murniramli

Sejarah Budaya Kebersihan di Jepang

In Serba-Serbi Jepang on Maret 7, 2016 at 11:06 am

Terkait dengan tulisan yang lalu, menjadi pertanyaan dalam kepala saya, sebenarnya dari mana kebiasaan atau budaya kebersihan  bermula di Jepang? Saya mencoba mencarinya dengan beberapa kata kunci termasuk dengan memasukkan kata sejarah zoukin (kain pel), dan akhirnya ketemulah situs ini. Situs salah satu perusahaan cleaning di Jepang. Jadi saya mencoba menerjemahkan secara bebas apa yang ditulis dalam salah satu page situs tersebut.

Budaya bersih-bersih di Jepang tampaknya memiliki sejarah panjang. Diceritakan bahwa kegiatan bersih-bersih mulai ada sejak jaman Asuka (abad ke-7), yaitu setelah berlangsung Reformasi Taka. Pada masa itu, Buddha masuk ke Jepang melalui China, dan kegiatan bersih-bersih mulai dilaksanakan di kalangan bangsawan. Ketika memasuki Periode Nara, budaya bersih-bersih erat kaitannya dengan kegiatan agama. Dalam salah satu buku lagu tertua di Jepang, “Manyoshu”, tertulis perkataan “shouji” (掃除)dalam sebuah lagu/doa (?), yang dibacakan atau didendangkan pada saat kekasih pergi supaya dia kembali dengan selamat. Kalimatnya adalah “oshouji o sinai” (tidak melakukan bersih-bersih) sampai “douzou go buji de” (semoga kembali dengan selamat), yang dihaturkan kepada Houkigami (箒神), atau Tuhan Sapu (orang Jepang menganggap bahwa di semua benda ada tuhan yang tinggal di situ).

Pada era Heian (akhir abad 8 sd 12), budaya bersih-bersih mulai meluas ke masyarakat awam. Namun, karena rumah orang awam sebagian besar adalah berlantai tanah, maka bersih-bersih hanya dipusatkan di dapur, dekat tungku memasak. Dalam sebuah lukisan dari periode Heian, digambarkan penggunaan alat-alat kebersihan dalam festival untuk mengusir atau menghalau hantu pengganggu atau hantu orang yang sudah mati. Maksudnya, kebersihan di sini juga bermakna kebersihan dari gangguan kejahatan makhluk.

Lalu memasuki masa Edo, yang sangat terkenal di dunia dengan keunikan kotanya. Kota-kota pada masa Edo terkenal dengan kekhasan budaya yang mereka kembangkan secara mandiri, misalnya sistem pengelolaan sampah dan daur ulang. Kalau kita baca sejarah, pada masa itu, Jepang yang wilayahnya sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara lain, harus menghemat dan menggunakan sebaik mungkin sumber daya alamnya dan material yang ada. Jadi, material dalam bentuk apapun harus didaur ulang, dan peralatan yang rusak harus diperbaiki dan dipakai kembali. Situasi seperti itu sangat lazim ditemui pada masa itu. Bahkan dikatakan bahwa pada masa itu, kasta pedagang (syokuakindo) memiliki usaha inti memperbaiki barang. Mereka juga punya usaha sampingan, yaitu jual beli barang baru juga melakukan jual beli tukar tambah. Sementara itu, selain para tukang reparasi yang handal, muncul pula usaha lain yaitu pengepul barang bekas, yang sangat beragam, termasuk kertas, pakaian bekas, lemak (minyak), abu, dan juga rambut. Dengan sistem pengepulan dan pengeloaan barang seperti itu, serta prinsip memanfaatkan barang-barang bekas pada masa Edo, maka benar adanya jika orang-orang Edo dijuluki sebagai orang yang sangat peduli lingkungan dan ekologinya.

Di dalam salah satu tulisan di blog ini saya pernah menuliskan tentang budaya Oosoji (bersih-bersih besar-besaran), yang selalu diselenggarakan menjelang tahun baru. Budaya ini juga bermula dari kegiatan yang dilakukan di kuil. Terkait dengan oosoji, di situs yang sama sebenarnya ada juga penjelasannya. Di lain waktu akan saya coba terjemahkan.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: