murniramli

Supaya Tidak Hilang Sebuah Keahlian

In Community Development, Serba-Serbi Jepang on Maret 4, 2016 at 11:24 am

Baru-baru ini di WA tersebar berita tentang tawaran meningkatkan profesionalisme dan skill para pekerja di Jakarta ataupun di Indonesia. Menghadapi era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), rupanya pemerintah tak tinggal diam, sebab isu-isu beberapa negara sedang bergerak cepat untuk mendidik sumber daya manusianya mulai membangkitkan semangat kompetisi. Dikabarkan Myanmar tengah melatih ribuan pekerjanya dengan skill IT, di Thailand demikian pula, di Philipina dan Vietnam, semuanya bergegas dan berlomba.

Itu bukan tindakan yang tidak perlu. 

Tetapi fenomena lain terlihat di Jepang. Belakangan ini di dalam berita sering dikabarkan tentang semakin menuanya masyarakat Jepang, dan semakin berkurangnya para tukang-tukang kerajinan yang handal, karena meninggal. Dari dulu sejak sistem politik isolasinya berlaku, penduduk Jepang pada masa Edo sangat terkenal dengan keahlian dan kedetilan produk-produk kerajinannya. Ada tukang keramik, tukang tenun, tukang tembaga, pandai besi, tukang sepatu, tukang jahit, tukang pembuat batu bata, tukang cetak yang tersebar di setiap kota-kota kecil di Jepang.

Ketinggian kualitas produk Jepang sudah diakui dunia. Dan mereka menghargai hasil karya tersebut dengan mematok harga yang tinggi. Salah satu sepatu yang dibuat oleh tukang sepatu di Tokyo dihargai 350 ribu yen (setara dengan 35 juta rupiah). Tentunya tidak terbeli oleh orang biasa, tapi para selebriti dan orang kaya Jepang meminatinya. Menurut pembuatnya sepatu ini bisa dipakai hingga 1oo tahun.

Usaha kerajinan di Jepang umumnya dilaksanakan secara turun temurun. Jika sebuah keluarga mempunyai anak, maka si anak biasanya sejak kecil sudah dididik untuk menjadi penerus. Tetapi apa daya, banyak perajin yang tidak memiliki keturunan, atau kalaupun ada, anaknya lebih memilih pindah ke kota besar, bekerja sebagai pegawai kantoran. Alhasil, banyak usaha kerajinan yang mulai hilang.

Untuk mempertahankan keahlian tersebut, maka pemerintah Jepang mengeluarkan kebijakan untuk memberikan beasiswa kepada orang muda yang mau belajar dan bekerja di berbagai usaha kerajinan yang ada. Salah satu yang diangkat dalam berita bulan lalu, adalah seorang gadis yang mempelajari teknik menenun kain khas kimono. Ada lagi pemuda yang mempelajari pembuatan seni cetak kayu Jepang.

Cara lain yang dipakai oleh pemerintah adalah membuat film dokumenter tentang kisah seorang perajin atau pekerjaan khas yang ada di Jepang, dan mempertontonkan film tersebut kepada siswa-siswa SMA. Banyak siswa yang terkesan dengan keuletan dan prinsip bekerja para perajin Jepang, dan muncul rasa percaya diri serta pemahaman tentang luasnya ruang lingkup kerja yang bisa mereka masuki, dan perlunya keuletan dan spirit untuk selalu menghasilkan yang terbaik.

Menurut saya cara ini cukup jitu dan tepat, selain untuk melanggengkan keahlian tersebut di tengah masyarakat juga untuk membentengi Jepang dengan serbuan produk asing yang kurang berkualitas.

Jadi, kembali kepada kebijakan menyambut MEA. Sumber daya yang bagaimana yang mau dipersiapkan sebuah negara tergantung pada bagaimana negara tersebut memandang keunikan dan keahlian yang ada dalam masyarakatnya. Daripada memberi mereka dengan skill baru, bukankah lebih baik menggali dan memperdalam keahlian yang sudah melegenda, dan melalui penambahan skill lain, dapat membuat produk yang melegenda pula.

Prinsip berkarya yang bertujuan untuk membuat konsumen senang dan puas tampaknya hanya ada pada negara-negara yang menghargai kualitas bukan kuantitas.

Iklan
  1. Aku sedih kalo banyak anak2 muda indonesia suka malas dan ga tekun dalam mengerjakan suatu hal,banyak pemuda2 seperti itu yang aku temui. Lebih seneng ngeluh dan malas2an

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: