murniramli

Gajah Hanako sebaiknya di mana?

In Belajar Kepada Alam, Serba-Serbi Jepang on Maret 4, 2016 at 10:43 am

Apakah Anda termasuk penggemar kebun binatang, atau rutin mendatangi kebun binatang? Kalau sama dengan saya, yaitu ke kebun binatang hanya sekali atau dua kali seumur hidup, maka kita terkategorikan sama, bukan penggemar kebun binatang. Tetapi itu tidak berarti kita tidak menyukai binatang. Kata menyukai bisa multitafsir, yaitu tergantung pada level kesukaan kita pada binatang. Menyukai bisa berarti kita memelihara salah satu jenis binatang, dapat pula berarti kita sangat paham dengan seluk beluk binatang, atau sampai kita hidup bersama binatang (tidur dengan kucing atau anjing misalnya).

Saya memelihara ikan di rumah. Tujuannya untuk menghilangkan stress dan juga pada masa tertentu ikan saya panen untuk dimakan dan dibagikan ke tetangga. Selain itu, di kebun saya ada beberapa binatang yang tidak sengaja saya pelihara, tetapi mereka berkembang secara alami, seperti kadal, katak, cacing, bekicot, aneka ulat, serangga, dan tentu saja kupu-kupu.

Di SD Jepang, anak-anak diberi tugas untuk memelihara salah satu binatang. Di TV Jepang pernah ditayangkan binatang apa yang paling banyak dipelihara oleh anak SD. Dari survey pada beberapa anak, ternyata yang paling banyak dipelihara adalah kabuto mushi atau kumbang badak Jepang (Trypoxylus dichotomus), atau sering disebut kumbang tanduk. Di Indonesia, seingat saya ada juga, sebab masa SMP dulu saya punya koleksinya. Saya tangkap di pohon kelapa di halaman rumah. Saking senangnya dengan kabuto mushi, pernah diadakan lomba kekuatan kabuto mushi, yang disiarkan di salah satu stasiun TV. Lombanya unik, yaitu dengan mengikat tanduk serangga tersebut dengan beberapa balon, yang menang adalah serangga yang tidak terbawa terbang oleh balon. Ada satu serangga yang bertahan meskipun diikat dengan 10 balon.

Binatang lain yang banyak dipelihara anak-anak SD di Jepang adalah hamster, kelinci, ikan, burung, dan kambing. Mengapa mereka sejak kecil diminta mengasuh binatang? Saya kira tujuannya untuk melatih kepekaan, kedisiplinan dan kecintaan mereka pada alam. Empati pada binatang sangat terdidik dengan baik di Jepang, buktinya ada beberapa penyuka anjing yang sampai membelikan pakaian yang lucu, dan rutin membawa anjingnya ke salon anjing.

Salah satu contoh betapa pedulinya mereka pada binatang adalah cerita tentang panda yang mati di salah satu kebun binatang di Jepang, yang pernah saya tulis di blog ini. Kematian panda tersebut menjadi kesedihan nasional dan disiarkan dalam semua siaran TV Jepang pada waktu itu. Saya pernah menonton juga dokumentari tentang kisah panda ini.

Pagi ini saya menyaksikan satu lagi bentuk apresiasi terhadap binatang yang menurut akal saya sulit diterima. Ada seekor gajah tertua (lahir 1947 di Thailand) yang dibawa ke Jepang pada tahun 1949. Gajah ini ditempatkan di Inokashira shizenbunkaen yang ada di Musashi, Tokyo. Awalnya diberi nama Kaca ko (Kaca dari bahasa Thailand, jangan-jangan mirip dengan kata gajah), lalu kemudian diganti namanya menjadi Hanako untuk mengenang anak perempuan yang meninggal karena kelaparan pada masa perang.

Elephas_maximus_bengalensis_hanako

 

 

 

 

Acara di NHK yang saya tonton tadi adalah 72 hours, menggambarkan kehidupan selama 72 jam satu episode orang, hewan, atau tempat. Yang menjadi tokoh hari ini adalah Hanako. Dari hari pertama siaran, satu dua orang datang ke kandang Hanako dan menyapanya. Ada seorang perempuan muda yang terlihat memandang Hanako dengan penuh perasaan. Ketika ditanya, apakah dia rutin datang ke sini? Dijawabnya setiap hari. Kalau tidak melihat Hanako sehari saja, rasanya perasaan tidak enak, kurang bersemangat. Ada lagi bapak separuh baya yang mengajak bicara Hanako. Ketika ditanya apakah dia rutin datang ke sini, dia jawab ya, apalagi saat ini dia sedang ada masalah, pekerjaan yang berhenti. Kesedihannya disampaikannya pada Hanako.

Pada hari berikutnya ada ibu muda yang memandangi Hanako sambil berlinang air mata. Katanya, dia mengunjungi Hanako baru kali ini, karena anaknya yang SD bercerita tentang si gajah tua Hanako. Air matanya berlinang karena dia sangat terharu melihat gajah itu bertahan hidup selama itu.

Ada nenek tua yang berlari gembira mengatakan, “ohisashiburi Hanako, genki da ne” (Sudah lama tak jumpa Hanako, sehat kan ya?). Lalu dia memanggil-manggil nama Hanako, kemudian bercerita, belakangan ini cuaca dingin, apakah Hanako dapat tidur dengan nyenyak? Si nenek sendiri mengatakan kepada Hanako bahwa dia sekarang kurang bisa tidur, jam 3 atau jam 4 sudah bangun (sebenarnya kalau bagi orang Islam ini biasa, tapi di Jepang matahari terbit jam 6 atau 7, biasanya orang di kota baru bangun).

Penjaga yang merawat Hanako datang lebih pagi, mengecek suhu ruang tempat Hanako berdiam, minus dua. Ketika ditanya bagaimana perasaannya setiap kali mengunjungi kandang Hanako. Dijawabnya, saya selalu penasaran dan khawatir, apakah dia masih hidup atau tidak. Tugas rutinnya adalah menyiapkan makanan kesukaan Hanako, pisang dan potongan apel. Di dalam pisang dimasukkannya tablet-tablet obat untuk Hanako. Hanako makan dengan lahap, tetapi kelihatan menurun kemampuannya mengunyah karena giginya tinggal satu, dari awalnya empat.

Pada cuaca yang sangat dingin Hanako tidak dikeluarkan dari kandangnya untuk menyapa penggemarnya. Tetapi pengunjung masih bisa melihatnya dengan masuk ke dalam kandang dalam Hanako. Seorang pengunjung dari Kanada yang sudah lama menetap di Jepang hari itu mengunjungi Hanako, dan ketika ditanya bagaimana perasaannya melihat Hanako. Dia menjawab, kasihan sekali. Saya kaget mengetahui ada gajah yang dikurung selama 60 tahun lebih dalam kandang sempit ini. Seharusnya gajah ini sudah dilepaskan ke hutan ke habitat aslinya, sambil mengucapkan “otsukaresama Hanako” (selamat telah bekerja dengan baik, Hanako), karena dia sudah cukup lama menghibur manusia.

Ya, Hanako bagi banyak orang Jepang penggemarnya adalah sebuah tanda kekuatan bertahan hidup makhluk Tuhan. Dia menjadi simbol teman yang disayangi, disukai dan dipuja. Dia menjadi pendengar setia cerita gembira dan cerita duka pengunjungnya. Dan dia tidak pernah memprotes atau mengomel, tetapi hanya mengibaskan kupingnya yang lebar, dan menjulurkan belalainya ke arah pengunjung sebagai respon senangnya barangkali. Kesedihan Hanako adalah kesedihan para penggemarnya, dan keceriaannya adalah keceriaan semua orang juga.

Tetapi di sisi lain, benar kata orang Kanada di atas, sungguh sangat menyedihkan melihatnya sendiri di kandangnya, tanpa teman. Dia barangkali sudah lupa caranya mempertahankan diri di hutan yang liar, bahkan mungkin sudah lupa caranya menyemprot air dari belalainya, atau mencari makanannya di hutan.

Manusia menempatkan hewan di kebun binatang dengan tujuan beragam. Yang paling utama adalah untuk mempelajarinya sebagai bagian dari sains. Namun lebih banyak binatang-binatang dipajang di kebun binatang, agar anak-anak dapat melihat secara kongkrit binatang itu tanpa harus membayangkannya saja sebagaimana terlukis di buku-buku mereka. Oleh karenanya menjadilah binatang-binatang itu sebagai pajangan dan tontonan untuk menghibur pengunjung kebun binatang. Kadang-kadang kita menjadi sangat egois.

Hanako bergerak sangat pelan di atas lantai beton yang dibangun untuknya di luar kandangnya. Dia sejatinya menggemari tanah hutan yang basah dan lembut, bukan lantai beton yang memanas ketika musim panas dan serasa seperti es ketika musim dingin tiba.

Barangkali, pihak kebun binatang perlu berpikir lebih jauh untuk menyediakan habitat yang sealami mungkin untuk Hanako….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: