murniramli

Lomba Mengepel Lantai di Jepang

In Belajar Kepada Alam, Pendidikan Dasar, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on Maret 7, 2016 at 10:57 am

Lomba mengepel lantai? Ada-ada saja! Seperti itu komentar saya ketika membaca berita selintas di Koran Higashiaichi beberapa waktu lalu. Tapi kemarin, saya melihat acaranya di TV. Ternyata lombanya tidak main-main, dan sangat menarik.

Adalah Kota Toyohashi di Aichi yang memperkenalkan lomba ini pada Februari lalu. Salah satu SD di kota ini SLB Kusunoki (Kusunoki Tokubetsu Shien Gakkou) dibangun dengan lantai kayu khusus, sehingga sangat nyaman untuk dipakai untuk anak-anak. Lorong-lorong di sekolah yang memisahkan ruang-ruang kelas yang berhadapan cukup lebar dan panjang, ini yang membedakannya dengan sekolah lain. Sehingga untuk menyelenggarakan lomba mengepel di lorong tersebut sangat memungkinkan. Lorong di sekolah ini ada yang panjangnya 60 meter, dengan lorong terlebar berukuran 3.7 m. Kusunoki Tokubetsu Shien Gakkou adalah sekolah yang menyatukan antara SD, SMP, dan SMA untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Model sekolah seperti ini lazim kita temui di Jepang. Jadi agak berbeda dengan di Indonesia yang biasanya memisahkan sekolah berdasarkan jenjang atau level.

Upaya untuk memajukan Sekolah untuk anak-anak disabled di Toyohashi tampaknya menjadi perhatian khusus Walikotanya, Pak Koichi Sahara, sehingga pembuatan lorong sekolah yang diganti dengan bahan kayu, dan juga diadakannya lomba ini memberikan makna dukungan yang besar dari pemerintah terhadap pendidikan inklusi. Dengan mengadakan lomba ini, maka ada beberapa pelajaran dan misi yang ingin disampaikan kepada khalayak, yaitu pertama upaya untuk selalu menjaga kebersihan. Kalau kita cermati, hampir semua lorong sekolah di Jepang, sangat bersih dan licin, karena anak-anak rutin mengepelnya. Kegiatan bersih-bersih lorong ini selain untuk melatih hati/jiwa  dan empati anak pada kebersihan, juga untuk melatih fisik agar kuat, dan secara khusus memperkenalkan masyarakat kota khususnya dan juga penduduk Jepang umumnya dengan anak-anak berkebutuhan khusus.

Sepertinya mudah mengepel di atas flooring tersebut, tetapi kalau tidak biasa, bisa-bisa badan kita terjungkal atau kita terpeleset. Kain pel yang dipergunakan adalah dibuat khusus dari bahan handuk berlapis, dan berukuran panjang kira-kira 40 cm, dan lebar 30 cm. Pas untuk menaruh dua telapak tangan pada jarak yang berdekatan. Kain pel tersebut berwarna-warni dan merupakan buatan tangan anak-anak cacat yang bersekolah di sekolah ini. Posisi tubuh ketika mengepel adalah menungging, jadi kalau orang gemuk susah payah juga untuk berlari dengan posisi tubuh menungging sambil mendorong kain pel dengan kedua tangan. Tapi bagi anak-anak ini sangat mudah.

Peserta pada hari itu dari berbagai macam kelompok, bahkan beberapa berasal dari perusahaan yang datang dari seluruh Jepang. Yang menjadi jagoan di kelompok dewasa tentu saja orang-orang dari Tim Penanganan Bencana, karena mereka dianggap kuat-kuat. Kalau dari kelompok anak-anak, hampir semua anak bisa melakukan ini, jadi yang akan berhasil adalah yang kuat larinya dan stamina baik.

Perlombaan dibedakan antara kelompok anak (kelas 1 sampai dengan 3 SD), dan umum (usia SMP ke atas), dan hanya anak laki-laki yang boleh ikut. Race-nya terdiri dari tunggal, berpasangan (untuk kelompok SD), dan estafet 4 orang. Yang berpasangan menempuh jarak 25 meter, dan kain pel yang dipakai agak panjang.  Sementara untuk estafet beregu panjang race yang ditempuh adalah 180 meter.

Yang menjadi pemenang di kelompok umum pada perlombaan tersebut ternyata bukan Tim Penganganan Bencana Aichi, tapi kelompok guru-guru muda sebuah SMP. Dalam siaran TV terkait perlombaan tersebut digambarkan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh semua tim, termasuk ada beberapa tim dari kelompok umum yang berlatih di kuil.

Digambarkan bahwa para biksu-biksu muda di kuil sehari-hari harus membersihkan lantai kuil dengan cara yang sama, menggunakan kain pel yang disebut zoukin (雑巾). Jadi, ada kemungkinan budaya mengepel lantai di sekolah munculnya dari kuil-kuil Buddha.

Bagaimana dengan budaya bersih-bersih di sekolah kita, apakah ada yang bisa dibuat kompetisi, selain lomba kebersihan kelas? Kegiatan di atas menarik, karena selain bersih, tubuh anak-anak juga menjadi sehat. Saya masih ingat salah satu prinsip pendidikan di PAUD-nya Saito Kimiko yang menekankan pada aktivitas tip toe dan telapak kaki dan telapak tangan, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk mengepel seperti yang digambarkan di atas. Tip toe dan telapak kaki adalah pusat-pusat syaraf yang dipercayai oleh neurosaintis sebagai pusat kecerdasan. Beberapa tulisan terkait hal ini sudah pernah saya bahas di blog ini.

Yang juga dapat dididikkan dalam kegiatan ini adalah jiwa kompetisi yang merupakan jiwanya anak-anak. Bagi orang dewasa, jiwa berkompetisinya terkadang sudah melemah, tetapi supaya ada semangat hidup, ada baiknya sekali-sekali kita mengikuti kegiatan seperti di atas.

Selamat mencoba

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: