah rahmat atau kasih sayang.
Keluarga dan kasih sayang menjadikan anak tumbuh di lingkungan dalam (keluarga) dengan cukup baik. Agar bertambah sempurna perkembangannya maka dia memerlukan “cahaya” atau lingkungan sekitar yang mendukungnya menjadi anak yang cerdas, baik dan berkarakter. Bukankah demikian pendidikan yang alami?

Oleh karenanya, orang tua yang memaksa anak-anak balita mengikuti kursus piano, kursus gitar, biola ibaratnya seperti pemilik tanaman yang menginginkan tanamannya segera berbunga, padahal belumlah cukup daunnya, dan belumlah kuat batang dan ranting-rantingnya.
Demikian pula dengan orang tua yang memaksa anak kecil (balita) belajar bahasa Inggris, mereka juga tidak memahami dengan baik konsep perkembangan fisik dan psikis anaknya sendiri. Ahli psikologi sudah membuktikan bahwa fisik anak yang belum berkembang dengan baik, membuatnya lebih menyukai bermain daripada belajar yang memerlukan konsentrasi. Tetapi orang tua menginginkan anak-anak tumbuh dengan instan.

Kemarin, pada salah satu acara yang menampilkan kehidupan anak artis di salah satu stasiun TV, saya menyaksikan bagaimana anak balita itu dipaksa belajar bahasa Inggris. Si anak tidak bisa berkonsentrasi, dia maunya main. Diajak ke salah satu sanggar senam otak, dia pun belum bisa berkonsentrasi. Andaikan orang tua memahami bahwa anak harus tumbuh dengan alami, maka tentulah dia akan memberikan kesempatan bermain sebanyak-banyaknya kepada putra-putrinya.

Dalam bermain itulah, anak-anak belajar. Dan tidak sebaliknya, dalam belajar mereka bermain. Belajar membutuhkan konsentrasi, dan itu hanya dimiliki oleh anak-anak usia SD kelas atas. Sedangkan pada anak-anak kelas rendah SD mereka dilatih berkonsentrasi.

Anak di manapun di dunia ini harus berkembang secara alami. Dengan kealamian itu dia menjadi kuat, sehat dan cerdas, karena sunattullah berlaku pada perkara ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: