murniramli

Telur adalah kamu

In Renungan, SD di Jepang, Serba-Serbi Jepang on April 1, 2008 at 3:46 am

Bagaimana guru di sekolah mengajari anak tentang kesusahpayahan orang tua mengasuh mereka sejak kecil hingga dewasa ?

Seorang ibu guru di SD Tsuhasama, di kota Sanda, Hyogo prefecture (兵庫県三田市立狭間小学校) wali kelas 3, telah mengajari saya hari ini melalui siaran NHK tentang bagaimana mengajari anak tentang kasih sayang orang tua kepada anak.  Acara NHK ini berjudul `Tamago ga oshiete kureta koto` (yang diajarkan telur kepada kita)   disiarkan pada hari ini, 1 April 2008, jam 9.55 – 10.50 pagi.

Cara pembelajaran sebagai berikut :

Ibu guru menanyakan kepada anak-anak tentang telur.  Apa yang mereka bayangkan, pikirkan tentang telur.  Sebagian anak menjawab, telur adalah makanan yang tidak enak, ada yang menjawab telur adalah akachan (bayi), dan beragam jawaban yang lain.  Ibu guru kemudian dengan diskusi awal ini mengatakan sebuah statement yang membuat anak-anak terbengong : Telur adalah kamu (tamago ga jibun).

Kemudian Ibu guru menjelaskan maksud pelajaran hari ini, yaitu mereka akan belajar tentang ‘mencintai’ dan ‘dicintai’.  Sebagai bahan peraga, anak-anak diminta membuat telur-teluran dari bahan kertas yang dilunakkan dengan air sehingga menjadi seperti bubur kental, dalam bahasa Jepang disebut ‘kami nendo’.  Anak-anak kemudian membuat telur dan di dalamnya dimasukkan benda kecil yang dianggap sebagai bayi.  Ibu guru mempersilahkan mereka berkreasi dengan telurnya, baik dengan mewarnainya, menggambarinya dan beragam cara unik lainnya.

Selanjutnya Ibu guru mengatakan bahwa telur ini harus mereka anggap layaknya seorang bayi yang tengah menunggu dilahirkan.  Oleh karena itu, harus dibuatkan tempat/kotak yang baik untuk masa menunggu.  Anak-anak pun membuat kotak dari kertas yang berwarna dan model yang bermacam.

Ibu guru kemudian meminta anak-anak membawa pulang telur tersebut dan menjaganya dengan baik.  Lalu membawanya setiap hari ke sekolah.  Di rumah, beberapa anak memperlakukan telurnya seperti halnya orang tua yang memelihara anaknya.  Seorang anak blasteran Australia Jepang, bernama Tate kun, menaruh telurnya di atas meja belajar, di sebelah kotak musik yang sering diperdengarkan kepadanya ketika dia bayi.  Sambil mengerjakan PR, dia pun menyetel kotak musik tersebut dan mengalunlah musik lembut yang akan meninabobokkan bayi.  Menurut ibunya, sejak masih bayi, ibunya selalu membunyikan kotak musik itu dan Tate kun akan terlelap.

Seorang anak lagi membuatkan selimut rajutan kecil untuk telurnya, sebab ketika kecil barangkali neneknya membuat hal yang sama untuknya.  Tapi ada juga anak yang melempar-lemparkan telurnya seperti bola ketika berada di dalam kelas.  Ibu guru kemudian menanyai anak itu yang bernama, Mizutani kun, kenapa dia berlaku demikian.  Si anak tidak bisa menjawab.  Dan ibu guru kemudian menanyakan apakah ketika bayi, Mizutani kun juga diperlakukan seperti itu oleh ayah ibu ?

Karena tidak berhasil memperoleh jawabannya, ibu guru kemudian mengontak orang tua Mizutani kun dan menanyakan perihal ini. Ternyata Mizutani kun adalah anak tertua dari 4 bersaudara.  Karena kesibukan orang tuanya, di masa kecil dia hampir tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup baik dari orang tuanya.  Tapi ibunya teringat, bahwa untuk menjaga si bayi (orang Jepang punya jimat khusus untuk mamoru atau penjagaan), maka si Ibu selalu menaruh di dekat si kecil Mizutani kun, sebuah boneka teddy kecil.  Boneka kecil ini kemudian dimasukkan oleh ibunya ke dalam kotak telur Mizutani kun, dan di bawahnya dilapisi kapas untuk menghangatkan bayi dan penjaganya.

Pada hari berikutnya, Mizutani kun memperlihatkan kotaknya dan sepanjang hari dia tidak mau melepaskan dan menaruh kotak telur itu sembarangan.  Hari itu kebetulan dia bertugas untuk menyiapkan makan siang untuk rekan-rekannya, maka dia minta tolong seorang temannya untuk membawakan kotak tersebut.  Anak yang diminta pun dengan ikhlas membawanya kemana pun dia pergi dan menjaganya dengan baik.

Ibu guru kemudian menjelaskan seperti itulah ayah ibu mencintai mereka sejak bayi.  Menjaga mereka dengan penuh kasih sayang.  Kecintaan yang mulai tumbuh di dalam diri anak-anak kepada telurnya, seperti itu pulalah ayah ibu pelan-pelan tumbuh rasa cintanya kepada mereka.

Suatu hari terjadi kejadian yang menghebohkan di kelas 3.  Seorang anak menangis tertelungkup di lantai, karena telurnya pecah.  Tema ini kemudian diangkat oleh ibu guru sebagai topik tentang cinta.  Ibu guru menanyai anak-anak, jika seandainya bayi yang ditunggu-tunggu tidak jadi lahir, apa yang anak-anak rasakan ?   Sebagian besar anak menjawab sedih sekali. Seharusnya ayah ibunya lebih menjaganya dengan baik.

Setelah berlangsung kurang lebih sepekan, ibu guru melihat anak-anak mulai terbiasa membawa telur ke sekolah. Maka muncul ide untuk menanyai murid-muridnya tanggapan setelah merawat sepekan (o sewa ni natta koto).  Anak-anak menuliskan tanggapannya di kertas kecil, kemudian ibu guru meminta mereka maju ke depan membacakan tanggapannya.  Lalu ibu guru meletakkan kertas-kertas itu di sebuah lembar kertas besar dan mengelompokkan tanggapan dalam sebuah lingkaran besar.

Anak-anak menjawab dengan polos sekali.  Misalnya, karena saya selalu tidur cepat, maka saya tak sempat merawat telur, karena saya bermain terlalu banyak, jadi tidak ada waktu mengasuh telur dengan baik.  Seorang anak malah mengatakan ‘mendokusai kara’ (karena merepotkan), jadi dia tidak merawatnya. Ya, keharusan membawanya pulang pergi ke sekolah memang mendokusai.

Tapi, Ibu guru dengan cerdiknya menggiring anak-anak bagaimana mereka, walaupun sejak kecil sangat merepotkan orang tua, tapi semua orang tua tidak mengeluh dan tidak berhenti merawat mereka. Seorang anak yang duduk di belakang mengusap-usap matanya yang berair mendengar penjelasan ibu guru.

Bagian terakhir dari pelajaran telur adalah Ibu guru meminta anak-anak untuk berpisah selama seminggu dengan telurnya.  Mereka diharuskan meletakkan telur jauh dari rumah mereka.  Sebagian anak menangis sedih karena sudah merasa cinta dengan telurnya dan tidak mau berpisah.  Tapi Ibu guru ingin mengajarkan mereka bagaimana sedihnya ayah ibu ketika anak-anaknya, pada saat dewasa harus berpisah dengan mereka.

Sebuah pelajaran yang berharga sekali yang tidak hanya mengajari anak bahwa kalian harus mencintai ayah ibu karena bla bla bla…setumpuk penjelasan yang tiada dapat dimengerti anak.  Tapi pengalaman menjadi ‘orang tua’, merasakan bagaimana mencintai dan dicintai oleh orang tua, sungguh merupakan didikan yang berharga bagi anak yang tak akan lapuk ditelan usia.

Iklan
  1. Hmm, satu lagi posting yang menyegarkan.

    Beda cara pengajaran di Jepang ini adalah : pemahaman yang dalam terhadap subyek materia-nya sehingga bisa fleksibel dalam tahapan praktek dan penjelasannya.

    Perkara telur jatuh dan pecah….Apa bisa kita berempati sejauh itu juga kepada anak-anak murid kita?…hehehe.

  2. Sayang, kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah kita pada umumnya cenderung mengutamakan aspek kognitif dan melupakan aspek afektif.

    murni : mari kita mulai mengingat kembali aspek afektif itu, Pak dan menerapkannya tdk hanya di sekolah

  3. hampir setiap artikel di sini penuh motivasi dan refleksi diri serta disajikan dengan rangkaian kata yang indah.
    saya sering dipaksa untuk mengulangi lagi membaca dari awal, karena sangat bagus. Berusaha meniru gaya menulis seperti ini ternyata tidak udah.

    Konbanwa

    murni : wah, Pak Budi terlalu memuji.
    Mengulang membaca dari awal itu bisa bermakna macam2, Pak 😀
    Bisa krn tulisannya kepanjangan (dan saya rasa memang tulisan kali ini kepanjangan), bisa juga cerita yg ditulis ngga nyambung dari awal ke akhirnya.
    terima kasih atas kunjungannya, Pak

  4. waduh jadi makin terpacu, selama ini saya sering bercerita dari milis resonansi, kegiatan sebagai guru di sma negeri 8 jakarta, guru bk, membuat saya harus banyak bercerita kepada para siswa. Hari ini saya dapat satu sumber lagi. Terima kasih bu murni. Saya tertegun bermenit-menit mengulang-ngulang ini cerita, hehehehe, hebat, suatu hal yang amat berharga.

  5. assalmu;alaikum….mba’…
    wah…saya jadi terinspirasi buat nantinya saya bisa jadi seorang guru yang tidak hanya mengajarkan materi namun lebih dari itu…. bagaimana mengajarkan makna materi tersebut dan mengkorelasikannya dengan kehidupan…
    Jadi lebih bersemangat nih mba’….
    wassalam…

  6. cantiknya cerita ini mbak murni…

    murni : ya, Ibu Guru Jepang itulah yang membuatnya cantik. Cerita-cerita mbak tia juga cantik2…
    terima kasih atas kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: